Generasi Muda di Permukaan Kolam Uang Paman Gober

Siapa yang bilang bahwa uang tidak bisa membeli segalanya? Kalau Anda penggemar sepakbola dan mengikuti perkembangan sepakbola Eropa, maka Anda pastilah sudah mendengar kabar keberhasilan Paris Saint-Germain (PSG) memenangkan liga Perancis untuk keenam kalinya sejak didirikan pada 12 Agustus 1970 silam. Hebatnya lagi, PSG berhak menyandang gelar terbaik di tanah Perancis tersebut ketika liga masih menyisakan delapan pertandingan. Keberhasilan ini tak bisa dilepaskan dari gelontoran duit yang dikeluarkan oleh Nasser Al-Khelaifi.

Kau Tetap di Sini

Aku tak ingat lagi sudah berapa lama sejak kau tertangkap pandangan mata dan merasuk ke dalam pikiran.
Aku tak ingat lagi kapan kau tetap diam di salah satu rongga kepalaku dan tetap mengganggu pikiranku.
Aku tak ingat lagi mengapa kau begitu menarik hati sehingga aku menjatuhkan pilihan kepadamu.
Aku tak ingat lagi alasan apa yang membuatku begitu memujamu.

Yang aku ingat, aku terjebak di dalam tatapanmu saat itu.

Kita berdua saling begandengan sambil melupakan masa lalu.
Kita berdua berjalan saling beriringan meninggalkan jejak cerita.
Kita berdua akhirnya sampai di titik di mana kita akan melanjutkan ke tahap berikutnya.
Kita berdua adalah sepasang manusia yang berbahagia.

Kau tetap setia menjalani ini semua.

Meskipun aku adalah laki-laki yang penuh amarah.
Meskipun aku adalah laki-laki yang penuh kesedihan.
Meskipun aku adalah laki-laki yang penuh dendam.
Meskipun aku adalah laki-laki yang penuh ketidaksempurnaan.

Dan waktu pun terus berjalan,

Tak sedikit yang mempertanyakan keputusanmu untuk menggandeng tanganku.
Tak sedikit yang mencibirkan bibirnya melihat kau dan aku berjalan beriringan.
Tak sedikit yang mengerutkan dahinya, mendengar bahwa kita akan melanjutkan hubungan ini ke tahap berikutnya.
Tak sedikit yang marah hanya karena kita terlihat bahagia.

Kau tetap ada di sini, bersamaku.

Terima kasih atas semuanya.

Negara Semenjana Bernama Kosta Rika

“Kuda hitam” adalah sebuah julukan yang diberikan kepada sebuah tim yang dipandang memiliki potensi untuk memberi kejutan atau mengganggu dominasi tim-tim besar di dalam sebuah turnamen. Bahkan secara tidak langsung, pemberian julukan tersebut merupakan sebuah pengakuan atas potensi dari sebuah tim, meski secara tidak langsung juga menggambarkan status underdog-nya.

Di Piala Dunia 2014 ini, sebagian analis sepakat untuk menyematkan predikat tersebut kepada Uruguay. Alasannya cukup sederhana, karena selain memiliki barisan pemain top yang berlaga di liga-liga Eropa. Tetapi jangan lupakan prestasi tim Amerika Selatan ini pernah memenangi Piala Dunia edisi tahun 1930 dan 1950. Dengan barisan fakta yang mentereng tersebut, tak ada alasan bagi Inggris dan Italia untuk tidak mewaspadai Uruguay yang bergabung di dalam grup neraka.

Sayangnya, grup di setiap Piala Dunia tidak diisi oleh tiga tim saja, melainkan empat. Selain negara-negara besar barusan, masih ada Kosta Rika yang berhasil lolos dari babak penyisihan grup zona Concacaf bersama Amerika Serikat, Honduras, dan Meksiko. Tak ada yang memperhitungkan kekuatan dari tim-tim yang berasal dari wilayah Amerika Tengah dan Utara. Mereka adalah negara kelas dua di ranah persepakbolaan dunia.

Skuat Uruguay memiliki striker mematikan di diri Edinson Cavani dan Luis Suarez, jaminan paten lini belakang dari Diego Lugano, serta penghancur lini tengah lawan Walter Gargano. Nama-nama tersebut tentunya memiliki kualitas di atas Joel Campbell, Bryan Ruiz, Diego Calvo, dan Oscar Duarte. Penggemar EPL mungkin saja mengenal Campbell sebagai pemain Arsenal dan Ruiz yang membela Fulham. Tetapi siapa dua nama yang disebut terakhir? Tidak ada yang mengenalnya, kecuali 4,6 juta penduduk Kosta Rika.

Tetapi sebuah kejutan pun terjadi. Nubuat para nabi tak terjadi. Kosta Rika yang diperhitungkan bakal menjadi korban bullying di grup ini tampil dengan gagah berani. Tiga gol bersarang di gawang Fernando Muslera menjadi bukti perlawanan keras dari mereka yang kerap dianggap anak bawang. Hal ini berhasil membuka mata para penonton bola, bahwa deretan nama besar dan sejarah mengkilap tak menjamin kualitas permainan sebuah tim.

Dari segi permainan, Uruguay memang berhasil menguasai pertandingan dengan penguasaan bola hingga 56%. Sayangnya penguasaan tersebut tidak didukung oleh kualitas mengumpan bola. Uruguay hanya berhasil mengirimkan76%  bola matang, sedangkan Kosta Rika unggul dengan 78% umpan matang. Perbedaan tersebut memang tipis, tetapi Kosta Rika mampu memanfaatkan peluang dengan lebih efektif.

Dari 13 shot yang dilepaskan Kosta Rika, 4 di antaranya merupakan shot-on-target, dengan keberhasilan mencetak tiga gol. Bandingkan dengan Uruguay yang melepas tembakan sebanyak 9 kali, degan hanya 3 shot yang mengarah ke gawang. Lebih gilanya lagi tidak ada satu pun tendangan yang dilepaskan di area 6-yard-box. Berbeda dengan Kosta Rika yang 23% tendangannya dilakukan di area tersebut.

Hasilnya tentu sudah bisa pembaca simak di berbagai media massa: “Uruguay Ditaklukan Negara Semenjana”. Campbell, Oscar Duarte, dan Marco Urena membuat Luis Suarez seolah ingin segera menggigit salah satu dari pemain Kosta Rika. Tangannya mulai bergerak-gerak resah, gatal ingin memblok bola yang mengarah ke gawangnya, seperti yang pernah ia lakukan kala melawan Ghana beberapa waktu silam. Uruguay bertransformasi dan terjebak dalam frustasi. Puncaknya adalah ketika Maxi Pereira diminta wasit untuk segera berkontemplasi memikirkan pelanggarannya usai menendang tulang kering dari siapa-itu-namanya-saya-tidak-kenal.

Tepat setelah insiden tersebut, sang pengadil langsung meniup peluit panjang. Pertandingan pertama di grup neraka berakhir. Kapten Lugano tak bisa menahan keringat getir yang mengalir di wajahnya. Atas kejutan tersebut komentator di TV mengatakan: “Inilah Piala Dunia”, meski perkataan tersebut kurang tepat. Ini bukanlah sekedar Piala Dunia. Ini adalah Kosta Rika.

Lupakan kemenangan fenomenal Belanda atas Spanyol.


Costa Rica has stolen the attention.


Football is Coming Home

Menjelang detik-detik pembukaan Piala Dunia 2014, sebagian masyarakat Brazil dikabarkan kembali tumpah ke jalanan. Bukan untuk memberikan sambutan atas pesta akbar tersebut, tetapi untuk memprotes penyelenggaraan even empat tahunan tersebut. Para demonstran itu (masih) mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap lebih memilih untuk menghambur-hamburkan duit hanya untuk membangun stadion, ketimbang “memberi makan” rakyatnya sendiri.

Pemerintah Brazil pernah berjanji untuk mengamankan even bersejarah ini. Wajar saja, karena Brazil tak ingin kehilangan kehormatannya sebagai “Negerinya Sepakbola”. Hal tersebut terlihat jelas dari penuhnya stadion Arena De Sao Paulo yang tampak dikuasai oleh massa berbaju kuning, dengan minoritas berbaju kotak-kotak putih-merah (saya melewatkan acara pembukaan Piala Dunia 2014 yang diisi oleh Jenifer Lopez alias J-Lo, Pitbull, dan artis lokal Claudia Leitte, karena sama sekali tidak tertarik dengan hiburan sampingan medioker).

Massa berbaju kuning tersebut tentunya bukanlah massa dari salah satu partai politik yang memiliki ketua umum yang doyan memeluk Teddy Bear. Massa berbaju kuning tersebut adalah mereka yang telah siap untuk berteriak, “Football is coming home!”. Pulangnya sepakbola ke tanah kelahirannya (persetan dengan Inggris) ditandai oleh gemuruhnya stadion kala national anthem “Hino Nacional Brasileiro” dimainkan. Saya belum pernah menemukan sebuah atmosfer yang membikin bulu kuduk berdiri dan air mata haru menetes, kecuali saat menyanyikan “Indonesia Raya” di Gelora Bung Karno. Sebuah atmosfer yang akan membuat lutut siapa pun gemetar ketakutan.

Tetapi ada satu hal yang sangat menarik di pertandingan tersebut. Pihak penyelenggara mengawali partai pembuka tersebut dengan melepas tiga ekor burung merpati putih. Tanpa harus mendengar pendapat dari komentator di  televisi, kita pun sudah mengerti bahwa burung merpati adalah lambang dari perdamaian. “Di dalam lapangan mereka boleh bertarung memperebutkan kemenangan, tetapi nilai-nilai sportivitas tetap harus dijunjung tinggi,” ucap sang komentator.

Tidak ada yang salah dari komentar barusan, tetapi saya merasa bahwa tiga burung merpati ini tidak hanya ditujukan untuk 22 gladiator di lapangan hijau. Tiga simbol perdamaian tersebut seolah-olah membawa pesan bahwa sepakbola adalah pembawa damai di muka bumi ini. Sepakbola adalah sepakbola. Bukan sekedar cabang olahraga, tetapi lebih kepada seni pertunjukan dengan 22 orang seniman di dalamnya. Sejatinya sebuah pertunjukan diselenggarakan untuk  menghibur para penonton, baik yang ada di dalam, di luar, maupun mereka yang menontonnya di depan TV sambil memakan kacang kulit di belahan bumi yang lain.

Terlepas dari demonstrasi yang terjadi lama setelah Brazil resmi ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014, football is coming home, sepakbola tengah kembali pulang ke pangkuan bundanya (lagi-lagi, persetan Inggris dengan segala klaimnya soal negara asal sepakbola). Seorang anak yang pulang wajib disambut dengan pelukan gembira dan penuh rasa bangga. Sambutan tersebut terlihat jelas saat Neymar Jr. mencetak gol penyama kedudukan. Saya yakin hampir semua warga Brazil melompat dan mengepalkan tangannya ke udara.

Keresahan masyarakat Brazil atas kebijakan pemerintah dan juga FIFA (baca: Sepp Blatter) terlupakan sejenak. Kegembiraan para penganut agama sepakbola di seluruh dunia baru dimulai. Pecinta sepakbola Brazil pun kembali jejingkrakan kala Oscar menutup laga dengan sebuah gol visioner hasil dari sepakan kaki kanannya.

Football is coming home..!! Let’s celebrate.


Kesetiaan dan Pengabdian Jason Statham Terhadap Genre Action

Tulisan ini adalah tulisan pertama semenjak terakhir kalinya saya nge-blog. Tertundanya keinginan untuk meng-update situs blog ini salah satunya dikarenakan oleh kekurangan topik bahasan dan yang paling utama adalah, rasa MALAS. Tapi tiba-tiba di kepala saya terbersit sebuah ide untuk menuliskan sebuah artikel yang membahas soal loyalitas dan pengabdian, namun dari sisi seorang bintang film, aktor kenamaan Hollywood yang sukses berkecimpung di genre action movie.

Nama aktor yang saya bahas atau setidaknya saya jadikan tolok ukur pengabdian adalah Jason Statham. Ia adalah seorang aktor asli Inggris yang dilahirkan di kota Shirebrook, 46 tahun yang lalu. Selain aktor, Statham adalah seorang praktisi ilmu atau seni bela diri. Bahkan menurut beberapa sumber, ia sempat akan masuk ke kompetisi UFC (Ultimate Fighting Competition), sebuah kompetisi Mixed Martial Arts (MMA) yang saat ini tengah naik daun.



Singkat kata, Statham pertama kali mencuri perhatian saya kala ia bermain film Lock, Stock, and Two Smoking Barrels. Perannya di film tersebut memang belum terlihat mencolok. Ia juga belum memamerkan kehebatannya dalam bertarung. Namun sosok sebagai seorang jagoan benar-benar terlihat kala ia bermain film The Transporter. Di film tersebut, ia berperan sebagai Frank Martin yang hebat sebagai juru mudi, dan juga ahli dalam bertarung. Mulai saat itulah, Jason Statham resmi menjadi salah satu bintang film idola saya.

Kesuksesan The Transporter secara otomatis membuat karir Statham terbilang naik, meski tidak terlalu menanjak. Wajar, karena aktor yang kini memacari Rosie Huntington-Whiteley ini lebih memilih untuk bermain di film-film kelas B. Sebut saja Crank, War, In the Name of the King, dan juga Death Race. Kesemuanya tidak masuk ke dalam daftar box office. Namun patut diakui, film-film tersebut cukup mencuri perhatian (kecuali In the Name of the King yang menurut saya ancur-ancuran dari segi apa pun).



Statham pun kini memiliki label baru: “Aktor Action Terbaik Kelas B”. Bagi sebagian kalangan, label tersebut tentunya sangat tidak mengenakkan. Siapa sih yang ingin dilabeli aktor kelas B? Siapa juga yang tidak ingin menjadi populer dan meningkatkan level ke kelas A? Meskipun mungkin banyak pertanyaan sejenis barusan mampir ke telinga Statham, nyatanya ia tetap setia.

Statham tak seperti Dwayne “The Rock” Johnson yang terjun ke dunia film dan bermain di film “aneh” seperti Tooth Fairy. Statham juga bukan Vin Diesel yang memiliki modal terbaik untuk menjadi bintang film action Hollywood, tapi malah bermain di The Pacifier yang ditujukan untuk anak-anak. Statham adalah Statham. Meski kemungkinan besar Statham memiliki pendapatan yang lebih kecil dibandingkan kedua bintang barusan, ia terus setia untuk bermain di film ber-genre action. Ia seolah tak ingin merusak karir yang telah dibangunnya.

Kesetiaan terhadap genre action tersebut akhirnya membuatnya menjadi salah satu tokoh sentral terbaik di perindustrian film barat saat ini. Banyak penggila film action yang mengidolai Statham saat ini. Bahkan, tak sedikit yang terang-terangan “mengabdi” pada pria kelahiran 26 Juli ini.

Gue selalu menikmati film-filmnya Statham, apapun itu,” salah seorang teman saya mengungkapkan pengabdiannya kepada sang aktor Inggris. “Terakhir, gue nonton film Homefront. Agak nggak realistis memang, karena logat Statham yang masih kentel Bristish, but who cares? I enjoy the fights!

Statham pun juga tak segan memilih beberapa peran yang terbilang kecil di beberapa film. Sebut saja The One yang mendapuk Jet Li sebagai tokoh utamanya, atau The Expendables yang perhatiannya terpusat pada sosok Sylvester Stallone. Statham dengan rela hati menyisihkan dirinya untuk menjadi peran pembantu di kedua film tersebut yang secara garis besar akan mudah dilupakan oleh orang banyak.

Entah kerendahan hati atau memang butuh duit untuk makan, tetapi Statham nyatanya tetap ogah untuk mencoba hal-hal lain, seperti berperan dalam sebuah film komedi atau drama, setidaknya hingga detik ini. Namun kesetiaan sang mantan atlet terjun indah ini di genre action pantas mendapatkan applause.



Berkat kesetiaannya itu pula, sang aktor menjadi tokoh action Hollywood terbaik di era modern saat ini. Tak sedikit yang mengatakan bahwa Jason Statham adalah Chuck Norris baru yang juga lebih suka mengabdi di dunia perfilman kelas B.

Suka atau tidak, Jason Statham adalah salah satu sosok yang bisa menjadi contoh bahwa pengabdian dan kesetiaan akan membuahkan sebuah popularitas tersendiri, namun jauh dari hingar-bingar para kaum yang hidup di kelas A.

Lambang Privilise Lewat Sirine


Jaman gue kecil, gue selalu tertarik dengan yang namanya film action. Kebanyakan yang gue tonton adalah film-film action yang sangat ngejual adegan tembak-tembakan. Seperti layaknya sebuah film action, hampir kebanyakan bertemakan perang antara si jahat dan si baik. Selain itu, di film tersebut juga (hampir) selalu melibatkan aparat keamanan, khususnya polisi.

Di hampir semua film yang gue tonton, polisi akan selalu dateng dengan menggunakan mobil yang dilengkapi dengan sirine dan lampu berwarna biru-merah. Di saat itu juga, gue sadar bahwa dengan menggunakan sirine, polisi bisa ngasih peringatan buat orang-orang di sekitarnya untuk minggir ke tepi jalan dan memprioritaskan jalanan untuk pihak penegak hukum. Tujuannya jelas, supaya mereka bisa tiba di tempat kejadian perkara dengan cepat.

Kini, sirine seolah bergeser maknanya. Di kota Jakarta tercinta, sirine justru sudah menjadi barang yang tidak sekedar berharga, tapi juga mempunyai nilai yang tinggi. Dengan memilikinya di dalam kendaraan, kita seolah telah mampu memiliki sebuah nilai tersendiri dan patut menjadi sebuah prioritas, terutama kala menghadapi lalu lintas di jalanan Jakarta.

Baru-baru ini, gue secara kebetulan berpapasan dengan iring-iringan kendaraan milik Cagub DKI Jakarta. Cukup mewah memang, dengan menggunakan sebuah van bikinan Lexus dan satu Alphard hitam yang menggunakan kaca film gelap. Bukan hal yang istimewa memang, tapi yang ngebuat gue sedikit kesel adalah penggunaan sirine yang menurut gue pribadi sedikit mengganggu.

Entah apa tujuan dari penggunaan sirine tersebut. Lalu lintas di depannya juga gak macet-macet amat. Hampir gak ada mobil dan motor di jalanan tersebut. Terlebih lagi, gak ada kemacetan atau tumpukan kendaraan yang menyebabkan kemacetan di jalan raya tersebut. Jadi, atas dasar apa mobil dengan gambar stiker cagub kumisan tersebut nyalain sirine di tengah-tengah jalanan sepi?

Gue menyempatkan diri untuk nanya ke mbah Google mengenai aturan penggunaan sirine. Alhasil, mbah Google gak mengecewakan gue. Gue menemukan cukup banyak blog yang menuliskan peraturan-peraturan penggunaan sirine. Buat lebih jelasnya, gue coba kasih beberapa aturan yang gue dapet dari situs resmi TMC Polda Metro Jaya.

Penggunaan sirine sudah diatur di dalam UU Nomor 14 tahun 1992 dan Pasal 72 PP Nomor 43 tahun 1993 yang membahas tentang Prasarana dan Lalu lintas. Dengan jelas, peraturan tersebut menyatakan bahwa isyarat peringatan dengan bunyi berupa sirine hanya dapat digunakan oleh:
  1. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas, termasuk kendaraan yang diperbantukan pemadam kebakaran. Ambulans yang sedang mengangkut orang sakit.
  2. Kendaraan jenazah yang sedang mengangkut jenazah.
  3. Kendaraan petugas penegak hokum tertentu yang sedang melaksanakan tugas.
  4. Kendaraan petugas pengawal kendaraan KEPALA NEGARA atau Pemerintah Asing yang menjadi tamu negara.
Peraturan tersebut semakin ditegaskan lewat Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1993 Tentang Kendaraan dan Pengemudi. Di Pasal 66 disebutkan bahwa lampu isyarat berwarana biru hanya boleh dipasang pada kendaraan bermotor:
  1. Petugas penegak hukum tertentu.
  2. Dinas Pemadam Kebakaran.
  3. Penanggulangan Bencana.
  4. Ambulans.
  5. Unit Palang Merah.
  6. Mobil Jenazah.

Peraturan di atas dilengkapi dengan aturan di pasal 67 yang menyebutkan bahwa lampu isyarat berwarna kuning hanya boleh dipasang pada kendaraan bermotor
  1. Untuk membangun, merawat, atau membersihkan fasilitas umum.
  2. Untuk menderek kendaraan.
  3. Untuk pengangkut bahan berbahaya dan beracun, limbah bahan berbahaya dan beracun, peti kemas dan alat berat.
  4. Yang mempunyai ukuran lebih dari ukuran maksimum yang diperbolehkan untuk dioperasikan di jalan.
  5. Milik instasi pemerintah yang dipergunakan dalam rangka keamanan BARANG yang diangkut.

Salah satu mobil polisi dengan lampu sirinenya
Dari yang gue baca di peraturan-peraturan tersebut, gue sama sekali gak menemukan kalimat bahwa “Cagub Boleh Menggunakan Sirine”. Buat lebih jelasnya, cuma iring-iringan Kepala Negara yang diperbolehkan untuk menggunakan sirine. Selain itu, kendaraan milik instansi pemerintah yang lagi mengangkut BARANG tertentu diperbolehkan untuk menyalakan dan menggunakan sirine berwarna kuning.

Jadi, selain kendaraan-kendaraan yang ada di dalam peraturan, kayaknya gak ada lagi kendaraan yang boleh menggunakan sirine.

Sirine bukan alat untuk melambangkan privilise semata, juga bukan dijadikan sebagai lampu untuk mengusir orang-orang atau kendaraan-kendaraan yang menghalangi perjalanan. Sayangnya, mayoritas orang “penting” dan berduit sudah menggunakan lampu dan bunyi-bunyian sirine sebagai lambang untuk menunjukkan eksistensi, sekaligus sikap arogan.

Miris kalo melihat Jakarta masih dan akan tetap dikuasai oleh orang-orang kayak gitu.

Sekali Lagi

Sekali lagi… dan lagi-lagi…
Logika dan perasaan ini beradu hebat
Ketika di saat aku rapuh dan butuh sebuah tempat mengaduh
Terduduk sendiri sambil menyesap cairan herbal hangat pahit di atas kasur tertutup sprei putih
Sesekali menghisap sebatang rokok yang hampir terbakar habis
Aku seharusnya merasa senang saat kau dengan penuh perhatiannya mengingatkanku
Jangan lupa makan
Jangan lupa minum obat
Istirahat, jangan kecapekan
Namun, entah aku malah semakin merasa sesak
Sebuah perasaan bergantung-gantung di atas kepalaku
Tangan dan persendian tiba-tiba hilang kendali
Gemetar… entah karena marah atau sudah terlalu lelah menahan beban tak terlihat
Ini bukan pertama kalinya, bahkan bukan kedua kalinya
Ini kesekian kalinya aku harus menahan mulutku untuk tak mengeluarkan teriakan “LUPAKAN DIA..!!”
Tapi tidak. Kau menyayanginya walau kau ragu apakah dia menyayangimu.
Aku menyayangimu walau kau tak tahu sedalam apa aku telah berkubang dalam lumpur biadab ini
Sudahlah…
Setidaknya kau tahu

Keabadian Kepatuhan

Jikalau engkau mampu mengingat, aku hadir di setiap peristiwa penting hidupmu.
Aku hadir di saat pertama kali engkau memasuki tahun pertama sekolahmu.
Aku hadir di saat kelulusan kuliahmu.
Aku hadir di saat pernikahanmu.
Aku hadir di saat engkau harus memakamkan orang tuamu.
Kini, aku hadir di sampingmu, menemanimu dengan setia di samping tempat tidur.
Aku tetap hadir di sini, walau terkadang engkau melupakan keberadaanku.

Wajahmu terlihat tua, keriput yang semakin terlihat.
Namun aku masih mengenalmu, tidak hanya sekedar wajah.
Terlihat semangat mulai meredup seiring tahun yang berlalu.
Seolah tak adil, roda waktu terasa terlalu cepat berputar.
Menggilas semua bara api kehidupanmu, namun gagal menghilangkan gairahmu.
Sayang... Badanmu sudah tak mampu menampung luapan gairah.
Engkau terlalu renta.

Janganlah takut, Kasih.
Aku tetap di sini.
Garis waktu takkan mampu menghilangkanku dari sisimu.
Aku ditakdirkan untuk selalu ada demi engkau, wahai makhluk termulia.
Engkau patut bahagia, penuh impian.
Aku patut terdiam, patuh.

Engkau patut mendapatkannya, alam semesta.
Aku patut terdiam....

Patuh...

Masih Rapuh

Di bawah hamparan cahaya kuning temaram, gue terduduk merapatkan punggung ke tembok putih yang tertutup lembaran-lembaran poster. Gue masuk, terjebak mungkin lebih tepat, dengan situasi aneh yang belum pernah gue alami sebelumnya. Pengalaman gue yang terdahulu sudah mengajarkan untuk tidak terlalu berharap banyak dan terlalu mempercayai perasaan yang kerap menutup logika. Dulu harapan-harapan itu gue bentuk sendiri. Gue membuatnya dari awal, yang perlahan-lahan akan menjadi bangunan kokoh. Namun kerap kali pula bangunan itu masih setengah terbangun dan gue harus menghancurkannya. Rata dengan tanah. Terkadang gue harus hentikan kala dia masih rapuh, hanya supaya mudah gue rubuhkan sampai tak tersisa bahkan puing-puingnya yang terkecil. Gue selalu mempersiapkan hati dan diri untuk menerima segala keadaan.

Sekarang gue menghadapai sebuah masalah (bukan masalah mungkin, tapi lebih kepada dilematika yang terus kebawa mimpi) yang sedikit mempengaruhi segala persepsi gue sedari awal. Pertama-tama gue udah memutuskan untuk tidak membangun sebuah fondasi di tempat tersebut. Gue sedikit, bisa dibilang, terobsesi untuk menempatkan sebuah tiang pancang besar di tempat lain. Namun setelah tiang pancang tersebut berdiri dan payung harapan mulai berkembang, tanpa gue sadari seseorang telah masuk ke salah satu ruang kosong tanpa izin. Di sana, sosok tersebut mulai membangun sebuah harapan maya. Gue masih ragu untuk bisa menyebutnya nyata. Keraguan ini muncul karena tidak adanya fondasi yang mengikat dasar harapan tersebut. Ibarat seperti tenda yang Cuma menancapkan pancang-pancangnya yang pendek ke dalam pasir. Tapi, gue memutuskan untuk meneruskan sebangun harapan tak berfondasi ini.

Ikatan-ikatan kecil yang terjalin mulai merapatkan gue. Sebuah perasaan yang gak tau darimana datangnya semakin menyesakkan dada, namun terasa sedikit menusuk jantung. Luka-luka kecil seolah menjadi penanda, tapi gue menganggap itu adalah pertanda. Gue lagi-lagi harus menyiapkan segala kemungkinan. Ekspektasi baik dan buruk udah ada di kepala dibarengi dengan akibat-akibatnya di depan mata.

Sepeda Pinjaman

Dan aku menganggap relung di hati telah terisi
Kehampaan yang menjadi pengharapan kupikir telah terganti
Sejumlah pesn yang terkirim lewat heningnya udara kumaknai
Sejumput harapan kupetik dari waktu yang terasa takkan terganti.

Pertemuan yang teriring dengan lagu-lagu cerita
Semilir angin malam nan dingin tak menhentikan ayunan kakiku
Sepeda pinjaman itu terus berlari di atas aspal yang kering akibat kemarau
Ditemani lampu-lampu sepeda motor yang terus menerus menyusul selagi aku berjalan di pinggiran trotoar
Nafas yang masih teratur berharmoni dengan jantung yang telah bekerja sedemikian cepat
Lelah kuabaikan sudah hanya untuk bertemu dia.

Aku menunggu kedatangannya di komplek gereja.
Sembari melepas lelah, sebatang rokok yang tersisa tadi siang kuhisap dalam-dalam.
Dan terlihat sudah bayangannya yang berjalan
Sinar lampu jalan nan temaram semakin memperjelas sosoknya
Masih lelah namun memperlihatkan keindahan senyuman

Aku pun tenggelam dalam tawa-canda
Pribadi yang indah dan suaranya yang khas seolah tertanam dalam segenap memori
Aku kecanduan dengan hadirnya

Sampai aku melihat wajah lelaki itu terpampang serasi di sampingnya
Gambar yang mampu meredam segala gejolak yang telah aku pikul
Terdiam sejenak, senyumku menghilang perlahan
Hening
Aku kembali mengayuh sepeda pinjaman itu
Hening dan tak lagi bergejolak

Hening...

Untitled Utopia

Masing-masing dari kita tentu percaya bahwa ada “sesuatu” di balik segalanya. Selalu ada hubungan sebab dan akibat di kehidupan kita. Kita percaya kalo seluruh tataran angkasa dan jajaran planet serta sebaran bintang-bintang ini diciptakan oleh sebuah “Maha Elemen”. Kita juga tentu percaya kalo daging yg akan membusuk ini diisi dengan jiwa dan roh oleh “Maha Sesuatu” pula. Dan sampai detik ini, beberapa orang di seluruh belahan dunia pasti setuju kalo Maha Elemen dan Maha Sesuatu itu punya sebutan “Tuhan”.


Para ilmuwan di luar sana sudah mencoba segala cara utk menjadi (setidaknya menyamai) Sang Maha Elemen tsb. Dan sekarang gue udah menemukan cara yg lebih simpel utk jadi Tuhan.


Menulis adalah cara lo menjadi Tuhan. Kata-kata yg kita rangkai menjadi kalimat akan semakin tersusun dan membentuk sebuah “dunia” baru. Cerita yg berisi tokoh2 yg dgn leluasanya lo bentuk sendiri. Lingkungan yg dgn semaunya bisa lo tentukan seenak jidat. Tokoh di dunia lo adalah keputusan prerogative lo. Lo yg membentuknya dari awal, lo pula yg menghembuskan jiwa ke dalamnya. Dunia yg masih kosong berwarna putih lo bentuk perlahan-lahan dan menjadi keputusan lo utk menjadikan bentuk akhirnya. Takdir para tokoh di dalam cerita. Kelahiran, kematian, pertemuan, perpisahan, kebahagian, kemunafikan. Lo yg berkuasa di dunia itu. Alur cerita yg lo susun sendiri. Awal terbentuknya cerita sampai akhirnya, semua ada di jemari lo.


Sayangnya, gue sering banget gagal nyelesain dunia gue. Kadang dunia bentukkan gue terlalu sempurna. Sebuah utopia. Tanpa kenegatifan. Tokoh yg gue buat seringkali terlalu perfect utk menjadi nyata. Dan akhirnya seringkali gue iri dan cemburu dgn mereka. Karna terlalu sempurna, akhirnya gue memutuskan utk membunuh mereka tanpa mereka tahu apa yg akan terjadi di akhir jalan cerita.
Dunia gue yg terlalu sempurna terbengkalai gitu aja. Mereka udh terbentuk dgn rapinya, tapi sayang terlalu sempurna. Kesempurnaan memang gak bisa didiamkan. Harus ada sebuah noda di dalam dunia sehingga dia tetap berjalan. Mereka bilang itu adalah keseimbangan. Tapi pribadi ini bilang bahwa itu adalah satu-satunya cara gue menelisik lebih dalam, berpeluk lebih menyatu dengan-Nya.


diambil dari: tovalzky.tumblr.com

Uneg-uneg Sepakbola Awam


Kemarin (Selasa malam, 6 September 2011) gue menyempatkan diri buat nonton pertandingan Indonesia melawan Bahrain via televisi di ruang tamu rumah gue disertai dengan perasaan miris. Miris karena ternyata timnas Indonesia tidak bermain sesuai dengan harapan gue pribadi. Awal-awal babak pertama para pemain Indonesia terlihat mempunyai determinasi tinggi, terus-menerus menyerang pertahanan Bahrain. Keliatan jelas Bahrain sedikit kerepotan menjaga daerah pertahanannya. Tapi lama-kelamaan, gak tau kenapa, determinasi tersebut surut perlahan-lahan. Para pemain mulai kehilangan fokus dan kehilangan kontrol. Penguasaan lini tengah mulai terlihat kendor dan malahan kosong sama sekali. Dulu ada pepatah yang bilang kalo nyawa/roh permainan sepak bola ada di lapangan tengah. Ahmad Bustomi yang kala itu berduet bareng Firman Utina gagal, walaupun gak sepenuhnya, menjadi jangkar buat tim. Tiga gelandang serang di depan mereka berdua terpaksa berjuang sendirian. Boaz memang seringkali melakukan penetrasi ke sayap lawan lewat umpan lambung dari lini belakang. Tapi kerap gagal karena tidak ada dukungan dari belakang. M. Ridwan yang berposisi sebagai penyerang sayap pun acap kali bentrok dengan pemain lawan tanpa tersokong. Giliran Bambang Pamungkas yang berposisi sebagai second-striker yang terus mendera gawang Bahrain lewat tendangan dari luar kotak penalti. Sundulan kepalanya hasil umpan brilian Boaz dari sayap kanan juga menerpa sisi gawang Sayed Jaffer.

Otomatis gue akan membandingkan timnas saat berada di rezim Alfred Riedl. Penumpukkan lini tengah dengan empat pemain yang dikomandoi Firman Utina nyatanya berhasil menyeimbangkan kinerja tim. Kala itu Riedl berpendapat bahwa tidak ada pemain Indonesia yang mempunyai skill seperti pemain-pemain tengah Arsenal atau Barcelona, maka itu dia mengandalkan serangan dari sayap. Kiri dikuasai Okto Maniani sedangkan kanan dipegang M. Ilham. Gelandang tengah dijaga duet Firman Utina dan Ahmad Bustomi. Bek sayap kala itu adalah M. Nasuha dan Zulkifli Syukur. Dua pemain bertahan ini kerap membantu sayap tim ketika mereka kehabisan akal menggedor pertahanan lawan. Irfan Bachdim dan Cristian Gonzales jadi andalan di garis depan. Dua juru gedor ini sangat berbeda tipe. El Loco menurut gue adalah tipe finisher sedangkan Bachdim lebih ke second striker, berdiri di belakang striker utama untuk menyokong striker utama. Bachdim juga sering diharapkan untuk berlari dari lini kedua membantu serangan di dalam kotak penalty ketika Gonzales mengalami dead-lock. Secara teknis, ini adalah tim yang sangat seimbang. Riedl berani mengganti striker tradisional Indonesia, yaitu Bepe dan menggantikannya dengan pemain hasil naturalisasi Belanda yang bisa dibilang baru mengenal karakter permainan timnas Indonesia saat itu. Walaupun tidak berhasil sepenuhnya, jujur saja, kala itu keliatan banget permainan Indonesia ada kemajuan pesat.

Beralih ke era Wim Rijsbergen, keliatan banget dia maksain formasi 4-2-3-1. Memang Ahmad Bustomi dan Firman Utina tetap jadi duet di lapangan tengah. Tapi formasi yg telalu rigid memaksa mereka bekerja keras sendirian. Ketika tugas mereka ada menyambung suplai bola dari pemain bertahan kepada penyerang dan gelandang serang, mereka malah terlihat linglung di sana. Kontrol yang terlalu lama dan bingung menentukan arah bola sering kali terjadi. Peran destroyer dan supplier agak rancu di antara mereka berdua. Dua sayap terkadang diharuskan untuk mencari bola sampai belakang. Malah bola-bola panjang kerap diluncurkan langsung dari belakang. Duet Utina-Bustomi tenggelam. Mereka berdua tidak terlihat sama sekali di lapangan. Cristian Gonzales yang sempat moncer di era Riedl juga ikut-ikutan kebingungan. Krisis identitas lapangan kalo gue boleh sebut. Bepe dan El Loco sebenernya dua penyerang yang mirip cara bermainnya. Keduanya adalah finisher, striker. Bepe sangat dipaksa menjadi supporter penyerang utama. Kecepatannya udah gak kayak dulu lagi semasa dia muda. Hasilnya serangan dari lini kedua sama sekali gak ada. Kalo lini belakang, kayaknya udah gak usah diomongin lagi, lah. Belum ada penampakkan yang menurut gue baik. Bola-bola atas masih jadi kelemahan paling mendasar. Tackling ala Indonesia (baca: ngawur; tarkam) masih menghiasi permainan Indonesia. Selebihnya, gak ada yang harus gue gambarkan lagi.

Namun, hal utama yang gue lihat waktu pertandingan kemarin adalah sikap supporter yang masih rada kampungan. Menyalakan petasan dan mercon kala menyanyikan “National Anthem”, serta dilanjutkan lagi pada menit 75 (kalo gak salah) ketika Indonesia sudah ketinggalan 0-2. Akhirnya official FIFA pun bergerak menghentikan permainan dan pemain Bahrain pun segera masuk ke ruang ganti. Tinggal pemain-pemain Indonesia yang duduk termenung meratapi nasib. Cuma segelintir pemain aja yang masih berusaha menanyakan keputusan tersebut kepada para official pertandingan. Malah Boaz gue liat udah melepas kostumnya dan ngobrol sama Gonzales sambil nunjuk-nunjuk tribun penonton. Gak tau dah apa yang mereka omongin. Mungkin mereka lagi ngatain penonton kayak manusia purba yang gak tau aturan. Jelas-jelas udah ada larangan dilarang bawa mercon dan petasan ke dalam stadion, eh.. masih aja tuh orang-orang udik ngotot. Waktu perhelatan Piala AFF pun keliatan jelas kalo penonton Indonesia juga sempat nyalain mercon. Gue agak lupa di pertandingan apa, tapi terlihat jelas kalo asap hasil pembakaran bahan peledak ringan tersebut sempat menutupi lapangan hijau. Gue kira kabut, coy. Ternyata asap mercon. Yaudahlahya.. Udah keliatan banget selain secara teknik, kita pun ternyata belum siap secara mental untuk menghadapi aturan dan kekalahan. Memang harus dirombak dari bawah banget.

Eits.. Masih ada satu uneg-uneg gue soal sepakbola kemarin. Mengenai RI 1 yang gembar-gembor via media kalo mereka dan rombongan harus merogoh kantong demi membeli tiket (maksudnya pengen nunjukin kalo doi gak nonton gretongan), terus dateng telat dan pertandingan udah berjalan (kalo gak salah udah 10 menitan, yeh?), dan akhirnya pulang duluan waktu Indonesia udah ketinggalan 0-2 (katanya sih doi kecewa sama pendukung timnas yang nyalain petasan+mercon di dalem stadion). Serius deh, Bro. Dateng telat trus pulang duluan? What the FUCK..!!?? Kalo leadernya aja udah begini, jangan salahin followernya kalo bertindak lebih buruk. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

In the end, memang persepakbolaan Indonesia gak sekedar dibenahi. Tapi dirombak, dihancurkan, lalu dibangun perlahan-lahan dari awal. Dulu kita terjebak dengan euphoria #NurdinTurun. Sekarang Nurdin Halid lagi cekikikan di rumahnya sambil nyumpah-nyumpahin kita. Dan ternyata saudara-saudara, bukan cuma sepakbola doang yang kudu dirombak, nyata-nyatanya NKRI ini juga harus dihancurkan dan dibangun dari awal. Mental kita belum siap buat merdeka. Kita merdeka akibat Jepang kalah WO dari Amerika gara-gara bom atom di Hiroshima-Nagasaki. Idealisme demokrasi yang didewa-dewakan oleh para pendiri negeri ini gagal didefinisikan oleh para penerusnya. Kepala mereka mulai terenggut dengan hal-hal di luar kepentingan rakyat. Penyelesaian menurut gue pribadi adalah, bubarkan NKRI. J

Transformers: Dark Of The Moon [2011]


Seiring menyurutnya larangan film-film Hollywood untuk tayang di bioskop Indonesia, gue semakin excited dengan kabar bahwa franchise terakhir dari film fenomenal Transformers akan ikut tayang dalam waktu dekat. Akhirnya keinginan gue pun terkabul. Setelah cukup dikecewakan dengan seri keduanya, Transformers: Revenge Of The Fallen, gue cukup menaruh ekspektasi tinggi terhadap seri terakhir film ini.

Film ini dibuka dengan cerita sang pemeran utama Sam Witwicky (Shia LaBeouf) dan Carly Spencer (Rosie Huntington-Whiteley). Tidak diceritakan bagaimana awalnya hubungan mereka dan akhir dari hubungan Sam-Mikaela Banes (Megan Fox). Lalu cerita langsung beralih kepada aksi kepahlawanan lascar Autobots dalam membantu manusia membasmi kejahatan di berbagai negara, hingga mereka menemukan sebuah informasi di Chernobyl tentang adanya sisa-sisa pesawat Cybertronian dari planet Cybertron. Decepticon pun tidak tinggal diam. Mereka merencanakan sebuah rencana jahat untuk menghancurkan bumi dan menjadikan manusia sebagai budak-budaknya. Sedangkan Sam Witwicky masih harus membuktikan diri bahwa dia adalah juga seorang pahlawan bersama rekan-rekan lamanya Lennox (Josh Duhamel) dan Epps (Tyrese Gibson). Namun dibalik semua itu, ternyata tersembunyi juga rencana jahat dari bekas pemimpin Autobots, Sentinel Prime, yang tidak diketahui oleh Optimus Prime dan rekan-rekannya. Perang hebat antara robot pun tersaji dan Sam harus kembali menjadi salah satu dari penyelamat bumi.

Keseluruhan jalan cerita ini sebenarnya sangatlah datar. Konflik kecil namun sensitive antara Sam dan Carly (mengenai pendapatan) menjadi kunci dari segala permasalahan di film ini. Isu-isu pengkhianatan sering diumbar di dalam cerita. Tapi entah karena memang kurang tertata rapi sehingga agak bisa tertebak atau memang sengaja tidak disembunyikan secara baik karena notabene ini memang film summer. Film yang sengaja dibuat untuk hiburan sehingga tidak begitu mementingkan efek-efek kejutan. Yang membuat gue pribadi sedikit mengejutkan adalah ketika ternyata Sentinel Prime berpihak kepada Decepticons. Sosok Sentinel Prime bisa dikatakan sebuah individu anti-hero. Dia terpaksa melakukan sesuatu yang jahat demi menyelamatkan planet asalnya. Perannya cukup mengkerdilkan Megatron. Yang paling mengejutkan gue adalah kematian seorang tokoh di kelompok Autobots. Damn..!! Dia salah satu idola gue di film pertama.

Ekspektasi gue terhadap film ini bener-bener menurun drastis. Di awal launching, sutradara dan para pemain seolah mempromosikan bahwa akan lebih mementingkan jalan cerita. Oleh sebab itu, Michael Bay berikrar akan mengurangi jumlah robot dan lebih mendalami sisi-sisi karakteristik tiap tokoh. Namun semuanya gagal. Aktik pas-pasan si model lingerie sama sekali gak nolong. Peran stagnan Sam Witwicky dari dua episode sebelumnya juga gak berkembang. Malah dua orang tua Sam, Ron dan Judy, malah ditenggelamkan. Padahal di episode kedua, Rise Of The Fallen, peran mereka sedikit banyak berhasil menumbuhkan sisi-sisi kemanusiawian Sam. Hubungan orangtua dan anak di cerita tersebut berhasil tergali. Namun di installment ketiga terasa hambar tanpa dua “pengganggu” tersebut. Bay jelas gagal dengan niatannya untuk fokus pada tokoh-tokoh utama manusia. Cerita dirangkum dengan segala kedataran tanpa dinamika berarti. Tapi film ini gak seluruhnya buruk. Visual effect yang semakin memukau berhasil tersaji. Adegan-adegan slow motion berhasil membuat rahang lo jatuh. Pertarungan antar robot yang dikemas dengan detil, serpihan-serpihan metal yang melayang ketika terjadi bentrokan membuat gue terpana. Tapi yang membuat gue sedikit bertanya-tanya, cairan merah apa yang keluar dari luka-luka para robot? Darah atau mungkin minyak rem yang bocor akibat benturan? Hmmm… Absurd.

Overall gue akan memberikan dua jempol ke atas untuk visual effect dan dua jempol ke bawah untuk jalan cerita. Ow.. Ow… Gue juga bakalan ngasi empat jempol ke atas buat Rosie Huntington-Whiteley. Bukan untuk aktingnya, tapi untuk bodinya yang luar biasa. So, I’ll give 5.5/10.

The Edge [1997]

Apa yang terjadi ketika seorang jutawan/milyarder terkenal pada akhirnya terjebak di tengah hutan dan alam liar? Kisahnya dimulai ketika Charles Morse beserta istri (diperankan Elle MacPherson) dan rombongan mengikuti liburan di Alaska. Liburan mereka akhirnya berubah menjadi sedikit mencekam ketika salah satu orang kepercayaan Morse, Robert Green (Alec Baldwin) mengajaknya untuk mencari seorang Indian untuk dijadikan model fotonya. Morse, Green, dan satu rekan lainnya Stephen (Harold Perrineau) menjelajahi alam Alaska demi mencari sang Indian. Nasib tak memihak mereka, pada akhirnya pesawat amfibi yang mereka gunakan pun terlibat kecelakaan. Morse, Green, dan Stephen dipaksa untuk bertahan di alam liar. Dengan segenap pengetahuan yang dimiliki oleh Charles Morse, mereka diharuskan bertahan hidup di alam liar dan juga serangan beruang ganas pemakan manusia. Insting bertahan sekaligus intrik-intrik pengkhianatan tersaji hingga akhirnya sisi kemanusiaan mereka harus diuji sedemikian rupa. Milyarder tua yang menghadapi ganasnya alam Alaska.

Alasan gue menonton film ini adalah karena kehadiran Anthony Hopkins sebagai pemeran utama. Ditambah pula nama Alec Baldwin yang cukup mentereng pada jamannya. Awal-awal cerita, sosok Charles Morse berhasil dibawakan sedemikian rupa oleh Hopkins. Tokoh Green (Alec Baldwin) juga berhasil menjadi penyeimbang. Namun sesampainya di tengah-tengah cerita, gue merasa agak janggal dengan pembawaan Hopkins. Entah karena gue terbiasa melihat dan menonton dia di franchise Hannibal Lecter atau memang dia kurang cocok memerankan tokoh yang selalu dikelilingi orang-orang bawel sejenis Robert Green dan Stephen. Hopkins seolah kehilangan sentuhannya. Justru tokoh Robert Green-lah yang pada akhirnya berperan menonjol. Baldwin sedikit banyak berhasil menggambarkan secara maksimal tokoh tangan kanan Morse di perusahaannya. Hopkins lebih cocok berperan sebagai tokoh-tokoh yang berdiri sendiri tanpa terkelilingi siapapun. Lihatlah peran-perannya sebagai Hannibal Lecter atau Ted Crawford di film Fracture. Justru aktingnya sangatlah monumental di dua film tersebut. Sendirian melakukan apa yang dia pikirkan tanpa terpengaruh orang lain, justru orang-orang di sekelilingnyalah yang terpengaruh oleh daya magis ucapan-ucapan dan sikap-sikap maniaknya.

Jalan cerita di film ini terkesan standar tanpa kejutan apapun. Isu survival di tengah rimba tidak dibungkus dengan rapi walaupun banyak sekali pelajaran mengenai cara bertahan hidup di hutan yang diumbar di film ini dan rata-rata memang sebagian besar adalah benar adanya. Cara membuat kompas dengan jarum yang dibuat dengan magnet listrik statis, menentukan utara-selatan dengan melihat konstelasi bintang, dan pelajaran-pelajaran survivalisme lainnya. Isu mengenai pengkhianatan anak buah terhadap sang Bos pun terkuak di akhir cerita yang sejak awal-awal film memang dikembangkan. Inilah yang membuat cerita jadi sedikit berantakan. Apa yang mau dikemas? Survival di tengah hutan sambil melawan beruang Kodiak atau kepercayaan terhadap sesama?

Kalau Anda adalah salah satu penggemar berat Anthony Hopkins, mungkin sebaiknya Anda kembali menonton The Elephant Man sebagai penetralisir. Tapi, jika Anda memang ingin film-film hiburan ditambah pengetahuan cara bertahan hidup di hutan, film ini bisa dijadikan alternative.

Rekoleksi Sebuah Perdebatan Kaum Awam

Dua hari (6-7 Agustus 2011) gue mengikuti rekoleksi di St. Monica 2, Bogor. Perjalanan dimulai dari Jakarta, menembus tol menuju Bogor. Sedikit terhambat dengan kemacetan dan matahari yang masih setia menghangatkan bumi. Ini pertama kalinya gue mengikuti rekoleksi Komkep KAJ setelah dua tahun belakangan gue selalu digoda untuk tidak mengikutinya. Isi yang tidak begitu menarik dan klise adalah alasan yang sering keluar dari mulut para berpengalaman yang telah mengikuti rekoleksi ini sebelumnya. Gak ada ekspektasi apa pun dari gue dan gue memang tidak mempunyai pandangan apa pun. Hari pertama gue lewati dengan kesan yang biasa-biasa aja. Beruntung gue bertemu dengan rekan-rekan yang dalam waktu dekat langsung menjadi sahabat seperjuangan di dua hari nan pendek tsb. Beruntung di sana tidak ada warung yang menjual anggur merah cap Orang Tua karena masih masuk dalam bulan puasa.

Hari kedua, jam 6 pagi, dimulai dengan senam a la Warkop DKI dan dilanjutkan dengan senam penguin (yang asli, agak gak jelas tujuannya) serta ditutup dengan main bola bareng. Beberapa wajah urung terlihat karena baru tertidur jam 5 pagi. Mandi dan makan pagi, akhirnya sesi ketiga (dua sesi dari hari pertama gak gue jelaskan karena memang kurang berkesan buat gue) dimulai. Gue sedikit lupa dengan judul yang akan dibawakan pada sesi ketiga tersebut, tapi entah mengapa pada akhirnya sesi tersebut tiba-tiba menjadi sebuah perdebatan antara peserta dengan panitia. Semua berawal dari pertanyaan mengenai Pastor moderator yang kurang aktif, cuek, dan mempunyai sikap negative lainnya yang tidak mampu merangkul anak muda. Romo Yadi dan Kak Maria mencoba menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang terlontar. Gue agak lupa kenapa tiba-tiba ada perdebatan mengenai jatah 5% yang menjadi “hak” pengembangan anak muda. Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin berkembang dan terus berkembang. Dari yang memprotes ketidak-transparanan mengenai dana untuk anak muda sampai mereka yang menyanggah bahwa dana dari gereja (atau Dewan Paroki) memang tidak terlalu dibutuhkan untuk memandirikan anak muda. Sesi sharing berubah menjadi perdebatan alih-alih diskusi. Gue? Gue memilih cabut keluar dari ruangan. Debat yang gak jelas arah tujuannya semakin diperkeruh dengan penjelasan dari Komkep yang tidak menjelaskan secara tuntas yang akhirnya malah semakin memancing pertanyaan kritis dari berbagai paroki. Gue mendingan ngerokok sambil ngedengerin ocehan-ocehan yang udah sering banget gue terima dari pastor moderator gue di paroki.

Sesi ketiga ditutup (paksa) akibat keterlambatan jadwal. Gue melahap makan siang sambil mengobrol dengan beberapa teman. Ketertutupan dalam menjelaskan menjadi pertanyaan dari beberapa OMK. Persis seperti yang gue rasakan. Masih ada rasa ketidak-puasan dari segala penjelasan tersebut. Temen gue sempat berujar, “Judul pertemuan ini ‘REKOLEKSI’, tapi kenapa jadi kayak debat Parpol gini?”. Gue cengar-cengir sambil jawab, “Pertanyaan yang dijawab setengah-setengah bakal bikin perdebatan.”

Setelah foto bersama, akhirnya gue dan rombongan pulang dan kembali menuju Katedral. Rasa lelah menggantung di sekujur tubuh. Namun semangat perubahan tak pernah hilang dari diri. Sistem harus dibuat secara proporsional sehingga mampu berfungsi secara optimal. Sejujurnya, gue tidak mendapatkan apa pun dari Rekoleksi ini, kecuali penjelasan-penjelasan klise, teman-teman seperjuangan idealisme, dan rasa capek yang terlingkar di leher.