Masih Rapuh

Di bawah hamparan cahaya kuning temaram, gue terduduk merapatkan punggung ke tembok putih yang tertutup lembaran-lembaran poster. Gue masuk, terjebak mungkin lebih tepat, dengan situasi aneh yang belum pernah gue alami sebelumnya. Pengalaman gue yang terdahulu sudah mengajarkan untuk tidak terlalu berharap banyak dan terlalu mempercayai perasaan yang kerap menutup logika. Dulu harapan-harapan itu gue bentuk sendiri. Gue membuatnya dari awal, yang perlahan-lahan akan menjadi bangunan kokoh. Namun kerap kali pula bangunan itu masih setengah terbangun dan gue harus menghancurkannya. Rata dengan tanah. Terkadang gue harus hentikan kala dia masih rapuh, hanya supaya mudah gue rubuhkan sampai tak tersisa bahkan puing-puingnya yang terkecil. Gue selalu mempersiapkan hati dan diri untuk menerima segala keadaan.

Sekarang gue menghadapai sebuah masalah (bukan masalah mungkin, tapi lebih kepada dilematika yang terus kebawa mimpi) yang sedikit mempengaruhi segala persepsi gue sedari awal. Pertama-tama gue udah memutuskan untuk tidak membangun sebuah fondasi di tempat tersebut. Gue sedikit, bisa dibilang, terobsesi untuk menempatkan sebuah tiang pancang besar di tempat lain. Namun setelah tiang pancang tersebut berdiri dan payung harapan mulai berkembang, tanpa gue sadari seseorang telah masuk ke salah satu ruang kosong tanpa izin. Di sana, sosok tersebut mulai membangun sebuah harapan maya. Gue masih ragu untuk bisa menyebutnya nyata. Keraguan ini muncul karena tidak adanya fondasi yang mengikat dasar harapan tersebut. Ibarat seperti tenda yang Cuma menancapkan pancang-pancangnya yang pendek ke dalam pasir. Tapi, gue memutuskan untuk meneruskan sebangun harapan tak berfondasi ini.

Ikatan-ikatan kecil yang terjalin mulai merapatkan gue. Sebuah perasaan yang gak tau darimana datangnya semakin menyesakkan dada, namun terasa sedikit menusuk jantung. Luka-luka kecil seolah menjadi penanda, tapi gue menganggap itu adalah pertanda. Gue lagi-lagi harus menyiapkan segala kemungkinan. Ekspektasi baik dan buruk udah ada di kepala dibarengi dengan akibat-akibatnya di depan mata.

Sepeda Pinjaman

Dan aku menganggap relung di hati telah terisi
Kehampaan yang menjadi pengharapan kupikir telah terganti
Sejumlah pesn yang terkirim lewat heningnya udara kumaknai
Sejumput harapan kupetik dari waktu yang terasa takkan terganti.

Pertemuan yang teriring dengan lagu-lagu cerita
Semilir angin malam nan dingin tak menhentikan ayunan kakiku
Sepeda pinjaman itu terus berlari di atas aspal yang kering akibat kemarau
Ditemani lampu-lampu sepeda motor yang terus menerus menyusul selagi aku berjalan di pinggiran trotoar
Nafas yang masih teratur berharmoni dengan jantung yang telah bekerja sedemikian cepat
Lelah kuabaikan sudah hanya untuk bertemu dia.

Aku menunggu kedatangannya di komplek gereja.
Sembari melepas lelah, sebatang rokok yang tersisa tadi siang kuhisap dalam-dalam.
Dan terlihat sudah bayangannya yang berjalan
Sinar lampu jalan nan temaram semakin memperjelas sosoknya
Masih lelah namun memperlihatkan keindahan senyuman

Aku pun tenggelam dalam tawa-canda
Pribadi yang indah dan suaranya yang khas seolah tertanam dalam segenap memori
Aku kecanduan dengan hadirnya

Sampai aku melihat wajah lelaki itu terpampang serasi di sampingnya
Gambar yang mampu meredam segala gejolak yang telah aku pikul
Terdiam sejenak, senyumku menghilang perlahan
Hening
Aku kembali mengayuh sepeda pinjaman itu
Hening dan tak lagi bergejolak

Hening...

Untitled Utopia

Masing-masing dari kita tentu percaya bahwa ada “sesuatu” di balik segalanya. Selalu ada hubungan sebab dan akibat di kehidupan kita. Kita percaya kalo seluruh tataran angkasa dan jajaran planet serta sebaran bintang-bintang ini diciptakan oleh sebuah “Maha Elemen”. Kita juga tentu percaya kalo daging yg akan membusuk ini diisi dengan jiwa dan roh oleh “Maha Sesuatu” pula. Dan sampai detik ini, beberapa orang di seluruh belahan dunia pasti setuju kalo Maha Elemen dan Maha Sesuatu itu punya sebutan “Tuhan”.


Para ilmuwan di luar sana sudah mencoba segala cara utk menjadi (setidaknya menyamai) Sang Maha Elemen tsb. Dan sekarang gue udah menemukan cara yg lebih simpel utk jadi Tuhan.


Menulis adalah cara lo menjadi Tuhan. Kata-kata yg kita rangkai menjadi kalimat akan semakin tersusun dan membentuk sebuah “dunia” baru. Cerita yg berisi tokoh2 yg dgn leluasanya lo bentuk sendiri. Lingkungan yg dgn semaunya bisa lo tentukan seenak jidat. Tokoh di dunia lo adalah keputusan prerogative lo. Lo yg membentuknya dari awal, lo pula yg menghembuskan jiwa ke dalamnya. Dunia yg masih kosong berwarna putih lo bentuk perlahan-lahan dan menjadi keputusan lo utk menjadikan bentuk akhirnya. Takdir para tokoh di dalam cerita. Kelahiran, kematian, pertemuan, perpisahan, kebahagian, kemunafikan. Lo yg berkuasa di dunia itu. Alur cerita yg lo susun sendiri. Awal terbentuknya cerita sampai akhirnya, semua ada di jemari lo.


Sayangnya, gue sering banget gagal nyelesain dunia gue. Kadang dunia bentukkan gue terlalu sempurna. Sebuah utopia. Tanpa kenegatifan. Tokoh yg gue buat seringkali terlalu perfect utk menjadi nyata. Dan akhirnya seringkali gue iri dan cemburu dgn mereka. Karna terlalu sempurna, akhirnya gue memutuskan utk membunuh mereka tanpa mereka tahu apa yg akan terjadi di akhir jalan cerita.
Dunia gue yg terlalu sempurna terbengkalai gitu aja. Mereka udh terbentuk dgn rapinya, tapi sayang terlalu sempurna. Kesempurnaan memang gak bisa didiamkan. Harus ada sebuah noda di dalam dunia sehingga dia tetap berjalan. Mereka bilang itu adalah keseimbangan. Tapi pribadi ini bilang bahwa itu adalah satu-satunya cara gue menelisik lebih dalam, berpeluk lebih menyatu dengan-Nya.


diambil dari: tovalzky.tumblr.com

Uneg-uneg Sepakbola Awam


Kemarin (Selasa malam, 6 September 2011) gue menyempatkan diri buat nonton pertandingan Indonesia melawan Bahrain via televisi di ruang tamu rumah gue disertai dengan perasaan miris. Miris karena ternyata timnas Indonesia tidak bermain sesuai dengan harapan gue pribadi. Awal-awal babak pertama para pemain Indonesia terlihat mempunyai determinasi tinggi, terus-menerus menyerang pertahanan Bahrain. Keliatan jelas Bahrain sedikit kerepotan menjaga daerah pertahanannya. Tapi lama-kelamaan, gak tau kenapa, determinasi tersebut surut perlahan-lahan. Para pemain mulai kehilangan fokus dan kehilangan kontrol. Penguasaan lini tengah mulai terlihat kendor dan malahan kosong sama sekali. Dulu ada pepatah yang bilang kalo nyawa/roh permainan sepak bola ada di lapangan tengah. Ahmad Bustomi yang kala itu berduet bareng Firman Utina gagal, walaupun gak sepenuhnya, menjadi jangkar buat tim. Tiga gelandang serang di depan mereka berdua terpaksa berjuang sendirian. Boaz memang seringkali melakukan penetrasi ke sayap lawan lewat umpan lambung dari lini belakang. Tapi kerap gagal karena tidak ada dukungan dari belakang. M. Ridwan yang berposisi sebagai penyerang sayap pun acap kali bentrok dengan pemain lawan tanpa tersokong. Giliran Bambang Pamungkas yang berposisi sebagai second-striker yang terus mendera gawang Bahrain lewat tendangan dari luar kotak penalti. Sundulan kepalanya hasil umpan brilian Boaz dari sayap kanan juga menerpa sisi gawang Sayed Jaffer.

Otomatis gue akan membandingkan timnas saat berada di rezim Alfred Riedl. Penumpukkan lini tengah dengan empat pemain yang dikomandoi Firman Utina nyatanya berhasil menyeimbangkan kinerja tim. Kala itu Riedl berpendapat bahwa tidak ada pemain Indonesia yang mempunyai skill seperti pemain-pemain tengah Arsenal atau Barcelona, maka itu dia mengandalkan serangan dari sayap. Kiri dikuasai Okto Maniani sedangkan kanan dipegang M. Ilham. Gelandang tengah dijaga duet Firman Utina dan Ahmad Bustomi. Bek sayap kala itu adalah M. Nasuha dan Zulkifli Syukur. Dua pemain bertahan ini kerap membantu sayap tim ketika mereka kehabisan akal menggedor pertahanan lawan. Irfan Bachdim dan Cristian Gonzales jadi andalan di garis depan. Dua juru gedor ini sangat berbeda tipe. El Loco menurut gue adalah tipe finisher sedangkan Bachdim lebih ke second striker, berdiri di belakang striker utama untuk menyokong striker utama. Bachdim juga sering diharapkan untuk berlari dari lini kedua membantu serangan di dalam kotak penalty ketika Gonzales mengalami dead-lock. Secara teknis, ini adalah tim yang sangat seimbang. Riedl berani mengganti striker tradisional Indonesia, yaitu Bepe dan menggantikannya dengan pemain hasil naturalisasi Belanda yang bisa dibilang baru mengenal karakter permainan timnas Indonesia saat itu. Walaupun tidak berhasil sepenuhnya, jujur saja, kala itu keliatan banget permainan Indonesia ada kemajuan pesat.

Beralih ke era Wim Rijsbergen, keliatan banget dia maksain formasi 4-2-3-1. Memang Ahmad Bustomi dan Firman Utina tetap jadi duet di lapangan tengah. Tapi formasi yg telalu rigid memaksa mereka bekerja keras sendirian. Ketika tugas mereka ada menyambung suplai bola dari pemain bertahan kepada penyerang dan gelandang serang, mereka malah terlihat linglung di sana. Kontrol yang terlalu lama dan bingung menentukan arah bola sering kali terjadi. Peran destroyer dan supplier agak rancu di antara mereka berdua. Dua sayap terkadang diharuskan untuk mencari bola sampai belakang. Malah bola-bola panjang kerap diluncurkan langsung dari belakang. Duet Utina-Bustomi tenggelam. Mereka berdua tidak terlihat sama sekali di lapangan. Cristian Gonzales yang sempat moncer di era Riedl juga ikut-ikutan kebingungan. Krisis identitas lapangan kalo gue boleh sebut. Bepe dan El Loco sebenernya dua penyerang yang mirip cara bermainnya. Keduanya adalah finisher, striker. Bepe sangat dipaksa menjadi supporter penyerang utama. Kecepatannya udah gak kayak dulu lagi semasa dia muda. Hasilnya serangan dari lini kedua sama sekali gak ada. Kalo lini belakang, kayaknya udah gak usah diomongin lagi, lah. Belum ada penampakkan yang menurut gue baik. Bola-bola atas masih jadi kelemahan paling mendasar. Tackling ala Indonesia (baca: ngawur; tarkam) masih menghiasi permainan Indonesia. Selebihnya, gak ada yang harus gue gambarkan lagi.

Namun, hal utama yang gue lihat waktu pertandingan kemarin adalah sikap supporter yang masih rada kampungan. Menyalakan petasan dan mercon kala menyanyikan “National Anthem”, serta dilanjutkan lagi pada menit 75 (kalo gak salah) ketika Indonesia sudah ketinggalan 0-2. Akhirnya official FIFA pun bergerak menghentikan permainan dan pemain Bahrain pun segera masuk ke ruang ganti. Tinggal pemain-pemain Indonesia yang duduk termenung meratapi nasib. Cuma segelintir pemain aja yang masih berusaha menanyakan keputusan tersebut kepada para official pertandingan. Malah Boaz gue liat udah melepas kostumnya dan ngobrol sama Gonzales sambil nunjuk-nunjuk tribun penonton. Gak tau dah apa yang mereka omongin. Mungkin mereka lagi ngatain penonton kayak manusia purba yang gak tau aturan. Jelas-jelas udah ada larangan dilarang bawa mercon dan petasan ke dalam stadion, eh.. masih aja tuh orang-orang udik ngotot. Waktu perhelatan Piala AFF pun keliatan jelas kalo penonton Indonesia juga sempat nyalain mercon. Gue agak lupa di pertandingan apa, tapi terlihat jelas kalo asap hasil pembakaran bahan peledak ringan tersebut sempat menutupi lapangan hijau. Gue kira kabut, coy. Ternyata asap mercon. Yaudahlahya.. Udah keliatan banget selain secara teknik, kita pun ternyata belum siap secara mental untuk menghadapi aturan dan kekalahan. Memang harus dirombak dari bawah banget.

Eits.. Masih ada satu uneg-uneg gue soal sepakbola kemarin. Mengenai RI 1 yang gembar-gembor via media kalo mereka dan rombongan harus merogoh kantong demi membeli tiket (maksudnya pengen nunjukin kalo doi gak nonton gretongan), terus dateng telat dan pertandingan udah berjalan (kalo gak salah udah 10 menitan, yeh?), dan akhirnya pulang duluan waktu Indonesia udah ketinggalan 0-2 (katanya sih doi kecewa sama pendukung timnas yang nyalain petasan+mercon di dalem stadion). Serius deh, Bro. Dateng telat trus pulang duluan? What the FUCK..!!?? Kalo leadernya aja udah begini, jangan salahin followernya kalo bertindak lebih buruk. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

In the end, memang persepakbolaan Indonesia gak sekedar dibenahi. Tapi dirombak, dihancurkan, lalu dibangun perlahan-lahan dari awal. Dulu kita terjebak dengan euphoria #NurdinTurun. Sekarang Nurdin Halid lagi cekikikan di rumahnya sambil nyumpah-nyumpahin kita. Dan ternyata saudara-saudara, bukan cuma sepakbola doang yang kudu dirombak, nyata-nyatanya NKRI ini juga harus dihancurkan dan dibangun dari awal. Mental kita belum siap buat merdeka. Kita merdeka akibat Jepang kalah WO dari Amerika gara-gara bom atom di Hiroshima-Nagasaki. Idealisme demokrasi yang didewa-dewakan oleh para pendiri negeri ini gagal didefinisikan oleh para penerusnya. Kepala mereka mulai terenggut dengan hal-hal di luar kepentingan rakyat. Penyelesaian menurut gue pribadi adalah, bubarkan NKRI. J

Transformers: Dark Of The Moon [2011]


Seiring menyurutnya larangan film-film Hollywood untuk tayang di bioskop Indonesia, gue semakin excited dengan kabar bahwa franchise terakhir dari film fenomenal Transformers akan ikut tayang dalam waktu dekat. Akhirnya keinginan gue pun terkabul. Setelah cukup dikecewakan dengan seri keduanya, Transformers: Revenge Of The Fallen, gue cukup menaruh ekspektasi tinggi terhadap seri terakhir film ini.

Film ini dibuka dengan cerita sang pemeran utama Sam Witwicky (Shia LaBeouf) dan Carly Spencer (Rosie Huntington-Whiteley). Tidak diceritakan bagaimana awalnya hubungan mereka dan akhir dari hubungan Sam-Mikaela Banes (Megan Fox). Lalu cerita langsung beralih kepada aksi kepahlawanan lascar Autobots dalam membantu manusia membasmi kejahatan di berbagai negara, hingga mereka menemukan sebuah informasi di Chernobyl tentang adanya sisa-sisa pesawat Cybertronian dari planet Cybertron. Decepticon pun tidak tinggal diam. Mereka merencanakan sebuah rencana jahat untuk menghancurkan bumi dan menjadikan manusia sebagai budak-budaknya. Sedangkan Sam Witwicky masih harus membuktikan diri bahwa dia adalah juga seorang pahlawan bersama rekan-rekan lamanya Lennox (Josh Duhamel) dan Epps (Tyrese Gibson). Namun dibalik semua itu, ternyata tersembunyi juga rencana jahat dari bekas pemimpin Autobots, Sentinel Prime, yang tidak diketahui oleh Optimus Prime dan rekan-rekannya. Perang hebat antara robot pun tersaji dan Sam harus kembali menjadi salah satu dari penyelamat bumi.

Keseluruhan jalan cerita ini sebenarnya sangatlah datar. Konflik kecil namun sensitive antara Sam dan Carly (mengenai pendapatan) menjadi kunci dari segala permasalahan di film ini. Isu-isu pengkhianatan sering diumbar di dalam cerita. Tapi entah karena memang kurang tertata rapi sehingga agak bisa tertebak atau memang sengaja tidak disembunyikan secara baik karena notabene ini memang film summer. Film yang sengaja dibuat untuk hiburan sehingga tidak begitu mementingkan efek-efek kejutan. Yang membuat gue pribadi sedikit mengejutkan adalah ketika ternyata Sentinel Prime berpihak kepada Decepticons. Sosok Sentinel Prime bisa dikatakan sebuah individu anti-hero. Dia terpaksa melakukan sesuatu yang jahat demi menyelamatkan planet asalnya. Perannya cukup mengkerdilkan Megatron. Yang paling mengejutkan gue adalah kematian seorang tokoh di kelompok Autobots. Damn..!! Dia salah satu idola gue di film pertama.

Ekspektasi gue terhadap film ini bener-bener menurun drastis. Di awal launching, sutradara dan para pemain seolah mempromosikan bahwa akan lebih mementingkan jalan cerita. Oleh sebab itu, Michael Bay berikrar akan mengurangi jumlah robot dan lebih mendalami sisi-sisi karakteristik tiap tokoh. Namun semuanya gagal. Aktik pas-pasan si model lingerie sama sekali gak nolong. Peran stagnan Sam Witwicky dari dua episode sebelumnya juga gak berkembang. Malah dua orang tua Sam, Ron dan Judy, malah ditenggelamkan. Padahal di episode kedua, Rise Of The Fallen, peran mereka sedikit banyak berhasil menumbuhkan sisi-sisi kemanusiawian Sam. Hubungan orangtua dan anak di cerita tersebut berhasil tergali. Namun di installment ketiga terasa hambar tanpa dua “pengganggu” tersebut. Bay jelas gagal dengan niatannya untuk fokus pada tokoh-tokoh utama manusia. Cerita dirangkum dengan segala kedataran tanpa dinamika berarti. Tapi film ini gak seluruhnya buruk. Visual effect yang semakin memukau berhasil tersaji. Adegan-adegan slow motion berhasil membuat rahang lo jatuh. Pertarungan antar robot yang dikemas dengan detil, serpihan-serpihan metal yang melayang ketika terjadi bentrokan membuat gue terpana. Tapi yang membuat gue sedikit bertanya-tanya, cairan merah apa yang keluar dari luka-luka para robot? Darah atau mungkin minyak rem yang bocor akibat benturan? Hmmm… Absurd.

Overall gue akan memberikan dua jempol ke atas untuk visual effect dan dua jempol ke bawah untuk jalan cerita. Ow.. Ow… Gue juga bakalan ngasi empat jempol ke atas buat Rosie Huntington-Whiteley. Bukan untuk aktingnya, tapi untuk bodinya yang luar biasa. So, I’ll give 5.5/10.

The Edge [1997]

Apa yang terjadi ketika seorang jutawan/milyarder terkenal pada akhirnya terjebak di tengah hutan dan alam liar? Kisahnya dimulai ketika Charles Morse beserta istri (diperankan Elle MacPherson) dan rombongan mengikuti liburan di Alaska. Liburan mereka akhirnya berubah menjadi sedikit mencekam ketika salah satu orang kepercayaan Morse, Robert Green (Alec Baldwin) mengajaknya untuk mencari seorang Indian untuk dijadikan model fotonya. Morse, Green, dan satu rekan lainnya Stephen (Harold Perrineau) menjelajahi alam Alaska demi mencari sang Indian. Nasib tak memihak mereka, pada akhirnya pesawat amfibi yang mereka gunakan pun terlibat kecelakaan. Morse, Green, dan Stephen dipaksa untuk bertahan di alam liar. Dengan segenap pengetahuan yang dimiliki oleh Charles Morse, mereka diharuskan bertahan hidup di alam liar dan juga serangan beruang ganas pemakan manusia. Insting bertahan sekaligus intrik-intrik pengkhianatan tersaji hingga akhirnya sisi kemanusiaan mereka harus diuji sedemikian rupa. Milyarder tua yang menghadapi ganasnya alam Alaska.

Alasan gue menonton film ini adalah karena kehadiran Anthony Hopkins sebagai pemeran utama. Ditambah pula nama Alec Baldwin yang cukup mentereng pada jamannya. Awal-awal cerita, sosok Charles Morse berhasil dibawakan sedemikian rupa oleh Hopkins. Tokoh Green (Alec Baldwin) juga berhasil menjadi penyeimbang. Namun sesampainya di tengah-tengah cerita, gue merasa agak janggal dengan pembawaan Hopkins. Entah karena gue terbiasa melihat dan menonton dia di franchise Hannibal Lecter atau memang dia kurang cocok memerankan tokoh yang selalu dikelilingi orang-orang bawel sejenis Robert Green dan Stephen. Hopkins seolah kehilangan sentuhannya. Justru tokoh Robert Green-lah yang pada akhirnya berperan menonjol. Baldwin sedikit banyak berhasil menggambarkan secara maksimal tokoh tangan kanan Morse di perusahaannya. Hopkins lebih cocok berperan sebagai tokoh-tokoh yang berdiri sendiri tanpa terkelilingi siapapun. Lihatlah peran-perannya sebagai Hannibal Lecter atau Ted Crawford di film Fracture. Justru aktingnya sangatlah monumental di dua film tersebut. Sendirian melakukan apa yang dia pikirkan tanpa terpengaruh orang lain, justru orang-orang di sekelilingnyalah yang terpengaruh oleh daya magis ucapan-ucapan dan sikap-sikap maniaknya.

Jalan cerita di film ini terkesan standar tanpa kejutan apapun. Isu survival di tengah rimba tidak dibungkus dengan rapi walaupun banyak sekali pelajaran mengenai cara bertahan hidup di hutan yang diumbar di film ini dan rata-rata memang sebagian besar adalah benar adanya. Cara membuat kompas dengan jarum yang dibuat dengan magnet listrik statis, menentukan utara-selatan dengan melihat konstelasi bintang, dan pelajaran-pelajaran survivalisme lainnya. Isu mengenai pengkhianatan anak buah terhadap sang Bos pun terkuak di akhir cerita yang sejak awal-awal film memang dikembangkan. Inilah yang membuat cerita jadi sedikit berantakan. Apa yang mau dikemas? Survival di tengah hutan sambil melawan beruang Kodiak atau kepercayaan terhadap sesama?

Kalau Anda adalah salah satu penggemar berat Anthony Hopkins, mungkin sebaiknya Anda kembali menonton The Elephant Man sebagai penetralisir. Tapi, jika Anda memang ingin film-film hiburan ditambah pengetahuan cara bertahan hidup di hutan, film ini bisa dijadikan alternative.

Rekoleksi Sebuah Perdebatan Kaum Awam

Dua hari (6-7 Agustus 2011) gue mengikuti rekoleksi di St. Monica 2, Bogor. Perjalanan dimulai dari Jakarta, menembus tol menuju Bogor. Sedikit terhambat dengan kemacetan dan matahari yang masih setia menghangatkan bumi. Ini pertama kalinya gue mengikuti rekoleksi Komkep KAJ setelah dua tahun belakangan gue selalu digoda untuk tidak mengikutinya. Isi yang tidak begitu menarik dan klise adalah alasan yang sering keluar dari mulut para berpengalaman yang telah mengikuti rekoleksi ini sebelumnya. Gak ada ekspektasi apa pun dari gue dan gue memang tidak mempunyai pandangan apa pun. Hari pertama gue lewati dengan kesan yang biasa-biasa aja. Beruntung gue bertemu dengan rekan-rekan yang dalam waktu dekat langsung menjadi sahabat seperjuangan di dua hari nan pendek tsb. Beruntung di sana tidak ada warung yang menjual anggur merah cap Orang Tua karena masih masuk dalam bulan puasa.

Hari kedua, jam 6 pagi, dimulai dengan senam a la Warkop DKI dan dilanjutkan dengan senam penguin (yang asli, agak gak jelas tujuannya) serta ditutup dengan main bola bareng. Beberapa wajah urung terlihat karena baru tertidur jam 5 pagi. Mandi dan makan pagi, akhirnya sesi ketiga (dua sesi dari hari pertama gak gue jelaskan karena memang kurang berkesan buat gue) dimulai. Gue sedikit lupa dengan judul yang akan dibawakan pada sesi ketiga tersebut, tapi entah mengapa pada akhirnya sesi tersebut tiba-tiba menjadi sebuah perdebatan antara peserta dengan panitia. Semua berawal dari pertanyaan mengenai Pastor moderator yang kurang aktif, cuek, dan mempunyai sikap negative lainnya yang tidak mampu merangkul anak muda. Romo Yadi dan Kak Maria mencoba menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang terlontar. Gue agak lupa kenapa tiba-tiba ada perdebatan mengenai jatah 5% yang menjadi “hak” pengembangan anak muda. Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin berkembang dan terus berkembang. Dari yang memprotes ketidak-transparanan mengenai dana untuk anak muda sampai mereka yang menyanggah bahwa dana dari gereja (atau Dewan Paroki) memang tidak terlalu dibutuhkan untuk memandirikan anak muda. Sesi sharing berubah menjadi perdebatan alih-alih diskusi. Gue? Gue memilih cabut keluar dari ruangan. Debat yang gak jelas arah tujuannya semakin diperkeruh dengan penjelasan dari Komkep yang tidak menjelaskan secara tuntas yang akhirnya malah semakin memancing pertanyaan kritis dari berbagai paroki. Gue mendingan ngerokok sambil ngedengerin ocehan-ocehan yang udah sering banget gue terima dari pastor moderator gue di paroki.

Sesi ketiga ditutup (paksa) akibat keterlambatan jadwal. Gue melahap makan siang sambil mengobrol dengan beberapa teman. Ketertutupan dalam menjelaskan menjadi pertanyaan dari beberapa OMK. Persis seperti yang gue rasakan. Masih ada rasa ketidak-puasan dari segala penjelasan tersebut. Temen gue sempat berujar, “Judul pertemuan ini ‘REKOLEKSI’, tapi kenapa jadi kayak debat Parpol gini?”. Gue cengar-cengir sambil jawab, “Pertanyaan yang dijawab setengah-setengah bakal bikin perdebatan.”

Setelah foto bersama, akhirnya gue dan rombongan pulang dan kembali menuju Katedral. Rasa lelah menggantung di sekujur tubuh. Namun semangat perubahan tak pernah hilang dari diri. Sistem harus dibuat secara proporsional sehingga mampu berfungsi secara optimal. Sejujurnya, gue tidak mendapatkan apa pun dari Rekoleksi ini, kecuali penjelasan-penjelasan klise, teman-teman seperjuangan idealisme, dan rasa capek yang terlingkar di leher.