J.U.D.G.E.M.E.N.T

Ketika itu, gue sedang bercanda dengan beberapa teman gue. Candaan kami memang sedikit nyeleneh dan keluar jalur. Keluar jalur yang gue maksud adalah terkadang kalimat-kalimat yang keluar dari mulut adalah kalimat-kalimat hinaan berupa penghuni rumah makan dan kebun binatang. Yup, di antara kami memang tidak ada lagi rahasia dan nama baik. Semuanya terbuka bagi setiap individu.

Namun, suatu hari, ada seseorang teman baru yang bergabung dengan perkumpulan kami ini. Kami menerimanya dengan tangan terbuka dan menyambutnya sepenuh hati. Awalnya kami berbicara dan mengobrol sejenak, memperbincangkan hal-hal umum dan beberapa info pribadi, seperti nama lengkap, status, alamat, dsb. Akhirnya, karena kami rasa si teman baru ini sudah akrab dan sedikit menyatu, gue dan teman-teman yang lain akhirnya kembali ke alam kami yang sebenarnya. Candaan yang agak nyeleneh dan berbau-bau alat masak kami keluarkan. Kami nggak sadar sepenuhnya bahwa si Teman Baru ini ternyata tidak mampu mengikuti cara kami. Sampai suatu ketika ada perkataan yang sepertinya menyinggung perasaan si Teman Baru ini. Dan akhirnya, ia berdiri dan membentak kami, “Lo semua keterlaluan, ya! Haruskah lo semua ngomongin masalah alat masak di sini?! Nggak takut orang lain denger dan salah mengartikan?” Dan ia pun berlalu tanpa permisi. Sampai sekarang ia menghilang tanpa jejak.

Pertanyaan yang terlintas di kepala gue saat dia meninggalkan kami adalah, “Gue yang gila atau dia yang sinting? Gue yang salah atau dia yang gak bener?”. Jujur gue berulang kali berpikir dan berpikir berulang kali. Ketika gue lagi asik-asik ngobrol, dia sendir yang tiba-tiba nongol dan gabung ke “forum” kami. Dan ketika kami sedang mengeluarkan candaan kami, tiba-tiba dia tersinggung dan ngeloyor tanpa permisi. Hmm.. Sebenernya yang salah siapa, sih? Gue heran sampe sekarang. Kalo dia emang gak mampu menahan emosi dalam sindiran-sindiran kami, you better keep moving and don’t try to stop and join my group.

Well, memang setiap orang punya kelebihan untuk menghakimi dan men-judge kekurangan orang tanpa bercermin. Ya, sudahlah. Gue juga tidak berniat untuk nge-judge kelemahan dia. Namanya juga manusia. Ketika sikap egosentris dan mau menang sendiri sudah menguasai, mau diapain lagi? Kalo gue, mendingan gue cuekin. Daripada gue makan ati dan kesel sendiri.

Tunggal

Sedari gue SMP, banyak di antara temen-temen gue yang sering bilang bahwa jadi anak tunggal itu enak. Ada yang bilang sering dimanja, harta warisan banyak, dan lain sebagainya. Gue sih nerima-nerima aja. Well, ada benernya juga. Tapi, kalo dibilang gw sering dimanja, sepertinya nggak juga. Contoh, ketika saat itu sedang menjamurnya game-console sejenis Nintendo, Sega, Atari, hingga Playstation, keluarga gue pada kenyataannya tidak sampai terjangkit penyakit jamur tersebut. Di rumah gue adem-ayem dengan segala mainan robot-robotan dan mobil-mobilan plastik murah. Walaupun ada beberapa yang mahal juga, namun tidak berumur panjang. Yah, maklum lah. Sejak kecil gue malahan sudah terjangkiti penyakit suka kekerasan. Jadi, apa pun yang gue temukan, kebanyakan akan berakhir di tempat sampah atau gudang. So, terbukti gue bukanlah anak tunggal yang dimanja dengan dibelikan mainan-mainan mahal.

Harta warisan banyak? Yup, memang harta warisan gue agak lumayan banyak. Tanah dan rumah milik almarhum nenek gue di Wonogiri, Jawa Tengah, bisa dipastikan jatuh ke tangan gue (setelah dibagi dua dengan kakak dari bokap). Lumayan, ‘kan? Bisa bikin kos-kosan, warung makan, tempat peristirahatan, atau mungkin jadi rumah gue di kala gue sudah memasuki masa-masa pensiun.

Tapi, pernahkah lo membayangkan kesendirian gue. Sepulangnya gue dari tempat kerja, gereja, atau kegiatan apa pun yang gue lakukan di luar rumah, gue terkadang hanya langsung berhadapan dengan laptop Axioo dan mungkin ditemani anak anjing mungil *(sang induk sudah meregang nyawa) yang gue kasih nama Wesly. Bagaimana dengan orang tua gue? Mereka memang pasti ada di rumah, setia menunggu kedatangan gue. Namun, entah bagaimana, akhir-akhir ini gue sedikit berkomunikasi dengan mereka. Mungkin karena faktor kelelahan yang udah mendera badan gue dan kurangnya jam bertemu. Ketika gue pulang sore, bokap masih praktek di salah satu rumah sakit. Beliau menjalani prakteknya di beberapa rumah sakit di Depok, Daan Mogot, sampai Bekasi. Biasanya beliau sampai di rumah ketika waktu sudah malam dan gue terkadang sudah terlelap atau mengerjakan tugas pekerjaan di kamar. Nyokap? Beliau juga sibuk. Bukan pekerjaan rutin, dikarenakan beliau adalah seorang ibu rumah tangga, namun beliau sibuk berdoa, belanja ke pasar, atau datang ke acara-acara doa dan pertemuan lingkungan. Alhasil, gue semakin merasa sedikit kesepian. Cuma Wesly yang setia berlarian dan melompat-lompat menyambut kehadiran gue di rumah. Sepi? Check! Sendrian? Not really. Kayak orang gila? Check! Secara gue kebanyakan berkomunikasi dengan hewan peliharaan. J

Bulan Mei kemarin, pada akhirnya gue mendapat sebuah kabar mengejutkan. Bokap mendapatkan sebuah surat yang sedikit “memaksa” untuk pensiun dari pekerjaannya di rumah sakit tempatnya bekerja. Isinya, mengenai keharusan untuk pensiun saat usia sudah menginjak 65 tahun. And guess what, he’s 65 years old this June. God dammit, that’s hell of a surprise. Gue down, se-down-down-nya. Gue seakan punya beban 4 ton yang dilemparkan ke punggung gue. Dan di beban itu ada tulisan, “This is now your turn to make this family survive”. Dalam hati, gue nangis sambil terus-menerus mengutuk kejadian ini. I’m not ready at all to be the back bone. Gue sama sekali belum siap untuk ini.

Di kamar, tiba-tiba aja gue nangis. Ini pertama kalinya gue nangis setelah 9 tahun gak pernah lagi netesin air mata. Jam 01.00, satu rumah udah tidur. Gue melampiaskan segala kekesalan emosi. Teriakan gue diredam dengan bantal. Semakin gue berteriak keras, semakin pula gue menekan muka gue ke bantal. Musik Deftones sedikit membantu gue melepas penat. Tapi, beban di punggung gue gak berkurang sama sekali. SHIT…!!!!!

Ketika bokap menginjak 65 tahun perjalanan hidup, nyokap bakalan menyusul dengan 62 tahun menapakkan kaki di bumi. Dan gue baru 25 tahun berada di kota Jakarta. 40 tahun yang gak mungkin gue lampaui. Garis-garis wajah yang semakin terbentuk, bener-bener menggambarkan setiap perjalanan yang udah bokap jalanin. Tubuh nyokap yang semakin membungkuk, yang seakan memanggul beban berat sedari melahirkan gue sampai sekarang. Dan gue sudah tidak mampu lagi untuk melihat pengorbanan mereka, walaupun mereka masih dengan rela hati memberikan segalanya buat gue, anak tunggal keparat yang gak tau terima kasih ini.

Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Mama. Kalian berdua adalah dua sosok pahlawan di dalam hati gue. Embun pagi yang menyejukkan hati di kala gue sendiri. Setiap tetes air mata yang kalian alirkan adalah sebuah belati yang menyobek hati gue. Gue akan membalas segalanya. Gak akan ada air mata lagi yang akan kalian teteskan.

Aku Bisa Terbunuh Di Trotoar Jalan

Tertanggal 17 Mei 2010, di hari Senin, pukul 20.00, ban belakang sepeda motor Vega R dengan STNK atas nama Andreas Surya Pratama dengan suksesnya mengalami kebocoran. TKP berada di bilangan Cawang Atas. Gue saat itu sedang dalam perjalanan pulang menuju tempat tidur tercinta di Perumahan Taman Kedoya Baru, Jakarta Barat. Waktu saat itu adalah sebuah waktu yang bakal gue kutuk seumur hidup gue. Kenapa? Karena di sepanjang 10 meter jalanan yang gue lalui dengan berjalan kaki sambil menenteng motor, tidak ada satu pun tukang tambal ban yang masih bersedia menolong pemuda terkutuk ini. Semua penjual jasa tersebut telah hidup di alam seberang, menikmati indahnya mimpi-mimpi duniawi yang teramat nyata. Alhasil, gue pun terus menerus menyusuri jalanan Ibu Kota tanpa henti. Sambil terkadang berhenti sejenak untuk sekedar menghisap rokok, sepatu Converse putih dengan rutinnya menginjak aspal yang sering kali terdapat jebakan lubang air sialan yang belum ditutup oleh Dinas Pekerjaan Umum Jakarta. Beban perjalanan (yang dalam arti harafiah memang benar-benar “berjalan”) terasa semakin berdinamika. Lampu-lampu jalanan seakan menaungi kutukan. Lampu-lampu mobil dan motor, kepulan asap karbon mono oksida dari knalpot hitam bus-bus kota juga turut menemani.

Rambu-rambu penunjuk arah di dalam tol menjadi kompas sekaligus pengukur jarak yang telah gue tempuh. Gue sesekali melihat ke seberang untuk sekedar memperhatikan tulisan di rambu yang tersiram cahaya kuning dari lampu jalan. Gue mencari tulisan “Semanggi 200 M” yang dalam imajinasi gue berubah menjadi “Api Penyucian 200 M”. Dan belum berhasil gue temukan. Akhirnya gw terendap ditemani motor Yamaha B 60** BL* (gue sensor, takutnya gue digangguin di jalan). Seperti yang gue sering tulis di cerita-cerita gue sebelumnya, gue adalah anak tunggal. Sedikit mengalami gangguan mental, sehingga terkadang gue mengajak para benda mati di sekeliling gue untuk berbicara. Dan kebetulan, korban curhat dalam kejadian ini adalah sang motor, sepatu Converse putih, jaket jeans distro, dan rokok Djarum Super yang gue selipkan di bibir.

Converse, selaku korban pertama, harus kuat-kuat hati menerima segala omongan bawel gue. Dan sebagai catatan, gue sama sekali nggak bergumam. So, gue bener-bener berbicara layaknya gue berbicara dengan orang biasa, yang menghasilkan tatapan-tatapan aneh dari para karyawan yang baru pulang kerja dan beberapa tukang ojek serta pengamen dan pengemis di pinggir jalan. Gue berhasil menasihati sepatu putih gue, yang telah berubah warna menjadi agak kehitam-hitaman akibat genangan air, supaya mereka bisa menghargai diri sendiri, karena mereka mempunyai sebuah nilai historis kelak. Gue membandingkannya dengan almarhum Converse merah yang teronggok entah dimana di dalam rumah. Pendahulunya menjadi korban keganasan alam ketika gue mengadakan camping. Kebetulan gue lupa gunung mana yang kami jajal saat itu. Almarhum Converse merah berhasil menemani gue dan menjaga tuannya sehingga tidak terjadi bencana apa pun. Sekarang, sang penerus harus kembali menjaga si empu untuk menjajal jalanan Jakarta demi mencari tukang tambal ban. Well, bila dibandingkan dengan si merah, si putih memang tidak mempunyai nilai historis yang mentereng. Setidaknya belum lah. Terus-menerus gue mengajak berbicara si Converse putih, dan tanpa sadar gue telah melewati Patung Pancoran. Dan gue baru tahu, bahwa nama sebenarnya dari Si Penunjuk itu adalah Patung Dirgantara dan ia mengarahkan telunjuknya dengan setia ke arah Bandara Halim Perdanakusumah. Ternyata memang perjalanan terkutuk ini sedikit memberikan gue ilmu sosial yang mungkin belum gue dapatkan di bangku sekolah. Sambil sedikit terburu-buru, gue menyeberangi perempatan jalan Pancoran yang masih saja ramai dengan berseliwerannya mobil dan motor. Berlarian dengan disertai keringat yang secara kurang ajar berkunjung ke mata kiri, gue menyeberang dengan hanya mengandalkan mata kanan gue. Ah, untung gue belum mati ketika gue tidak melihat bus Kopaja yang datang dari arah kiri hampir menabrak. Ya, Pancoran sudah terlesati, next destination adalah perempatan Kuningan. Dan gue merasa, perjalanan gue masih jauh.

Bosan dengan rutinitas mengobrol, gue malah tidak memfokuskan pikiran gue untuk mencari tukang tambal ban. Ah, tapi memang tidak ada lagi yang melayani. Mata lelah gue memperhatikan kehidupan malam di trotoar pinggir jalan. Banyak sekali dari mereka, para pengemis dan pengamen, yang tidur hanya beralaskan karton bekas atau berdindingkan gerobak dan beratapkan langit kelam. Anak-anak kecil masih sibuk bermain dengan botol bekas gepeng, ditendang ke sana kemari. Salah seorang dari mereka, memakai baju kebesaran Persija, mencoba menendang botol plastik itu sekeras-kerasnya sambil berteriak, “Aliyudiiiiinnnn…..!!!”. Dan, gol. Selebrasi dengan menirukan gerakan Vicenzo Montella, merentangkan kedua tangan ke samping sambil berlarian, disambut rekan setimnya yang berusaha mengejar. The Little Aeroplane, nama gerakan tersebut. Percayalah, gue akan ikut bertepuk tangan sambil membuat gerakan Mexican Wave bila kedua tangan ini tidak sibuk menuntun motor.

Di dekatnya berdiri dua gadis yang memakai kaus hitam. Yang satu bergambar tokoh favorit gue, yaitu Marylin Manson, dan yang satu hanya bertuliskan Misfits. Keduanya tampak serius berlatih menyanyi sambil menggenjreng (bukan memetik) ukulele. Entah apa lagu yang mereka dendangkan. Yang pasti, itu lagu berirama Melayu. Gue juga agak kurang yakin, antara ST12, Hijau Daun, atau The Bagindas. Namun, ada yang membuat gue sedikit terkesima. Seorang pemuda gondrong, mungkin seumuran gue, menyenandungkan nada yang agak gue kenal. Sambil terus berjalan, gue sedikit mengkonsentrasikan telinga kiri gue ke arahnya. “Tapi aku tak pernah mati. Tak akan berhenti,” ia menyanyi dengan suara yang lumayan merdu. Gue berhenti sejenak. Sambil menyalakan rokok, gue terus mendengarkan nyanyiannya. Di Udara adalah judul lagu yang dinyanyikan olehnya. Diciptakan oleh Efek Rumah Kaca sebagai persembahan kepada mendiang Munir untuk mengenang segala perjuangannya. Entah apakah ia mengerti arti dari lagu tersebut, gue nggak peduli. Yang pasti gue ingin menikmati sejenak alunan nada sejuk barang sesaat. Tanpa sadar, gue malah ikut menyanyikan sedikit liriknya. Duduk di atas jok motor, kaki kanan gue bergerak mengikuti irama lagu. Lima menit berlalu, gue sadar bahwa perjalanan harus dilanjutkan. “Aku bisa terbunuh di trotoar jalan…!!!, “ adalah sepenggal lirik yang gue dengar terakhir kali. Dan gue membatin, “Tapi aku tak pernah mati. Tak akan berhenti..!!”

Perjalanan yang terasa panjang akhirnya ditemani oleh suara si orang muda. Gue berhasil berduet dengannya, menyanyikan lagu yang sama terus menerus. Gue dan dia mengulang lagu yang sama sampai sekitar sepuluh kali. Sampai pada akhirnya, gue berhasil menjejakan kaki di perempatan Kuningan. Lampu merah menyala untuk mobil dari arah Kuningan. Dengan terburu-buru, gue berlari sambil menjalankan motor untuk menyeberangi jalan. Tapi, tiba-tiba lampu dari arah Pancoran (arah kedatangan gue) mendadak berubah menjadi merah. Artinya, mobil dari arah Kuningan mendapat giliran untuk meneruskan perjalanan. Mulut gue langsung berteriak sambil menyanyi, “Aku bisa terbunuh di prempatan Kuningaaaannn…!!!”. Tapi, maaf mengecewakan lo semua. Gue masih sehat walafiat sampai sekarang. Puji Tuhan. Sambil menunggu lampu rambu mengijinkan gue untuk meneruskan perjalanan, gue kembali berkaraoke ria, masih dengan lagu yang sama. Seorang petugas polisi menghampiri gue. Dengan rompi hijau menyala, ia mendekati gue.

“Kenapa, Mas?,” suaranya terdengar parau. Mungkin akibat menghisap terlalu banyak debu jalanan.

“Ban belakang bocor, Pak,” balas gue sambil melemparkan senyum.

“Udah jalan darimana? Kok, keliatannya capek bener,” pak polisi kembali bertanya sambil memperhatikan kepala gue yang memang sudah basah gara-gara keringat.

“Dari Cawang atas, Pak. Tukang tambal ban gak ada yang buka,” kembali gue melemparkan senyum lelah. Di kepala gue masih terngiang-ngiang nada “Di Udara”.

“Buseeettt….!!!,” pak polisi tampak benar-benar terkejut dan gue cuma bisa tersenyum. “Di seberang masih buka, tuh. Kamu ke sana aja. Sini saya bantu.”

Ia dengan percaya diriya langsung maju dan mengangkat tangannya untuk memberhentikan arus lalu lintas sejenak dan menyuruh gue maju. Arus lalu lintas kebetulan memang telah berangsur-angsur sepi seiring semakin meningginya bulan sabit. Gue diantar olehnya ke tukang tambal ban. Kompresor oranye itu masih bersandar di dekat pohon. Tulisan “TAMBAL BAN” dengan cat tembok putih menghiasi badan sampingnya. Dua orang polisi, empat tukang ojek, satu penjaga warung, dan satu tukang tambal ban sedang mengobrol dengan intensnya. Pak polisi itu memanggil sang penyelamat malam gue dan memberikan info soal bocornya ban gue. Lalu, ia mengajak gue untuk ikut duduk sambil mengobrol bersama tim wacana pinggir jalan. Pak polisi itu memberitahu temannya bahwa gue sudah menuntun motor ini dari Cawang atas sampai Kuningan. Temannya yang sudah melepas seragam kebesaran dan hanya memakai kaus coklat berlambangkan POLRI, dengan serta merta bertepuk tangan sambil tertawa dan memuji gue.

“Emang, kalau uda jam segini udah pada tidur semua. Cuman di sini doang yang sampe pagi.”

Ucapannya itu langsung ditimpali dengan suara tawa yang semakin nyaring. Gue juga ikut terpancing untuk tertawa. Akhirnya gue ikut mengobrol dengan tim wacana tersebut. Dari masalah premanisme, terorisme, Anggodo-isme, Susno-isme, sampai kepada pelajaran mengenai seks di rumah. Yang terakhir kurang gue dengarkan karena memang itu adalah pembicaraan orang tua, sedangkan gue kan masih kecil (dengan gaya sok lucu). Paradigma-paradigma dari orang berbeda sedikit membuka wawasan gue mengenai hal-hal sosial. Dan ini membuktikan bahwa memang pelajaran tidak hanya didapatkan dari bangku sekolah. Mulai dari Patung Dirgantara yang menunjukkan letak Bandara Halim Perdanakusumah, keceriaan anak kecil di tengah keterpurukan, si pengamen muda idealis, sampai pandangan para polisi yang bersatu dengan para kaum menengah ke bawah. Namun, sayangnya, ban motor gue sudah berhasil ditambal. Alhasil, gue bisa segera pulang dan meninggalkan pelajaran-pelajaran jalanan. Sembari mengucapkan terima kasih kepada semuanya, gue langsung tancap gas dan menuju rumah tercinta. Sepanjang jalan, kembali gue berduet dengan si pengamen.

“Ku bisa tenggelam di lautan, aku bisa diracun di udara, aku bisa terbunuh di trotoar jalan. Tapi, aku tak pernah mati. Tak akan berhenti.”

The Death of Tovalzky

Tovalzky terlahir pada di bulan Juni 2001. Tidak ada data mengenai tanggal kelahirannya. Umurnya pada saat ini adalah kurang lebih 8 tahun 11 bulan. Ia meninggal kemarin, 13 Mei 2010. Tidak ada data mengenai penyebab kematiannya. Tovalzky telah menjadi teman sepermainan saya sejak ia dilahirkan. Walaupun berumur jauh lebih muda dari saya, ia memiliki sebuah pemikiran yang jauh lebih matang dibandingkan saya. Cara berpikirnya yang lebih dewasa terkadang membuat saya kagum. Saya belajar banyak darinya. Segala perkataannya sering kali saya cermati dan saya simpan, lalu saya cerna sebaik mungkin. Tidak semua dari apa yang ia sampaikan adalah benar, namun tidak dapat dipungkiri, ia adalah kutub selatan dari diri seorang Andreas Surya Pratama. Namun, sikap emosionalnya kerap menganggu. Si Sumbu Pendek, kerap saya memanggilnya seperti itu. Bila egonya terganggu, kerap ia langsung meluapkan segala amarahnya tanpa memperhatikan sekitarnya. “Membabi buta,” ayah saya pernah menyebutnya seperti itu. Tovalzky tidak menyalurkan segala emosinya lewat pebuatan, melainkan perkataan yang seringkali menyakitkan lawan bicara. Namun, sayalah yang pada akhirnya maju untuk ikut bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Dan ia menghilang tanpa jejak begitu saja. Tanpa terima kasih. Tanpa berpamitan. Sendirian, saya kerap memohon maaf atas segala yang ia hancurkan. Saya sendiri maklum, dari segi umur memang ia masih kecil. Emosi labil, kata salah seorang teman saya. Belum mempunyai full-control terhadap diri sendiri.

Tapi, sikapnya yang terus menerus mengganggu orang lain, tidak bisa saya tolerir lagi. Saya sudah lelah mempertanggung jawabkan apa yang tidak pernah saya perbuat. Titik dimana saya bilang “cukup” telah saya lewati. Akhirnya, kami sering bertengkar, memperdebatkan segala jenis kelakuan dan perlakuan yang sudah mencapai batas normal. Memang, ia sering membela saya di saat-saat saya mengalami kejatuhan dan juga kemunduran. Tapi, saya ikut hadir di situ. Saya tidak lari dari masalah. Tidak seperti dia, yang kerap kali kabur ketika saya sedang membelanya mati-matian. Ketika pertengkaran memuncak dan tak bisa lagi diselesaikan dengan kata-kata, akhirnya saya mencapai sebuah kesepakatan. Tidak mungkin kami beradu fisik, karena masing-masing dari kami menyadari bahwa adu pukul bukanlah jalan terbaik. Kami sepakat akan satu hal. Salah satu dari antara kami harus mati. Ya. Mati dalam arti harafiah. Saya mengambil sebilah pisau dapur dari laci di dekat lemari peralatan dapur. Saya meletakkan pisau itu di meja makan. Kami berdiskusi dengan kepala dingin, tentang siapa di antara kami yang harus mati. Diskusi itu pada akhirnya tidak mencapai titik temu sesuai dengan yang kami harapkan. Kedua kepala mempunyai segala argumen yang mampu membantah teori masing-masing. Akhirnya, kami sepakat. Argumen hanyalah sebuah bentuk idealisme yang setia melingkupi sikap egosentris. Kenyataan hanyalah dapat diterima dan dimengerti melalui keikhlasan hati.

Ia pun bertanya pada saya, “Apakah engkau ikhlas kehilangan aku?”.

“Jika pertanyaan itu aku berikan padamu, apa jawabmu?”

“Ya. Aku ikhlas.”

“Ya, aku pun seperti itu,” jawabku gemetar.

Tanganku segera menyambar pisau itu dan menghujamkannya tepat di perutku. Ia hanya menatapku. Sikapnya tetap tenang. Tak ada kepanikan di matanya. Tovalzky yang ku kenal. Tidak akan pernah berubah. Matanya yang kelam masih menatap dalam, sampai noda darah yang perlahan membasahi pakaiannya. Ia memegang perutnya yang telah dibasahi darah. Sebuah luka sayatan besar terus-menerus dialiri darah hitam kemerahan. Aku hampir menangis melihat kejadian itu. Tapi, ia tetap tersenyum kecil. Sambil mengangkat tangan kanannya ia berbisik, “Teruslah hidup. Jangan berlari. Namun, berjalanlah tanpa henti.” Seketika itu juga ia jatuh terbaring bersimbah darah. Aku hanya bisa memandangi tubuhnya yang terbujur lemas, tanpa bisa berbuat apa-apa. Tak mau berbuat apa-apa. Kematian Tovalzky bukan untuk dikenang, bukan juga untuk ditangisi.

Our First Trip (II)

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang luar biasa melelahkan, kami bisa menikmati sebuah pemandangan yang menyejukan hati. Dari atas jalanan yang cukup tinggi, kami melihat jajaran pohon kelapa yang berbaris rapi seakan melambai-lambai menyambut kedatangan kami, para penikmat liburan jahanam dari Jakarta. Bung Evan segera membuka kaca jendela mobil, diikuti oleh saya dan para penumpang lain, mencoba menangkap aroma air laut yang dihembuskan oleh angin panas. Yup. Tentu saja indera penciuman kami tidak menangkap aroma apa pun. Malahan udara teriklah yang menerpa wajah-wajah lelah kami. Alhasil, semuanya terdiam dan jari telunjuk kami otomatis menekan tombol untuk kembali menutup kaca jendela. Nampaknya, perjalanan masih cukup lama. Bung Evan kembali fokus menatap jalanan yang berkelok-kelok. Sempat terpikir untuk menawari bung Evan untuk bertukar posisi. “Don’t even think about it..!!,” bung Evan berkata dengan kekuatan telepatinya.

Tiba-tiba, jalanan yang berkelok-kelok itu hilang, diikuti dengan jalan lurus yang terkadang menanjak dan langsung menukik turun. Ketika menemukan sebuah tanjakan yang sedikit tajam, bung Evan langsung teringat akan memori masa kecilnya bermain Niagara-gara di Dunia Fantasi. Bung Evan spontan menginjak pedal gas sedalam-dalamnya hingga titik tertinggi dan membiarkan sang mobil untuk terbang lepas tanpa kendali dan langsung menuju turunan curam yang membuat seolah jantung berhenti berdetak. Menurut saksi mata, mobil yang saya tumpangi sukses terbang beberapa centimeter. Sempat terpikir untuk segera mengambil alih kemudi dan menendang bung Evan keluar.

Tak beberapa lama kemudian, akhirnya kami bertemu dengan sebuah gapura besar yang dijaga oleh empat orang sosok berseragam coklat. Ah, inilah awal sebenarnya dari liburan kami. Setelah membayar segala pungutan (tidak liar, tentunya) sejumlah Rp. 7.000,- (mencakup lima orang Rp. 1000,- dan mobil Rp. 2.000,-), mobil kami terus mengikuti alur perjalanan. Sedikit tanjakan, sedikit turunan, disertai beberapa lubang besar sialan, menemani kami hingga sebuah pemandangan yang terlihat indah. Hamparan pasir putih, ditemani suara deburan ombak seakan benar-benar menyambut kami. Sejak dari gapura, kami terus membuka jendela, mencoba menangkap aroma laut yang kali ini benar-benar kami dapatkan. Angin terik bercampur dengan aroma air laut sepertinya berhasil menghipnotis kami. Rumah-rumah warga berbaris rapi di kedua sisi jalan. Beberapa warga terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Dan beberapa anak muda setempat, dengan percaya dirinya, berkelok-kelok mendahului mobil kami dengan motor bisingnya. Memang benar apa yang dikatakan Bung Rhoma. “Darah muda, darahnya para remaja. Yang selalu mencari celah, tak pernah mau mengalah.” (apa hubungannya?)

Tak lama kemudian kami berhenti di persimpangan jalan. Di depan kami, telah terhampar pasir putih yang terus menerus diterjang ombak dari arah laut. Senyum kami semakin mengembang. Air liur kami pun ikut menetes. Berhenti sejenak untuk menentukan arah selanjutnya, akhirnya kami berbelok ke arah kanan, menuju perhentian terakhir. Jalanan yang cukup hancur berantakan, disertai dengan debu yang bisa membuat Anda terkena serangan Bronchitis, menghantarkan sisa-sisa semangat yang hampir padam. Beberapa warung remang-remang di kiri kami masih menutup dirinya. Di sebelahnya, tembok-tembok dan puing-puing rumah masih tegap berdiri. Kami menduga-duga apa yang terjadi dengan rumah tersebut dan membayangkan betapa ngerinya tembok-tembok tersebut di malam hari tanpa pencahayaan yang cukup.


Setelah mencari-cari, akhirnya kami menemukan tempat penginapan kami. Sebuah pondok yang cukup luas untuk menampung sepuluh perantau jahanam ini. “Pondok Adi”, sebuah papan tertulis dengan huruf yang cukup kecil untuk dibaca, disertai tanda panah yang mengundang kami untuk masuk ke dalam. Bung Evan perlahan namun pasti membelokkan sang mobil ke dalam gerbang dan segera memarkir kendaraan. Disusul rombongan bung Davin di belakang, kami segera turun dari mobil dan menanyakan dimana kami akan menghabiskan tiga hari dan dua malam di pantai ini. Setelah mendapat kepastian dimana kami akan tidur, dengan segera kami menaruh (cenderung melempar akibat rasa lelah yang berlebihan) semua perlengkapan ke dalam kamar. Ada dua kamar di pondokan tersebut. Yang satu menghadap keluar dan bersebelahan dengannya, menghadap ke belakang, disertai dengan satu ruangan tamu/keluarga, kamar mandi yang sangat bersih, dan tempat cuci piring. Beristirahat sejenak, bung Felix, bung Charlie, non Verra, dan non Melinda setuju untuk membeli ikan di pasar (Melinda belum tidur selama 24 jam. Gak tau tuh ngapain aja semaleman). Dan jiwa petualang bung Davin pun muncul. Tanpa banyak cing-cong, mengajak saya, bung Albert Muljopranoto dan bung Hesarandi Goodman untuk segera menuju pantai, meninggalkan bung Evan dan non Chefia yang sedang membereskan barang-barang di pondokan.


Ujung Genteng - Our First Trip (I)


Perjalanan menuju Pantai Ujung Genteng kami mulai pukul 07.00 pagi, meleset dari jadwal awal pukul 05.00 karena keterlambatan salah satu anggota peserta. Berangkat dari daerah kisaran Jakarta Barat, kami menembus sepinya tol dalam kota. Sepuluh orang, yang dibawa dengan dua mobil Avanza dan Xenia, mengalami liburan bersama untuk pertama kalinya. Semangat untuk menikmati indahnya pantai tidak lagi bisa terbendung. Dengan digawangi dua sopir handal, yaitu bung Christopher Davin dan bung Evan Tanswari, tanpa disertai dengan istirahat ataupun ganti pengemudi akibat terlalu membaranya jiwa liburan, kedua mobil serupa tapi tak se-merek ini terus melindas aspal panas akibat matahari yang terus-menerus menerjang Jakarta hingga daerah Jawa Barat.

Tujuan awal kami adalah melintasi kota Sukabumi dan Pelabuhan Ratu, karena kebetulan bung Evan sedikit mempunyai pengalaman karena pernah melintasi jalur-jalur menuju pantai yang masih terbilang private ini. Terima kasih kepada teknologi yang bernama BlackBerry yang sedikit membantu perjalanan kami. Namun, bukan GPS-lah yang digunakan, melainkan teknologi SMS (hape gw juga bisa). Yap, dibantu dengan informasi melalui SMS mengenai arah yang harus dituju, kami terus menelusuri jalan-jalan asing luar kota. Dimulai dari ramainya pasar hingga terjalnya jurang yang seakan mengundang keingintahuan kita untuk beranjak sedikit menengok dan mengukur kedalamannya dan tingginya tebing bergantian di sebelah kiri dan kanan kami. Saya, yang kebetulan satu mobil dengan bung Evan (bersama bung Charlie Wicaksana, bung Hesarandi Goodman, dan (gw bingung panggilannya apaan) non Chefia Calayo), sempat menawari untuk bertukar posisi sebagai pengemudi. Namun, dengan tegasnya bung Evan berkata, “Gak usahlah. Nanggung.” Baiklah saya turuti saja, dan pada akhirnya saya pun tertidur akibat kurangnya jam berhibernasi semalam sebelumnya. Akibatnya akan ada di akhir perjalanan ini. J

Singkat cerita akhirnya saya terbangun. Dan kami menemukan sebuah scenery yang cukup indah seperti keadaan di puncak, tapi ini setidaknya jauh lebih indah. Akhirnya kesempatan ini kami gunakan untuk berfoto sejenak sambil melepas lelah. Mobil kami menepi diikuti mobil dari bung Davin (yang beranggotakan bung Albert Muljopranoto, bung Felix Wantan, non Melinda “Psixi” Puspitadewi, dan non Verra Wijaya). Bung Evan dan bung Albert segera mengeluarkan peralatan perangnya. Sebuah sniper dengan daya tembak 1.500 meter. Ni mau ngebunuh Presiden Amerika apa liburan ke pantai, sih?. No, kidding. Bung Albert dan bung Evan mengeluarkan kameranya diikuti dengan bung Davin yang juga mengeluarkan kamera pocket-nya. Foto-foto narsis a la alay dan abege labil pun dimulai. Dengan mengambil pemandangan gunung yang tertutup sedikit kabut (atau awan, entahlah) kami terus berfoto ria sekaligus melepas sedikit penat dan kebas akibat duduk terlalu lama. Sepuluh sampai lima belas menit berselang, akhirnya kami kembali ke mobil dan meneruskan perjalanan yang masih tersisa sekitar lima atau empat jam. Jalan yang meliuk-liuk bagai ular betina (?) pun kembali menghipnotis. Saya menawari kembali bung Evan untuk bertukar posisi dan kembali ia berkata, “Udah nanggung, Black.” Baiklah. Saya pun kembali tertidur.

Tertidur selama kurang lebih tiga puluh menit cukup membuat saya fit. Namun, lima menit kemudian, perut kami akhirnya diisi oleh grup keroncong yang mendendangkan Bengawan Solo (maksudnya laper). Sepakat untuk kembali berhenti sejenak bila bertemu rumah makan, kami terus menelurusi jalan yang tampaknya sudah mulai menurun. Tak terasa, jam digital di dashboard sudah menunjukan pukul 11.47. Bengawan Solo pun kembali mengalun dengan derasnya. Tampaknya sang konduktor (bahasa awamnya: Dirigen. Dirigen bukannya buat bawa air? Itu jerigen. Ah, disini XL gak dapet jerigen. Itu jaringan. Damn..!!! Kok malah becanda, sih..?? Bete, aaaahhh….) semakin bersemangat untuk memainkan lagu keroncong yang satu ini. Akhirnya, kami kembali merapat di sebuah warung baso kecil di pinggir jalan, demi mengisi para cacing-cacing biadab. Disertai canda tawa dan sedikit tingkah laku yang keterlaluan, kami akhirnya memakan dengan lahap daging-daging bulat itu, tanpa menyadari pucatnya warna baso itu. Bung Evan, dengan gaya khasnya bertanya kepada si ibu penjaga warung mengenai jarak yang masih harus ditempuh oleh kami. Janji-janji manis membuat kami kembali bersemangat kembali. Ya, sekitar 2 jam lagi kami sampai di tempat tujuan. Kami segera kembali ke mobil masing-masing, sesuai dengan rombongan awal. Tanpa lupa membayar, tentunya. Dan sang ibu pun mengelus dadanya. Tanda kelegaan yang begitu mendalam setelah ditinggal para pengembara jahanam dari Jakarta Barat. Mobil kami pun kembali melaju kencang supaya dapat mencapai tempat tujuan sesegera mungkin. Kembali saya menawari bung Evan untuk berganti posisi. Kali ini ia pun berteriak, “BAWEL, LO..!!!” Kali ini saya tidak tertidur seperti sebelum-sebelumnya.

(end of part I)

Metal Hammer » Blog Archive » Your Guide To Download’s 22 New Bands

Metal Hammer » Blog Archive » Your Guide To Download’s 22 New Bands

Does exactly what it says on the tin! Get Download 2010 tickets here!

Last night, Download announced a whopping 22 band that we ran a fine tooth-comb over so that we could bring you this definitive guide to what you can expect at this year’s Download festival!

Steel Panther – After a sold-out tour of the UK, Steel Panther will be bringing their fun-filled set to Download for the second year running. We hope they’ve got some new jokes by June. It’s all starting to get a bit Bo Selecta, innit?

Best track: Party All Day (Fuck All Night)

HIM – Having graced the cover of a recent issue of Metal Hammer and released their best album since ‘Love Metal’ (yes, it is, because we say so), HIM are a welcome addition to the Download bill. It’s been a while since Ville graced Donington with his presence and now that he’s cut out all of the off-stage debauchery, he’ll actually be able to sing properly. Hurrah!

Best track: Buried Alive By Love

Saxon – Valiant defenders of the faith and giving the tr00 metal contingent something to wave their swords in the air about. They also played the very first Donington Monsters Of Rock festival 30 years ago. Respect is due. They’ll be playing their Wheels Of Steel album in its entirety.

Best track: Motorcycle Man

Airbourne – Yeahbourne! One of the greatest live bands on the circuit and with a kick-ass new album, the Aussie hellraisers will be the ultimate band to down a pint to and lose your fucking mind! One of the top 10 bands you could book on a festival today, no doubt.

Best track: Blonde, Bad & Beautiful

Coheed & Cambria – When you need a presence onstage to capture the hearts and minds of tens of thousands of people, there’s only one thing that can do the trick – a massive barnet. Oh and loads of awesome prog-tinged rock anthems to go completely nuts to. That’ll do nicely.

Best track: Welcome Home

36 Crazyfists – A massive welcome back to one of our favourite bands in the whole wide world. 36 Crazyfists are guaranteed to slam out 45 minutes of non-stop anthems to get the pit bouncing like Tigger on disco biscuits. Let’s fucking do this!

Best track: Slit Wrist Theory

Dillinger Escape Plan – Option Paralysis is one of the best albums of 2010 and their shows at the Camden Barfly were two sets that reaffirmed your love for inventive, forward-thinking music. This isn’t opinion, it’s fact. The Dillinger Escape Plan are coming to Download 2010. you’d better bring a tin helmet.

Best track: Setting Fire to Sleeping Giants

Dommin – Rock music that’s in touch with it’s emotion. Slayer fans have just vomited blood but it’s actually pretty decent. Fans of HIM will have just caught them on their UK tour and it was allegedly pretty killer. You can see it for yourselves on the main stage on Download Sunday.

Best track: My Heart, Your Hands

Taking Dawn – 80’s hair metal revivalists Taking Dawn may not be bringing anything new or revolutionary to the table, but what they lack in originality, they make up for in big tunes. They’re yet to make their UK live debut but we’ll be casting our beady eyes on them on the upcoming Airbourne tour.

Best track: Time To Burn

Unearth – Showcasing some of the best beatdowns to ever grace heavy music, Unearth are not only one of the best live bands to have ever come from metalcore, they’re one of the best bands in live music. Miss these guys at your peril.

Best track: Black Hearts Now Reign

Cinderella – Having just played their first live show in 3 years, 80’s bluesy-rockers Cinderella will be looking to continue the classic rock vibes that worked so well at Download 2009. It’s also their first UK show since 1903. Well, it’s been ages. You know what we mean.

Best track: Gypsy Road

A Day to Remember – One of the biggest success stories of the past 24 months, ADTR have seen their star rise and rise down to an ability to combine some of the catchiest choruses around with brutal beatdowns. These guys are going to go supernova in the next 12 months, catch them while you can.

Best track: I’m Made of Wax, Larry, What Are You Made Of?

Lawnmower Deth – Nottingham’s veteran thrashers and owners of the greatest band name in the history of all time. If they bring their cover of the Osmand’s ‘Crazy Horses’ to the party, shit is going to go off.

Best track: Flying Killer Cobs From The Planet Bob

Whitechapel – Fresh from the road supporting Trivium, Whitechapel’s metallic assault is a hybrid of metalcore and deathcore that’s won them a lot of new admirers as of late. They’re also named after the London borough that’s the 2nd cheapest on the monopoly board. You’re welcome.

Best track: Possesion

August Burns Red – One of those cult bands that have a serious amount of credibility more than a fanbase in numbers. They slayed it with Lamb Of God earlier this year and BMTH last year. One more time won’t hurt us, will it?

Best track: Meddler

Ratt – 80’s hair metallers will turn up, sport massive hair and play ‘Round And Round’. What more do you want? FYI Gill says that their new album is pretty good too.

Best Track: Round And Round (what else?)

The Blackout – They’re nice guys. They’re actually really funny when you get to know them. We’re not convincing you, are we? It’s that pink streak he had in his hair and the photos of him biting his bottom lip that did it, isn’t it? When you put it like that, we can’t argue with you.

Best track: Children Of the Night

We Are the Fallen – The Irish girl from the year before last’s American Idol and that bloke who used to be in Evanescence’s new band. The Idol girl’s pretty hot and her husband has got tattoos on his face. That’s pretty metal, right?

Best track: Bury Me Alive

HellYeah – Vinnie Paul rides his hard rockers into Donington for the second time. Their second album is coming up this summer and we can’t wait for that sucker to drop! Hell yeah? Hell fucking yeah!

Best track: HellYeah (There’s a theme emerging here).

Y&T – Formed in 1974, Y&T specialize in hard rock/heavy metal. They’ve released 11 studio albums and 3 live albums. We definitely haven’t just taken this from their Wikipedia page.

Best track: Summertime Girls

Rise to Remain – Rising British metalcore crew that continue to garner more attention and praise as each month passes. Big response at hammerfest and on their recent run with Trivium. We almost got through this without mentioning that Austin is Bruce Dickinson’s son, didn’t we? Dammit.

Best track: Purify

Job For A Cowboy – Regulars at Download, Job For A Cowboy still rank amongst the most influential bands within deathcore. Their ‘Genesis’ album blew the doors open for the likes of The Black Dahlia Murder and Trigger the Bloodshed to reach new sets of eyes and ears.

Best track: Reduced To Mere Filth

Bands confirmed for this year’s Download festival thus far: AC/DC, Aerosmith, Rage Against The Machine, Them Crooked Vultures, Deftones, Stone Temple Pilots, Bullet For My Valentine, Stone Sour, Megadeth, Motorhead, HIM, Airbourne, Steel Panther, Billy Idol, Lamb Of God, Volbeat, Five Finger Death Punch and many, many more to still be announced. Get Download 2010 tickets here!

Posted using ShareThis