Catatan Tentang Teman (I)

Manusia adalah seoonggok daging yang berdiri di atas tulang-belulang, berisikan roh dan jiwa serta dilengkapi dengan akal budi dan pikiran. Konon (jangan dibaca terbalik), manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini. Dahulu, ketika Allah menciptakan dunia, manusia pertama pun hadir di dunia. Adam (bukan suami Inul yang berkumis riang gembira tersebut), tercipta dari debu dan tanah, lalu diberi nafas kehidupan oleh-Nya. Tapi, Tuhan pun sadar bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian. Pada akhirnya, Ia pun menciptakan seorang teman bagi Adam. Dibentuk dari tulang rusuknya ketika tertidur lelap dan dibentuknyalah pendamping yang sepadan baginya. Teman yang bisa menemaninya. (Kej 2:22)

Dari alinea pertama yang agak-agak berbau rohani tersebut, gue bisa mengambil sedikit kesimpulan bahwa, Tuhan mentakdirkan kita untuk hidup selalu bersama dan berdampingan dengan orang lain. Tuhan terang-terangan menyediakan Hawa bagi Adam, karena Ia tidak menemukan teman yang sepadan untuknya. Ya, iyalah. Masa’ Adam disuruh main bola bareng gajah, panjat pinang lawan simpanse, atau bahkan balap karung sama burung onta. Hewan-hewan tersebut tidak sepadan dengan Adam karena, mereka adalah seonggok daging yang berdiri di atas tulang-belulang dan hanya berisikan roh tanpa jiwa, akal budi, serta pikiran. Hewan adalah makhluk hidup yang bergerak berdasarkan insting. Jelas tidak cocok bila diajak curhat bareng. Pernah ngebayangin Adam duduk di atas batu sambil ngedongeng di depan hewan-hewan? Kalo lo pernah membayangkan hal barusan, berarti lo terjebak dengan cerita Tarzan atau Mowgli, si anak hutan yang mampu berkomunikasi dengan binatang. Non-sense, lah.

Maka dari itu, Tuhan berbaik hati membuat teman bagi Adam. Tulang rusuk yang diambil ketika Adam tertidur, dijadikan manusia baru yang akan menemaninya dalam segala hal. Walaupun pada akhirnya mereka jatuh ke dalam dosa akibat makan buah terlarang dari pohon terlarang yang mempunyai akar terlarang, yang tentunya dilarang oleh Tuhan <= Ngerti kalimat barusan? Kalo ngerti, kita lanjut. Kalo nggak ngerti, berarti lo gak pernah mendengar cerita soal Adam-Hawa. Okeh, kita kesampingkan soal dosa-dosaan. Yang pengen gue sedikit bahas sebenarnya adalah soal pertemanan. Karena, dari pengalaman kemarin, mata hati, mata pikiran, dan mata batin gue akhirnya bisa terbuka. Gue berani menarik kesimpulan, bahwa apa pun yang lo lakukan di dunia ini sama sekali gak bisa lepas dari yang namanya “Teman”.

Setelah gue sedikit browsing dan googling, gue mendapatkan definisi teman. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, atau yang biasa disingkan KBBI, kata “Teman” berarti… Gue copas aja, dah. Biar lo pada bisa langsung ngerti. Teman (n): 1 kawan; sahabat: hanya -- dekat yg akan kuundang; 2 orang yg bersama-sama bekerja (berbuat, berjalan); lawan (bercakap-cakap): -- seperjalanan; ia -- ku bekerja; 3 yg menjadi pelengkap (pasangan) atau yg dipakai (dimakan dsb) bersama-sama: ada jenis lumut yg biasa dimakan untuk -- nasi; pisang rebus enak untuk -- minum kopi; 4 cak saya (di beberapa daerah dipakai dl bahasa sehari-hari): tiada -- menaruh syak akan dia;
usahlah -- dimandi pagi, pb tidak usah kamu lebih-lebihkan (kaupuji-puji).

Kalo lo bisa liat, nomer satu sampai tiga bener-bener menggambarkan dan setidaknya berhasil mendefinisikan arti teman. Gue coba tulis sekali lagi, deh. Teman adalah kawan, sahabat, orang yang bersama-sama bekerja, dan juga menjadi pelengkap serta pasangan. Jadi, kecuali lo mengalami gangguan jiwa akut dan penganut paham anti-sosial, setiap manusia butuh seorang teman sebagai pelengkap dan pasangan dalam melakukan kegiatan untuk bekerja bersama-sama. Hal tersebut terpapar jelas pada pengalaman gue beberapa hari kemarin, tepatnya tanggal 8 sampai 11 September 2010. Mengajukan diri sebagai tim advance untuk acara kemping gereja, fisik gue sedikit banyak diuji di acara tersebut. Siang, sekitar jam 2an, gue sampai di lokasi tempat pelaksanaan acara. Setelah

sebelumnya nyasar beberapa jam selama perjalanan (sampe masuk ke pusat kota Sukabumi), gue dan para anggota tim advance akhirnya bisa berkumpul. Mereka saat itu masih ngebuat tiang buat tali jemuran. Tiga tiang bamboo didirikan dan dipasang tali setinggi dahi gue. Gue gak sempat ngebantuin gara-gara pegalnya pantat akibat terlalu lama duduk di jok mobil. Gue harus sedikit mengurai syaraf-syaraf kusut di pinggang gue. Setelah sedikit reda, akhirnya gue bisa ngebantuin masang instalasi listrik dan lampu. Dengan bantuan alat canggih luar biasa yang gue bawa dari rumah (bernama test-pen), lampu-lampu di tenda pun akhirnya menyala dengan terangnya. Jujur, gue melewatkan aksi

para anggota tim untuk mendirikan tenda peserta, bikin tiang jemuran, serta setengah kegiatan untuk masang instalasi listrik. Tapi, yang penting, tugas sudah hampir selesai. Dan, buat tambahan, hampir di kamus gue mempunyai sinonim “Tidak”. Gak setuju? Gue kasih contoh kalimat: “Andreas hampir menabrak nenek buta di pinggir jalan.” Pertanyaan yang mau gue ajukan: “Apakah nenek buta itu ditabrak oleh Andreas?” Jawabannya adalah… Biar lo sendiri yang ngejawab.

Setelah gue bersantai ria karena menganggap kerjaan uda selesai. Tim advance dan beberapa tim pengisi acara ketawa-ketiwi dan malah memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak kami pikirkan. Tanpa sadar, awan hitam yang menggantung di belakang bukit perlahan-lahan naik dan berjalan pelan menuju tempat kami mengadakan acara. Gerimis ringan seolah memberi kami tanda untuk segera bersiap-siap. Tapi, yang namanya anak muda, yang penting santai dulu, lah. Yang penting tenda uda kepasang, listrik uda nyala, tiang jemuran udah aman. Selesai perkara. Di saat kami belum menyadari apa arti awan hitam yang menggantung itu, tiba-tiba hujan deras langsung mengguyur tempat itu. Deras, sederas-derasnya dan dingin, sedingin-dinginnya. Kami masih bertahan di tenda terpal putih beralaskan terpal plastik silver itu, yang jika terpal itu dibalik akan menjadi terpal plastik berwarna silver. Ngerti? Nggak? Wokeh, lanjutkan. Dan seketika itu juga air menggenang di sekitar tenda platoon. Banjir yang sedikit banyak tidak gue harapkan di hari pertama ini. Akhirnya, beberapa anggota tim advance pun bergerak dan berinisiatif untuk membuat selokan atau saluran air di kitaran tenda platoon. Bersenjatakan dua cangkul dan satu linggis, tiga anggota tim advance langsung mencangkul-cangkul tanah basah yang sudah digenangi air hujan. Gue yang awalnya ragu akhirnya ikut turun tangan buat ngebantuin mereka. Damn..!! Air hujan Sukabumi lebih kejam dari ada air hujan Jakarta. Dinginnya bikin semaput. Ditambah gue yang hanya memakai sehelai kaos putih dan celana pendek kotak-kotak, tanpa mengenakan jas hujan. Kegiatan cangkul-mencangkul dimulai. Dengan cipratan-cipratan lumpur dan tanah basah, gue dan bersama beberapa yang lain masih berusaha di tengah terjangan derasnya air hujan. Selokan itu pun akhirnya berhasil dibuat mengelilingi tenda platoon. Akhirnya, hujan pun reda. Tanpa gue sadari, tubuh gue bergetar, menggigil kedinginan, yang lama kelamaan gak bisa dikendalikan lagi. Rahang gue terus-terusan bergetar tak terkontrol, dan sisa dari anggota tubuh yang lain akhirnya menyerah juga. Sekujur

tubuh gak bisa berhenti untuk bergigil-ria di tengah semprotan udara dingin. Sinting..!! Hampir semua para laki-laki yang menjadi anggota tim advance basah kuyup, malah ada yang nekad bekerja sambil membuka baju di tengah siraman shower alam. Sinting..!! Bener-bener sinting..!! Sebatang rokok sedikit membuat badan dan paru-paru gue terasa hangat. Sedikit, cuma sedikit.

Akhirnya malam pertama itu kami tutup dengan makan nasi, indomie, kornet, sarden, dan sawi putih racikan masing-masing anggota tim advance. Makanan, yang belum tentu bakalan gue

makan di Jakarta karena amburadulnya cita rasa, pada akhirnya habis dilalap oleh perut-perut keparat yang kelaparan akibat dinginnya hujan. Tim advance dan tim pengisi acara turut berandil besar dalam menghabiskan hampir satu dus indomie dan beberapa liter beras. Malam berkabut itu terasa begitu hangat. Dilingkupi orang-orang gila yang kelaparan dan hampir tidak kenal lelah, badan yang menggigil ini akhirnya terhangatkan kembali. Suara tawa lepas akibat salah meracik bumbu terdengar begitu menggema. Yah, malam pertama gue bersama orang-orang yang berhasil melepas kepenatannya selama di Jakarta.

Puisi-puisi Lailatul Kiptiyah

Perpisahan

ketika satu persatu di antara kita telah berangkat lebih dulu. melambaikan doa perpisahan seiring jalannya roda. menebarkan wangi kembang menyelubungi tubuh kereta. dan hanya menyisakan peron sunyi dan bangku-bangku lengang.

kemudian kita menunduk berkerudung duka. menangisi arak-arakan waktu yang telah kita kerandakan, tanpa lebih dulu dimandikan. dengan taburan wewangian kelopak sujud yang semestinya bisa kita petik, dari hamparan taman luas jiwa-jiwa zuhud

ketika rombongan kafilah pernah sejenak singgah, masih terngiang di telinga kita senandung gurun. walau kibaran jubah mereka telah lama menghilang, di balik kabut gunung.

lalu sudahkah kita seksama mendengar gumaman para ruh. melepaskan sebutir ruku’ dari untaian lima waktuNya, adalah sebuah perpisahan.
yang paling jauh…

Jakarta, 17 Juni 2009

Meratapi sebuah negeri

pohon-pohon telah tumbang
keadilan habis di tebang
kerontang bumiku

suara-suara terbekap
tangisan tak lagi mengucur
terbenam di kedalaman lumpur

kemana jalannya para nurani
terlampau jauhkah mereka berpaling
dari paras Sang Maha Tinggi

dan jika surat kejujuran
berbalas undangan dakwaan
bagaimana seharusnya berkirim kabar kebenaran

keletihan panjang
wajah-wajah berjuang
di negeri ini
pertautkan kami dengan kesabaran
di antara jeruji-jeruji kemiskinan
Jakarta, 24 Juni 2009

Dukacita

lalu kuhirup wangi tawamu lewat sudut mata
yang masih menyimpan sedikit lelah
selepas mengantar langkahmu
menyusuri tepian hulu
menuju ke sebuah muara

bayang-bayang mentari pun masih terjatuh
menerpa daun-daun kemuning yang melingkupi pusara
melagukan gemerisik lirih tembang-tembang kedatangan
oleh hembusan dingin angin utara
dan menyeru kerumunan burung-burung
yang tengah mencecapi bebatuan
melucuti senyap
menyesapi ratap
dari relung dada kita

lalu dari sudut ruang dukacita
hendaklah kita mampu melepas
seberkas makna
dari rerimbun kerlip kenangan
tertanam di kisaran-kisaran waktu
yang terus mengekalkan butiran warna dan kejadian

bahwa sejatinya kehilangan itu
tak pernah ada
karena memang kita tak pernah
memiliki apa-apa

Jakarta, 14 Juni 2010

Pada sebentuk rindu

kaukah itu , yang musim kemarin mendatangiku
berdiri di kejauhan
menari dalam iringan
denting irama hujan

lalu kulihat angin singgah
menggugurkan kelopak dan daun-daun
meninggalkan lanskap tak beraturan
pada sebidang tanah yang basah
menupang pokok-pokok pohon

terdengar lamat suara memanggil
seperti sekelebat bayangan
terlahir dari nyanyian
dalam ayunan gending-gending
bermusim-musim kemarin

akh, musim yang memekarkan semak-semak rindu
bagai usapan jemari ibu
mengukirkan guratan tawa
di ruang keluarga kita

Jakarta, 09 Juni 2010

Bayang

mengapa tak kau datangi saja malam
bukankah ia yang selalu meredam seribu tangisan
di dasar matanya yang kelam

atau kau berbincang dengan kerumunan gemintang
bercerita tentang sekerlip kunang-kunang
berputar menyusuri rawa-rawa
barangkali ia terjatuh dari puncak gugusan
dan sedang mencari jalan pulang

ah, sedih itu masih berbayang
berjuntai menutupi sudut ruang kenang
dan musim terasa sangat lamban
berjalan…

Jakarta, 17 Juni 2010

Dalam kehilangan

aku telah sangat kehilangan
ketika pijak terlambat kupahatkan
pada pelataran pagimu
yang wangi
pada langit cintamu
yang tanpa tepi

sedang malam telah jauh berselisihan
dengan embun-embun putih di rerumputan

sungguh aku dalam ketakutan
hingga jiwa ini kuyup gemetar
bilakah kau uji cinta ini hingga luruh terbenam
di laut kehilangan yang tanpa dasar

duhai kekasih…
mekarkan nafasku yang basah
dan mencintaimu di hamparan tanah

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim
Ya Rabbana Ya Karim Ya Adzim…

Jakarta, 16 Ramadhan 1431 H


Bidata penulis:
Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar,Jawa Timur. Mencintai dan menulis puisi sejak di bangku SD tapi hanya untuk dinikmati sendiri. Baru sejak tahun 2007 bergabung dengan beberapa komunitas sastra di Indonesia maupun di Malaysia hingga sekarang. Salah satu puisinya mendapatkan penghargaan Hescom 2009 di sebuah Situs Sastra Malaysia. “Dan puisi itu sungguh mengayakan hati….” begitu prinsip hidupnya.

Sumber: Kompas (http://bit.ly/ajbFUE)

Pelayanan Adalah Bentuk Kemerdekaan

“Merdeka adalah bebas dari penjajahan. Merdeka adalah bebas berekspresi. Merdeka adalah bebas dari pembedaan suku, agama, dan ras. Indonesia adalah negara merdeka. Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Selamat ulang tahun Indonesia. Dirgahayu Indonesiaku.”

Tulisan-tulisan di atas adalah beberapa ucapan dan definisi idealis yang dapat saya temukan di situs twitter ketika saya membukanya tepat pada pukul 00.00 pada tanggal 17 Agustus. Para twitterian (sebutan saya bagi para pengguna twitter), terus-menerus mengetikkan untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 65. Laman twitter saya tidak henti-hentinya bergeser ke bawah menampilkan pesan-pesan bernada idealis untuk Indonesia. Mereka terus melancarkan kritik pada Indonesia, pada warganya, dan juga pada pemerintah. Namun, ada juga yang memberikan pesan dan mendefinisikan arti kata “Merdeka” menurut ide mereka masing-masing. Tulisan-tulisan berbunyi nasionalis pun tak kalah banyaknya. Bahkan, ada yang menulis dalam Bahasa Inggris. Kira-kira bila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia bunyinya adalah, “Mungkin Indonesia tidak akan bangga terhadapku. Namun, aku tidak punya alasan untuk tidak bangga terhadap Indonesiaku”. Berbeda-beda (Bhinneka), namun tetap menuju ke satu kesimpulan dan tujuan (Tunggal). Bangga dan cinta terhadap Indonesia yang seharusnya telah tertanam dalam hati kita, selaku Warga Negara Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah semboyan yang penuh arti. Tak salah bila kata-kata yang diambil dari bahasa Sanserketa kuno itu menjadi semboyan Negara Indonesia. Bila diterjemahkan satu persatu, kata-kata tersebut akan bermakna, Bermacam-macam (Bhinneka) Satu (Tunggal) Itu (Ika), yang bila diartikan secara keseluruhan akan berbunyi: Bermacam-macam Itu Satu. Kata-kata inilah yang pada akhirnya menggerakan kami, para Orang Muda Katolik dari Gereja Maria Bunda Karmel untuk berani melakukan sebuah pagelaran demi memperingati acara Ulang Tahun Indonesia yang ke 65. Ide ini tercetus pada tahun lalu di daerah Cibubur, di Bumi Perkemahan. Melalui ide tersebut, gerombolan anak-anak muda ini memulai rapat-rapatnya. Pendapat-pendapat dari banyak kepala terus-menerus dilempar. Pada akhirnya keputusan untuk mengadakan sebuah acara besar pun disetujui. Dimulai pada tanggal 15 Agustus sebagai acara pembuka yang menyajikan bazaar yang menyajikan makanan-makanan khas Nusantara disertai lomba-lomba tradisional, seperti balap karung dan makan kerupuk, dan ditutup dengan sebuah acara musik dengan tema Pelangi Nusantara yang
menampilkan bakat-bakat dari beberapa wilayah dan juga beberapa bintang tamu.

Perjalanan panjang menuju sebuah tujuan final tersebut diwarnai dengan berbagai emosi. Mulai tangis, tawa, amarah, sampai sedih terpapar semua di sepanjang jalan yang harus kami lalui. Perbedaan-perbedaan pendapat sering dan selalu mengisi pertemuan ini. Namun, yang saya sadari, perbedaan itulah yang pada akhirnya membuat kami menyatu dan mampu berjalan bergandengan, bersama menuju sebuah mimpi yang ingin dicapai. Berbagai masalah tidak dapat
digambarkan lagi seperti batu kerikil di perjalanan kami, tapi seperti rangkaian kawat berduri, tebing yang menantang dan onggokan batu cadas di depan mata yang harus kami gunting, panjat, dan hancurkan. Lelah dan bosan bukanlah suatu alasan untuk berhenti menggapai mimpi. Sisi emosional dari setiap pribadi yang terselip malah mewarnai dinamisme dalam kepanitiaan. Semangat yang tercurah, seolah menjadi bahan bakar untuk terus maju menggantikan cucuran keringat dan luka di hati.

Memasuki bulan Agustus, kepanikan menyerang kami. Segalanya yang terlihat telah sempurna berubah drastis. Kami seolah harus memulai segalanya dari nol. Dikejar waktu, dengan sisa-sisa tenaga, kami terus
berpacu melawan waktu. Segala kekurangan segera dilengkapi. Setiap detil yang terlihat buruk, segera disempurnakan. Dana yang kurang mencukupi, dipenuhi dengan segala daya upaya. Dekorasi dikebut dengan mengumpulkan tenaga-tenaga cabutan. Anggota-anggota panitia yang menghilang, dipanggil kembali untuk melengkapi tim kecil kami. Di tengah kepesimisan kami akan mimpi yang tergolong luar biasa ini, kami terus berdoa memohon segala perlindungan, petunjuk, dan berkat dari Tuhan. Dan memang Tuhan tidak pernah tidur. Dia menolong kami dalam setiap usaha. Tangan-Nya seolah menyapu bersih segala halangan-
halangan besar. Tabir kepanikan yang melingkupi, perlahan mereda dan menghilang. Pikiran jernihlah yang kami perlukan saat itu.

Pada akhirnya, rangkaian acara kami pun berjalan dengan lancar. Dimulai dari Bazaar yang menjual berbagai macam produk dan juga beberapa makanan. Lalu sedikit diselipi oleh lomba-lomba tradisional yang cukup popular, seperti tarik tambang, balap-karung, sampai makan kerupuk. Dan akhirnya ditutup dengan sebuah acara seni untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Wajah-wajah lelah tergambar jelas di masing-masing panitia, namun secercah pancaran kepuasan seolah menutupi peluh dan keringat. Sebagai anak muda, para panitia telah memperlihatkan tekad kuat dalam merayakan kemerdekaan sekaligus semangat pelayanan tanpa pamrih yang luar biasa. Terima kasih anak-anak muda Katolik Gereja MBK. Semoga kalian bisa menjadi penerus dan tulang punggung gereja Katolik. Namun, perjalanan kalian belum selesai sampai disini. Tetap semangat.

Musikalitas Pribadi

Siapa yang nggak suka musik? Siapa yang nggak pernah ngedengerin musik? Berani taruhan, seluruh warga di seluruh dunia pasti suka dan selalu mendengaran musik. Dengan banyaknya jenis dan genre yang ditawarkan, masing-masing pribadi memiliki musik yang cocok dengan personalitasnya
masing-masing. Tak terkecuali gue. Walaupun sejak lahir sudah dicekoki musik anak-anak, seperti “Balonku”, “Bintang Kecil”, dan lagu anak-anak lainnya yang sangat mudah dihapal, gue baru merasakan keindahan musik ketika gue pertama kali menonton Bondan Prakoso. Lagu “Si Lumba-Lumba” dan “Si Hitam” begitu melekat di memory gue. Apa lagi dandanan Bondan yang sangat laki-laki di jamannya. Menurut pandangan seorang bocah SD, jaket hitam, celana jeans, ikat kepala, dan sepatu kets Nike Dunk, adalah sesuatu yang pantas ditiru. Bermula dari situ, akhirnya gue sedikit intens mendengarkan musik. Lalu, sosok Michael Jackson pun muncul di televisi. Dengan tarian khas dan lengkingan suaranya, gue pun semakin jatuh cinta kepada musik. Seluruh warga SD Providentia mulai dari kelas 3 sampai kelas 6 terjangkit virus Michael Jackson. Menirukan gerakannya dan menggumamkan lirik lagu (yang mereka sama sekali tidak mengerti artinya) adalah pemandangan umum di beberapa kelas. Gue pun ikut-ikutan ber-moon-walker ria, walaupun pastinya ancur-ancuran. Saat itu gw masih kelas 5 SD. Di akhir tahun kelas 6, sebuah sekumpulan cowok-cowok asal USA nongol di televisi. Mereka menamakan dirinya Backstreet Boys. Gue kembali beralih kepada cowok-cowok ganteng ini. Dengan lagu-lagu hit yang menyuarakan cinta dan cinta dan cinta, mereka berhasil menarik jutaan penggemar. Gue sempat menjadi idolanya. Salah satu hardcore fans yang terus terbawa sampai gue menginjakkan kaki di SMP Sang Timur. Gak sedikit juga penggemar BSB, singkatan Backstreet Boys, di sekolah baru gue. Dengan paras menarik, BSB sama sekali gak menemukan kesulitan untuk menggaet massa cewek-cewek ABG.

Era kecintaan gue pada BSB berubah seketika ketika gue bertemu dengan Dipha Barus, seorang pelaku musik hebat di jaman gue SMP. Mengajak gue untuk ikut latihan band di studio Dizzy, gue didapuk untuk ngisi posisi vocal yang kosong.

Gue inget banget, lagu pertama yang gue nyanyikan adalah Radja dari /Rif. Menyanyi asal-asalan, tiba-tiba gue dapet pujian dari kakak kelas yang waktu itu ikut di dalam studio, “Suara lo keren juga, Blek.” Wow! Thanks berat, Kakak. Gue lupa nama dari si kakak kelas. Tapi, berkat pujian tersebut, akhirnya gue didapuk jadi vokalis. Kisah selanjutnya dalam sejarah musik gue berjalan sangat menarik. Setelah hampir setiap hari sepulang sekolah latihan tak kunjung henti, akhirnya tiba lah band gue untuk perform di atas panggung. Waktu itu, Auditorium MBK masih disebut sebagai Aula MBK, dan masih mempunyai tangga yang benar-benar mengantarkan kita ke “dalam” Aula. Aula saat itu masih punya, gue gak tau sebutannya apaan, tapi gue bakal sebut, jorokkan ke dalam. Sejenis palung. Pokoknya, jaman-jaman Aula belum direnovasi sedemikian rupa kayak sekarang lah. Gue lupa event apa yang dirayain SMP Sang Timur saat itu, dan banyaknya musisi dari kakak kelas membuat gue gemetar. Grogi. “They are doing some kind of great shit,” pikir gue waktu itu dari belakang aula. Malam sebelumnya, gue latian sampai menjelang maghrib di BSD, di rumah salah satu teman yang sekarang memutuskan untuk tetap memainkan musik The Beatles. Bayu namanya. Formasi band gue saat itu adalah Willy di drum, Dipha bassist, Bayu dan gue berperan sebagai vokalis, dan gue sedikit lupa siapa yang mainin gitar. Tapi, kayaknya Bastian, deh. Menyanyikan “Piknik 72”, jujur sejujurnya gue masih ingat apa yang gue rasakan saat itu. Lutut gue mati rasa, kepala gue melayang-layang serasa vertigo, dan telapak tangan gue dingin sedingin-dinginnya. Dan lagu pun selesai. Turun dari panggung, kakak kelas gue, yang juga kakak dari Marco, tiba-tiba melemparkan pujian, “Suara lo keren, Blek..!!”. Bodohnya, gue cuman bisa nyengir gak jelas dengan mata gue yang terbengong-bengong. Thanks, menjadi kata yang bisa keluar dari mulut gue. Itu pun dengan volume yang sangatlah kecil.

Akhirnya, beranjak ke SMA, dan gue kembali ke Providentia, gue bertemu dengan teman-teman lama yang ternyata juga punya hobi yang sama. Musik. Dan aliran gue di sini pun kembali berubah. Genre rock seakan menghipnotis gue. Karena, di jaman gue SMA sepertinya kebanjiran vokalis dan kekurangan drummer, akhirnya gue mendeklarasikan diri sebagai drummer terhebat. Well, ketika di langit tidak ada elang, belalang pun akan berteriak, “Akulah Elang..!!”. Dengan skill yang najis, gue mampu beradaptasi dengan teman-teman rocker gue. Dimulai dari memainkan musik Limp Bizkit, Korn, dan lagu “Stranger By The Day”, perjalanan musik gue terus mengalir. Lagu-lagu rock, khususnya brit-rock, ikut mewarnai sisi musikalitas gue. Sampai akhirnya, gue bertemu dengan beberapa teman dari masa lalu, Dennis, Kenjin, Albert, dan beberapa teman baru seperti Tomcun, Erik Neri, dan Edwin. Dengan mereka, gue berhasil menemukan jati diri permusikan gue. Rage Against The Machine, Deftones, dan Muse adalah band-band yang sering kali gue mainin di dalam studio. Hentakan beat kejam dengan scream dinamis membuat gue semakin tenggelam dalam indahnya melodi gitar metal. Akhirnya gue memutuskan bahwa ini adalah personalitas gue.


Sekarang, gue mendengarkan segala musik. Tanpa membedakan jenisnya. Pop, rock, dangdut, keroncong, jazz, atau apa pun itu, gue akan selalu mendengarkan kalau enak didengar di telinga. Malahan sekarang ini, gue lagi jatuh cinta sama yang namanya musik Soul dan Blues. BB King, Eric Clapton, dan beberapa musisi blues menjadi teman gue dalam mengerjakan segala pekerjaan sehari-hari. Dan anehnya, sekarang ini gue mengalami sulitnya tidur malam. Bukan insomnia. Tapi, karena faktor kelelahan. Tubuh gue yang terlalu capek akan terasa sangat-sangat pegal dan akhirnya berhasil menahan rasa kantuk gue. Gue mencoba untuk tidur sambil menempelkan ear-phone dengan alunan musik blues atau jazz yang berirama menghanyutkan. Hasilnya? Gagal total..!! Gue malahan berkhayal buruk soal pekerjaan yang belum kelar dan dikejar dateline. FUCK..!! Dalam kondisi putus asa, akhirnya gue menyetel “Shattering The Skies Above” dari Trivium. Dan lo semua bakalan kaget. Lagu metal ini berhasil membuat gue tidur nyenyak sampai gue gak bisa dibangunin sama nyokap gue buat berangkat kerja. Sleep like a bear. Besok malamnya, jam 9 malam, gue coba untuk tidur lagi. Ketika alarm weker sudah menunjukan pukul 10:13 pm, gue akhirnya kembali menyalakan iPod dan memainkan “Shattering The Skies Above” lagi. Gak butuh waktu lama. Cukup 1 ½ lagu Trivium tersebut (gue memasang mode repeat song) dan gue terhempas ke alam mimpi. Akhirnya, gue punya lagu lullaby yang di luar ambang kewarasan. Temen gue di twitter pun sampai heran, “Lagu kayak gitu jadi lullaby?”. Well, mau gimana lagi? Memang kenyataannya seperti itu. J

Perjalanan musikalitas gue belum berhenti. Berawal dari “Bintang Kecil”, Bondan Prakoso, Michael Jackson, Bacstreet Boys, Naif, Pure Saturday, Traktor Derek, Oasis, Muse, BB King, dan Trivium, gue meyakini bahwa ini sama sekali belum berakhir. Dan gue merasa nama-nama vokalis dan band yang gue sebutkan di atas telah mempresentasikan apa yang ada di dalam diri gue. Apa yang bersembunyi di balik emosi gue. Kalau gue boleh mengambil kesimpulan pribadi, mungkin seorang Andreas adalah seorang yang punya sisi romantic ala Backstreet Boys, namun bebas bergerak bak tarian MJ dan ingin tampil beda tanpa mempedulikan pendapat lainnya seperti Naif dan Pure Saturday. Punya hentakan hidup dinamis dengan racikan khas Traktor Derek. Dan berani menyuarakan perlawanan dengan gaya Muse dan melawan semua perlakuan yang menunjukan ketidak adilan terhadap gue seperti yang tertulis dalam setiap lirik Trivium. Ya. Musikalitas gue menunjukan siapa gue.

People are who they are listening.

Predators


Predators menjadi film terakhir yang gue tonton. Dengan segala reputasi yang telah dibuat film ini, dimulai dari film pertama yang dibintangi oleh sang governator, Arnold Schwarzeneger, yang bersetting di hutan dan film kedua dibintangi salah satu aktor yang menjadi side-kick Mel Gibson di Lethal Weapon, Danny Glover. Setelah itu, dibuatlah duology Alien vs Predator, yang menyatukan dua tokoh terbesar dalam satu film dan bertarung satu sama lain. Akhirnya, di tahun ini dibuatlah film yang menceritakan Predator kembali. Bukan prequel. Bukan pula sequel. Film ini adalah sebuah film baru yang diproduseri oleh Robert Rodriguez. Dengan tokoh utama, dibintangi oleh Adrien Brody, sekelompok pesakitan berjuang untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan makhluk-makhluk keji yang membunuh satu per satu para manusia. Tempat peperangan dikembalikan ke hutan belantara, namun tidak di bumi. Para survivor diceritakan dibuang ke sebuah planet. Mereka berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Mulai dari mercenary (tentara bayaran), pembunuh, gangster Yakuza dan mafia Mexico, sampai seorang dokter (yang pada akhirnya cuma dokter-dokteran). Mereka semua dijatuhkan dari angkasa oleh sebuah pesawat misterius ke tengah-tengah hutan yang seolah tak berujung dan dipaksa menjadi buruan para alien pemakan daging ini. Ya. “Para” pemakan daging. Kalo boleh gue bocorin sedikit, para Predator kali ini ditemani oleh beberapa anjing piaraan, sebuah makhluk aneh, dan Predator itu sendiri yang berjumlah empat (kalo gue gak salah hitung).

Hampir 30 menit dari film yang berjalan kira-kira 1 jam 45 menit ini berjalan sedikit membosankan. Obrolan-obrolan mengenai serangan-serangan misterius, alasan mengapa mereka yang dipilih, atau siapa yang menculik mereka, terus-menerus digulirkan sepanjang menit-menit pertama. Penonton dipaksa untuk menikmati awal-awal film yang lama-kelamaan menjadi sedikit membosankan. Adegan pertarungan dengan makhluk aneh pertama akhirnya disajikan. Makhluk aneh berkaki empat dengan tanduk-tanduk yang tumbuh dari badannya menyerang para survivor. Tembak-tembakan dan kejar-mengejar dengan alur kamera cepat membuat adrenalin sedikit terangkat. Beberapa scene menegangkan juga ditampilkan. Tapi, ada satu hal yang membuat gue sedikit heran. Dengan banyaknya survivor yang berlatar belakang militer, masakan membunuh makhluk aneh ini harus dengan ratusan peluru? Dan ketika makhluk ini berjalan mendekati sang calon korban, seharusnya dengan senjata otomatisnya ia mampu menembak di bagian-bagian krusial makhluk tersebut. Tidak dengan Adrien Brody. Ia terus menerus menembaki musuhnya tanpa mengenai sasaran dan tanpa mengenai bagian yang dapat menyebabkan kematian, yang seharusnya sudah diketahui oleh seorang prajurit. Walaupun pada akhirnya makhluk ini pun mati.

30 menit berikutnya, para survivor ini (minus Danny Trejo yang lagi-lagi mendapat peran numpang lewat) akhirnya bertemu dengan seorang sepuh di tanah Predator. Sudah sepuluh musim ia lewati dengan menyelamatkan diri dari serangan para Predator. Kembali, dialog-dialog membosankan mengalir dengan perlahan. Diperankan oleh Laurence Fishburne, survivor yang satu ini terus-menerus bercerita mengenai segala kelemahan dan kemampuan para predator. Ia juga menjelaskan jenis-jenis predator yang ada di luar sana. Ada perbedaan namun tidak kasat mata. “Seperti membedakan anjing dengan serigala,” katanya. Namun, Laurence Fishburne pun ternyata membuat twist yang sedikit mencengangkan dan perannya di situ tidak sebesar Morpheus di Matrix. Mudah terlupakan. Twist-nya sendiri terkesan maksa. Seharusnya Fishburne menjadi cameo dibandingkan peran aneh di film ini.

Akhirnya, pertempuran dengan Predator pun terjadi. Adrien Brody berjuang mati-matian demi kabur dari planet terkutuk itu. Satu-persatu mereka mati. Darah segar tidak ragu-ragu ditumpahkan oleh Rodriguez, baik itu merah ataupun hijau. Kepala Predator yang terpenggal pun ditampilkan secara brutal. Namun, kematian para manusia dipresentasikan berbanding terbalik. Saya agak kecewa di bagian ini. Gak adil. Masa’ Predator ditampilkan dengan kematian vulgar, sedangkan para manusianya malahan tersensor. Atau, Lembaga Sensor Indonesia yang tidak berkenan? Ah, sudahlah. Tapi, kematian brutal para Predator menjadi satu-satunya hiburan saya di film ini. Brody pun sebenarnya cukup cocok untuk memerankan jagoan di film ini. Wibawanya terlihat. Sayangnya, ia sangatlah untouchable. Kurang manusiawi. Dengan melalui pertarungan sengit, setelah melewati beberapa twisted story yang tak cukup twisting, akhirnya Brody berhasil memenggal kepala sang Predator. End of story. With no conclusion and untwisted twist story.

Oh, iya. Anyway. Arnold Schwazenegger tampil di film ini, loh. Tapi, hanya melalui cerita ketika para survivor jatuh dari air terjun. Just listen to the girl’s story. It’s gonna make you remember how The Gorvenator survive the Predator.

Sang Pejantan Tak Bertaji

Akhirnya, tim nasional Perancis terpaksa pulang lebih dulu akibat hasil kurang memuaskan yang didapat dari tiga pertandingan kualifikasi grup putaran final Piala Dunia 2010. Banyak pendukung Perancis harus gigit jari akibat hasil mencengangkan ini. Bukan hanya pendukungnya, bahkan bandar-bandar judi sempat terheran-heran, walaupun mereka berhasil mengeruk untung dari penampilan buruk Perancis. Pada pertandingan awal, mereka berhasil ditahan imbang dengan skor kacamata oleh Uruguay. Dengan materi mentereng, mulai dari Nicolas Anelka, Franck Ribery, sampai Patrice Evra, tim ini sudah digadang-gadangkan akan meraih hasil yang optimal di Afrika Selatan. Namun, apa daya. Perancis, dengan title pemenang Piala Dunia 1998, dan runner up pada edisi 2006, ternyata tidak sanggup menghadapi tim Uruguay yang bermaterikan pemain biasa-biasa saja. Hanya Diego Forlan (Atletico Madrid) dan Luis Suarez (Ajax Amsterdam) yang punya nama mentereng, karena masing-masing membela sebuah klub besar Eropa. Seolah kehilangan roh permainan sepeninggal legenda sepakbola, yang juga salah satu pemain favorit saya, Zinedine Zidane, Perancis bermain sangat-sangat tidak meyakinkan. Nicolas Anelka pun juga kehilangan naluri mencetak gol. Berbeda dengan penampilannya di Chelsea, Anelka menjadi duet maut bersama dengan Didier Drogba. Ribery seakan-akan melengkapi penderitaan Perancis. Digadang-gadangkan sebagai pengganti Zidane, ternyata penampilannya masih belum mampu menyamai prestasi sang legenda hidup.

Masalah awal memang sudah tampak sejak awal. Perseteruan dalam tubuh tim memang menjadi sebuah duri dalam daging. Pelatih Raymond Domenech yang menerapkan kebijakan yang tidak bijak menjadi pertanda kurangnya wibawa untuk membawa tim ini sukses. Beralihnya ban kapten dari lengan Thierry Henry kepada Patrice Evra menunjukan sebuah kesalahan awal. Domenech belum mampu mendapatkan sosok kapten seperti Didier Deschamps, Laurent Blanc, dan juga Zinedine Zidane (terlepas dari insiden dengan Marco Materazzi). Henry sebenarnya adalah pilihan paling tepat, namun jarangnya mendapat kesempatan dalam starting line up di Barcelona membuatnya tersingkir dari first eleven Perancis. Apa mau dikata, akhirnya Evra lah yang harus mengemban tugas berat tersebut. Walaupun Evra sukses bersama Manchester United, tapi ia sama sekali belum bisa menanggung beban mental sebagai kapten.

Dalam sesi latihan pun, sudah terlihat jelas adanya kecemburuan tingkat tinggi di sini. Yoann Gourcuff menjadi korban pengucilan. Ribery, Anelka, dan yang lainnya menolak untuk berlatih berdampingan dengannya. Alhasil, Gourcuff pun hanya bisa mengobrol dengan Jeremy Toulalan selama menjalani sesi latihan. Alasan pengucilan ini adalah akibat adanya gossip (yang seolah menjadi nyata) bahwa Domenech amat teramat menganak-emaskan Gourcuff. Seburuk apapun penampilannya, nama Gourcuff dipastikan muncul dalam formasi awal. Berbeda dengan nama-nama lain. Perlakuan yang berbeda ini pastinya menimbulkan kecemburuan dari rekan-rekan setimnya. Namun, Domenech tetap cuek dengan protes para pemain ini.

Puncaknya, adalah ketika Perancis berhasil dikalahkan tim dari benua Amerika, yaitu Meksiko. Dua gol bersarang di gawang Lloris tanpa mampu dibalas. Nicolas Anelka yang bermain di bawah form akhirnya digantikan. Bukannya sadar dan memperbaiki performanya, ia malah memaki Domenech. “Son of a bitch!,” ia meneriaki sang pelatih tepat di depan mukanya. Otomatis, Anelka pun dipulangkan. Keadaan ini ternyata semakin memperburuk keadaan Perancis. Evra sebagai kapten mengadakan boikot besar-besaran. Ia mengajak seluruh pemain untuk tidak berlatih pada waktunya. Evra pun sempat beradu mulut dengan sang pelatih fisik. Akibatnya ban kapten berpindah lagi kepada salah satu pemain klub Arsenal, Alou Diarra. Kehancuran di tubuh Perancis semakin menjadi. Pada pertandingan selanjutnya, Perancis dipermalukan dengan dua gol dari Afrika Selatan. Mereka hanya mampu membalas lewat Malouda dan itu sama sekali tidak dapat menolong. Perancis tidak mampu lolos dari babak penyisihan grup. Gourcuff, si anak emas, semakin membuat terpuruk. Kartu merah yang didapatnya akibat menyikut salah satu pemain Afrika Selatan mempertegas keputus-asaannya. Kejadian ini diakhiri dengan penolakan Domenech untuk menerima jabat tangan dari pelatih Afrika Selatan, Carlos Parreira. Sungguh sebuah sikap kekanak-kanakkan yang seharusnya tidak ditunjukan oleh Domenech.

Persoalan ini sampai ke telinga para petinggi Perancis. Mulai dari Menteri Olahraga dan Menteri Keuangan (yang notabene tidak ada hubungannya dengan olahraga) berkomentar miring tentang kondisi internal tim nasional Perancis. Sang Menteri Olahraga meminta pertanggung jawaban sepulangnya mereka dari benua Afrika. Evra pun menyanggupinya dan mengatakan bahwa ia akan mengatakan segala masalah secara blak-blakan. Pesawat Boeing 737 yang dipesan untuk memulangkan Sidney Govou cs., akhirnya diganti dengan pesawat kelas ekonomi. Sebuah penghinaan menurut pandangan saya. Tapi, itulah sebuah bentuk pertanggung jawaban. Datang dengan pesawat jet carter, pulang dengan pesawat ekonomi. Dipermalukan dengan jelas.

Sekarang, tugas berat ada di tangan Laurent Blanc yang ditunjuk sebagai pengganti Domenech. Dengan pensiunnya Anelka, Blanc dipercaya untuk mencari pengganti talenta yang hilang tersebut. Namun, dengan karier yang mentereng (membawa Bordeaux menjadi juara Liga Perancis), ia diberi tanggung jawab untuk mengembalikan kejayaan Perancis. Setidaknya kembali mengangkat mental para pemain andalan yang sudah terpuruk. Blanc dengan segala reputasinya yang telah memenangkan Piala Dunia 1998 bersama Fabian Barthez dipercaya mempunyai tuah dengan menularkan kesuksesannya. Well, kita tunggu saja kiprahnya. Mudah-mudahan Blanc mampu melaksanakan tugasnya. Membawa sang ayam jantan kembali berkokok di kancah Eropa maupun Dunia.

Rantau

Ini adalah pengalaman kesekian kalinya gue ke bioskop sendirian. Tanggal 15 Juni ini, gue memutuskan untuk pergi ke salah satu bioskop besar di kota Bandung. Daripada gak ada kerjaan di rumah, lebih baik gue mengisi hari sepi gue dengan nonton film yang baru beredar di bioskop-bioskop di kota besar. Masuk di lobi Blitz, poster-poster digital yang ditampilkan akhirnya malah sedikit membingungkan gue. Karate Kid, Kick Ass, dan The A-Team adalah film-film dengan review yang sukses membuat gue penasaran. Okeh, akhirnya gue sedikit menganalisa jalan-jalan cerita per film.

KARATE KID

Dimulai dengan Karate Kid. Gue adalah salah satu orang yang beruntung di planet bumi ini karena sempat menonton versi terdahulunya. Dibintangi oleh bintang jepang, Pat Morita, film ini telah membuat trend tersendiri pada jamannya. Yang paling gue ingat adalah teriakan “AYAA..!!” yang selalu sang tokoh utama teriakan ketika melancarkan serangan-serangan terhadap lawannya. Namun, tanpa melupakan sebuah ciri khas yang sangat popular dalam film tersebut, adalah sebuah jurus yang menirukan seekor bango. Dengan tangan terentang seolah membentuk sayap dan kaki kiri yang tertekuk ke dalam, siap memberikan sebuah serangan telak kepada sang musuh. Dan, dengan slow-motion yang dramatisir, Daniel Larusso menendang lawannya dengan kaki kanan dengan keras. Tentu tanpa melupakan teriakan khasnya. Klimaks! Lawan terjatuh. Tak mampu melanjutkan pertandingan. Akhirnya, gerakan tersebut sukses membawa trend di kalangan anak SD tahun 90an. Di sekolah, gak sedikit yang menirukan gerakan bango tersebut. Tapi, efek yang massive tersebut akhirnya diredam oleh para guru. Gerakan tersebut dilarang keras dipergunakan di dalam sekolah gue karena dipercaya akan menimbulkan tindak kekerasan dalam sekolah. Hal yang sedikit menyebalkan buat gue dan teman-teman gue saat itu.

Sebersit kenangan itu akhirnya membuat gue membandingkan dengan film Karate Kid versi sekarang, yang tidak terlalu “Karate”. Dibintangi oleh Jackie Chan, yang notabene adalah ahli Kung Fu, film ini mengambil set di China daratan. Jayden Smith memerankan tokoh yang kerap menjadi korban bullying di sekolahnya, berlatih “Karate” demi membela dirinya di jalanan dan harus mengikuti sebuah turnamen. Alur cerita yang sama persis kalau gue lihat sekilas.

KICK ASS

Film ini adalah salah satu film yang sangat menarik hati gue. Sekelompok anak muda memutuskan untuk menjadi sekelompok super-hero di kotanya. Ide crita ini diambil dari sebuah buku komik yang, katanya, sukses besar di Amerika Serikat sana. Gue berpendapat bahwa film ini sangat menarik karena gue sebelumnya sudah menonton beberapa film yang diangkat dari komik, seperti Watchmen, 300, Sin City, dan yang terakhir adalah The Losers. Tentu saja tanpa melupakan jagoan-jagoan dari Marvel dan DC Comics, seperti Spiderman, Iron Man, Batman, dan lain-lain. Film terakhir yang gue tonton adalah The Losers yang memang, menurut pendapat pribadi, sangatlah bagus. Film tersebut tidak melepas jalan ceritanya dari komik itu sendiri. Hasilnya, adalah sangat luar biasa. Memang tidak ada twist-twist yang bisa membuat kita berpikir keras, tapi tetap saja jalan ceritanya tersaji sangat ringan namun benar-benar menghibur.

Dari pengalaman gue itulah, maka gue berniat untuk membeli satu tiket untuk film ini. Gambaran-gambaran lucu yang gue lihat dari trailer di Youtube sedikit mendorong gue untuk mengantri demi Kick Ass.

THE A-TEAM

Siapa yang tidak tahu B.A. Baraccus yang selalu ribut dengan Murdoch? Siapa yang tidak kenal Hannibal Smith, sang pemimpin nyeleneh eks veteran perang Vietnam? Siapa yang tidak jatuh hati kepada Templeton, sang perwira berwajah ganteng? Bagi seseorang yang mengalami era 90an, The A-Team adalah sebuah film seri aksi komedi yang berhasil membuat kita tergila-gila. Tergila-gila disini maksud gue adalah dalam arti harafiah. Ya. Kita benar-benar dibuat gila oleh aksi mereka berempat. B.A. Baraccus adalah seorang prajurit yang selalu ber-mood jelek. Marah-marah mulu. Sedangkan Murdoch adalah seorang yang dianggap gila, namun punya keahlian untuk menerbangkan berbagai jenis pesawat. Templeton Peck mempunyai keahlian untuk menyamar. Master of disguise yang sering menggunakan kemampuannya untuk masuk ke daerah musuh untuk mencuri data dan informasi pihak lawan. Dan yang terakhir, adalah Hannibal Smith. Otak dari segala aksi mereka. Mereka berempat seolah beraksi tanpa tersentuh lawan-lawannya. Ketika tertangkap dan dilucuti senjatanya, mereka mampu membuat senjata sendiri dari lingkungan sekitarnya. Dan senjata tersebut dapat digunakan untuk meng-counter segala serangan. Luar biasa!

Film seri ini juga mempunyai ciri khas. Tak ada kematian yang digambarkan secara vulgar. Di film serinya, tak ada darah yang ditampilkan dalam setiap aksinya. Tapi, dengan segala ketidak vulgarannya, The A Team berhasil membuat para penonton terpikat dengan kekonyolan dan kehebatan aksi para pemainnya. Jalan cerita yang ringan dan sedikit nyeleneh akhirnya berhasil mengundang tawa. Sejarah inilah yang membuat gue luar biasa tertarik dan merelakan Rp 30.000,- gue untuk diserahkan kepada penjaga loket (yang dengan lesung pipitnya membuat gue percaya pada “love at first sight”).

AKHIRNYA

Dan pada akhirnya gue memilih untuk menonton The A-Team yang akan dimulai pada pukul 17.00 tepat. Ini adalah pertama kalinya (mudah-mudahan untuk terakhir kalinya) gue melakukan aksi anti sosial di luar Jakarta, tepatnya di Bandung. Pengalaman yang menarik. Sepertinya gue bakal merindukan situasi seperti ini. Jalan-jalan sendirian, sempat tersesat gara-gara salah naik angkot, lost in translation a little bit dan sedikit menggunakan bahasa Sunda dengan logat aneh. Tapi, sedikit mengajarkan dan memaksa gue untuk bisa survive di tempat asing. Mudah-mudahan.

Jam netbook Axioo sudah menunjukan jam 5 kurang 10. Suara manis dari speaker pengumuman memberitahu gue untuk segera masuk ke dalam studio. Dan, gue masih dikasih kesempatan buat berpapasan dengan si penjaga loket berlesung pipi tadi. Senyum pun gue lemparkan dan… Dia cuma melengos. DAMN!!