The Edge [1997]

Apa yang terjadi ketika seorang jutawan/milyarder terkenal pada akhirnya terjebak di tengah hutan dan alam liar? Kisahnya dimulai ketika Charles Morse beserta istri (diperankan Elle MacPherson) dan rombongan mengikuti liburan di Alaska. Liburan mereka akhirnya berubah menjadi sedikit mencekam ketika salah satu orang kepercayaan Morse, Robert Green (Alec Baldwin) mengajaknya untuk mencari seorang Indian untuk dijadikan model fotonya. Morse, Green, dan satu rekan lainnya Stephen (Harold Perrineau) menjelajahi alam Alaska demi mencari sang Indian. Nasib tak memihak mereka, pada akhirnya pesawat amfibi yang mereka gunakan pun terlibat kecelakaan. Morse, Green, dan Stephen dipaksa untuk bertahan di alam liar. Dengan segenap pengetahuan yang dimiliki oleh Charles Morse, mereka diharuskan bertahan hidup di alam liar dan juga serangan beruang ganas pemakan manusia. Insting bertahan sekaligus intrik-intrik pengkhianatan tersaji hingga akhirnya sisi kemanusiaan mereka harus diuji sedemikian rupa. Milyarder tua yang menghadapi ganasnya alam Alaska.

Alasan gue menonton film ini adalah karena kehadiran Anthony Hopkins sebagai pemeran utama. Ditambah pula nama Alec Baldwin yang cukup mentereng pada jamannya. Awal-awal cerita, sosok Charles Morse berhasil dibawakan sedemikian rupa oleh Hopkins. Tokoh Green (Alec Baldwin) juga berhasil menjadi penyeimbang. Namun sesampainya di tengah-tengah cerita, gue merasa agak janggal dengan pembawaan Hopkins. Entah karena gue terbiasa melihat dan menonton dia di franchise Hannibal Lecter atau memang dia kurang cocok memerankan tokoh yang selalu dikelilingi orang-orang bawel sejenis Robert Green dan Stephen. Hopkins seolah kehilangan sentuhannya. Justru tokoh Robert Green-lah yang pada akhirnya berperan menonjol. Baldwin sedikit banyak berhasil menggambarkan secara maksimal tokoh tangan kanan Morse di perusahaannya. Hopkins lebih cocok berperan sebagai tokoh-tokoh yang berdiri sendiri tanpa terkelilingi siapapun. Lihatlah peran-perannya sebagai Hannibal Lecter atau Ted Crawford di film Fracture. Justru aktingnya sangatlah monumental di dua film tersebut. Sendirian melakukan apa yang dia pikirkan tanpa terpengaruh orang lain, justru orang-orang di sekelilingnyalah yang terpengaruh oleh daya magis ucapan-ucapan dan sikap-sikap maniaknya.

Jalan cerita di film ini terkesan standar tanpa kejutan apapun. Isu survival di tengah rimba tidak dibungkus dengan rapi walaupun banyak sekali pelajaran mengenai cara bertahan hidup di hutan yang diumbar di film ini dan rata-rata memang sebagian besar adalah benar adanya. Cara membuat kompas dengan jarum yang dibuat dengan magnet listrik statis, menentukan utara-selatan dengan melihat konstelasi bintang, dan pelajaran-pelajaran survivalisme lainnya. Isu mengenai pengkhianatan anak buah terhadap sang Bos pun terkuak di akhir cerita yang sejak awal-awal film memang dikembangkan. Inilah yang membuat cerita jadi sedikit berantakan. Apa yang mau dikemas? Survival di tengah hutan sambil melawan beruang Kodiak atau kepercayaan terhadap sesama?

Kalau Anda adalah salah satu penggemar berat Anthony Hopkins, mungkin sebaiknya Anda kembali menonton The Elephant Man sebagai penetralisir. Tapi, jika Anda memang ingin film-film hiburan ditambah pengetahuan cara bertahan hidup di hutan, film ini bisa dijadikan alternative.

Rekoleksi Sebuah Perdebatan Kaum Awam

Dua hari (6-7 Agustus 2011) gue mengikuti rekoleksi di St. Monica 2, Bogor. Perjalanan dimulai dari Jakarta, menembus tol menuju Bogor. Sedikit terhambat dengan kemacetan dan matahari yang masih setia menghangatkan bumi. Ini pertama kalinya gue mengikuti rekoleksi Komkep KAJ setelah dua tahun belakangan gue selalu digoda untuk tidak mengikutinya. Isi yang tidak begitu menarik dan klise adalah alasan yang sering keluar dari mulut para berpengalaman yang telah mengikuti rekoleksi ini sebelumnya. Gak ada ekspektasi apa pun dari gue dan gue memang tidak mempunyai pandangan apa pun. Hari pertama gue lewati dengan kesan yang biasa-biasa aja. Beruntung gue bertemu dengan rekan-rekan yang dalam waktu dekat langsung menjadi sahabat seperjuangan di dua hari nan pendek tsb. Beruntung di sana tidak ada warung yang menjual anggur merah cap Orang Tua karena masih masuk dalam bulan puasa.

Hari kedua, jam 6 pagi, dimulai dengan senam a la Warkop DKI dan dilanjutkan dengan senam penguin (yang asli, agak gak jelas tujuannya) serta ditutup dengan main bola bareng. Beberapa wajah urung terlihat karena baru tertidur jam 5 pagi. Mandi dan makan pagi, akhirnya sesi ketiga (dua sesi dari hari pertama gak gue jelaskan karena memang kurang berkesan buat gue) dimulai. Gue sedikit lupa dengan judul yang akan dibawakan pada sesi ketiga tersebut, tapi entah mengapa pada akhirnya sesi tersebut tiba-tiba menjadi sebuah perdebatan antara peserta dengan panitia. Semua berawal dari pertanyaan mengenai Pastor moderator yang kurang aktif, cuek, dan mempunyai sikap negative lainnya yang tidak mampu merangkul anak muda. Romo Yadi dan Kak Maria mencoba menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang terlontar. Gue agak lupa kenapa tiba-tiba ada perdebatan mengenai jatah 5% yang menjadi “hak” pengembangan anak muda. Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin berkembang dan terus berkembang. Dari yang memprotes ketidak-transparanan mengenai dana untuk anak muda sampai mereka yang menyanggah bahwa dana dari gereja (atau Dewan Paroki) memang tidak terlalu dibutuhkan untuk memandirikan anak muda. Sesi sharing berubah menjadi perdebatan alih-alih diskusi. Gue? Gue memilih cabut keluar dari ruangan. Debat yang gak jelas arah tujuannya semakin diperkeruh dengan penjelasan dari Komkep yang tidak menjelaskan secara tuntas yang akhirnya malah semakin memancing pertanyaan kritis dari berbagai paroki. Gue mendingan ngerokok sambil ngedengerin ocehan-ocehan yang udah sering banget gue terima dari pastor moderator gue di paroki.

Sesi ketiga ditutup (paksa) akibat keterlambatan jadwal. Gue melahap makan siang sambil mengobrol dengan beberapa teman. Ketertutupan dalam menjelaskan menjadi pertanyaan dari beberapa OMK. Persis seperti yang gue rasakan. Masih ada rasa ketidak-puasan dari segala penjelasan tersebut. Temen gue sempat berujar, “Judul pertemuan ini ‘REKOLEKSI’, tapi kenapa jadi kayak debat Parpol gini?”. Gue cengar-cengir sambil jawab, “Pertanyaan yang dijawab setengah-setengah bakal bikin perdebatan.”

Setelah foto bersama, akhirnya gue dan rombongan pulang dan kembali menuju Katedral. Rasa lelah menggantung di sekujur tubuh. Namun semangat perubahan tak pernah hilang dari diri. Sistem harus dibuat secara proporsional sehingga mampu berfungsi secara optimal. Sejujurnya, gue tidak mendapatkan apa pun dari Rekoleksi ini, kecuali penjelasan-penjelasan klise, teman-teman seperjuangan idealisme, dan rasa capek yang terlingkar di leher.

Maha Esa

Waktu itu, siang hari sebelum jam makan siang, gue berjalan terburu-buru. Resep yang seharusnya gue tebus kemarin sore terbawa pulang, menyelinap di kantong celana jeans gue. Gue berjalan agak cepat, kadang berlari kecil, sambil menghindari orang-orang yang berjalan pelan di depan gue. Kebetulan kamar rawat nyokap gue berlokasi agak jauh dari dari apotik di rumah sakit ini. Sepuluh menit perjalanan antara dua tempat itu. Sesaat kemudian, wangi obat-obatan semerbak tercium. Bebauan yang sangat familiar di seluruh koridor rumah sakit. Udah terlalu sering gue menciumnya. Akhirnya, gue pun sampai di apotik. Nomor antrean gue sabet, gue langsung menyerahkan tiga lembar kertas resep sekaligus, dua untuk hari ini dan satu untuk hari kemarin. Penjaga apotik pun sempat bingung, “Tiga resep, Mas?,” tanyanya ragu. Gue Cuma bisa cengar-cengir sambil mengangguk. Tanda terima resep berwarna kuning diberikan dan gue memutuskan untuk mengambilnya setelah lewat jam satu siang. Maklum, antreannya panjang gak keruan. Daripada gue bengang-bengong, mendingan gue balik ke kamar nyokap atau nyari makan siang. Gue pun berjalan melewati tempat-tempat duduk yang penuh terisi pasien atau penunggu pasien yang mau mendaftarkan Askes dan menunggu namanya dipanggil untuk menerima obat dari apotik tersebut. Gue nyempetin buat mampir ke kios majalah untuk beli tabloid “Bola”. Bahan baca-baca sekaligus buat ngilangin bosen. Sambil membaca berita-berita soal pertandingan Copa America, gue berjalan santai menyusuri lorong-lorong yang didominasi warna putih. Seorang petugas kebersihan lewat sambil membawa sekeranjang kain berwarna hijau. Ia menyapa beberapa temannya yang kebetulan berpapasan dengannya. Gue masih tetap membaca tabloid. Akhirnya gue sampai di kamar bernomor 108, tempat nyokap masih bergulat dengan penyakitnya, dan tanpa mengetuk pintu gue langsung menghambur masuk. Udara di luar memang cukup terik.

Begitu gue masuk, gue menemukan nyokap gue sedang dikelilingi oleh dua orang, pria & wanita. Sang pria berpakaian batik dan sang wanita memakai baju bermotif kain ulos. Keduanya telah menyentuh paruh baya. Ketika itu, mereka sedang berdoa dengan penuh semangat sambil menengadahkan tangan kanannya ke langit-langit ruangan dan tangan kirinya menggenggam Alkitab. Gue menutup pintu perlahan dan berdiri sambil menundukkan kepala. Lima menit kemudian akhirnya mereka selesai mendoakan nyokap. Gue langsung menyodorkan tangan dan memperkenalkan diri. Mengobrol sebentar soal riwayat penyakit nyokap, mereka pun akhirnya meninggalkan ruangan. Nyokap yang agak sumringah langsung manggil gue dan bilang, “Banyak banget yang doain Mama. Beda-beda agama pula.” Gue pun ketawa mendengar komentar nyokap. Memang sejak beberapa hari yang lalu sejak nyokap masuk rumah sakit, ada beberapa tim pendoa yang terus-menerus berdatangan secara rutin untuk mengunjungi setiap pasien sesuai dengan agamanya masing-masing. Yang bikin lucu, kenapa hampir setiap hari para pendoanya beda-beda agama melulu. Ah.. Mungkin ini akibat penyamarataan istilah “Kristen” dari manajemen rumah sakit supaya gak bikin bingung. Atau memang Kristen ini udah kebanyakan aliran dan hasilnya malah bikin bingung. Walaupun bikin bingung, tapi tetep gak bikin absurd, kok. Yang bikin absurd cuma dia seorang. *Lha? Malah galau.. -.-“

Nyokap gue memang gak pernah keberatan dengan berdatangannya para pendoa dari agama lain. Dia selalu menyambut mereka dengan tangan terbuka. Toh itu cuma doa. Ditujukannya sama kepada Tuhan. Kenapa mesti ditolak? Prinsip nyokap yang selalu gue pegang sampai sekarang. Gue dibesarkan dari kecil sebagai seorang pemeluk Katolik. Gue tumbuh dalam keluarga yang bernafaskan Katolik. Bokap selalu mendidik gue untuk menjadi penganut agama yang taat. Nyokap rutin mendongengkan gue dengan cerita-cerita indah dari Alkitab waktu gue kecil. Gue seperti dijejali fanatisme Katolik. Tapi, perjalanan merubah segala pandangan gue. Ternyata, nyokap-bokap gak pernah menjejali kepala gue dengan hal-hal berbau fanatisme. Ketika gue beranjak dewasa dan bertemu dengan dunia nyata, gue merasakan indahnya perbedaan. Berwarna-warni bagai pelangi. Waktu kuliah, gue suka banget nongkrong di musholla waktu istirahat jam 12 siang sambil ngobrol-ngobrol bareng temen-temen gue. Sampai pada akhirnya gue kepincut sama salah satu perempuan di sana. Eitss.. Bukan sesi curhat. Yang pasti, gue jadi lebih banyak mengenal apa itu agama-agama dan keyakinan di luar iman gue. Pengetahuan itulah yang membuat gue tidak langsung men-judge seseorang berdasarkan agamanya. Yang amat disayangkan, masih banyak orang-orang yang berlaku seperti itu. Miris.

Gue semakin merasakan keindahan hidup berdampingan tanpa ada sekat yang membatasi kita. Jangan mendirikan tembok tinggi di sekitar kita. Jangan jadikan agama sebagai tuhanmu karena Tuhan lebih besar dari agamamu. Mereka yang terjebak fanatisme dan akhirnya menyetujui semangat fasisme, adalah orang-orang yang tidak mampu dan tidak mau belajar. Dan akhirnya nyokap gue berkata pelan, “Jangan jadikan agama sebagai sekat. Kita makhluk sosial, saling berangkulan.” Yes, Mom. I get it. 

Dialog Subuh

Subuh ini, dibangunkan oleh suara pengajian menjelang adzan. Sungguh sebuah cara bangun yang sangat indah. Suara familiar di masjid seberang terus mengumandangkan ayat-ayat Quran. Sudah sejak SMA suara itu masih setia membangunkan gue dari mimpi. Ia, di seberang sana, seperti mempunyai ketetapan hati. Sebuah komitmen dlm keyakinannya untuk mengingatkan umat-Nya. Ia membayar cinta-Nya.

Suara kumandang adzan yg bersahut-sahutan dari satu masjid ke masjid yg lain berhasil memecah kesunyian pagi. Membuat riak menjelang fajar. Lampu-lampu jalanan masih menyala menerangi setiap jengkal ranah kehidupan. Suara kicau burung belum terdengar. Namun ia telah terduduk. Satu-persatu mereka memasuki ruangan kecil beralaskan karpet yg bergambar Kaabah. Wajah dan rambutnya basah. Siap berdialog dgn Sang Khalik. Kantuk masih menggelantung di lehernya. Mereka terduduk bersila, ber-salam2an dgn tangan-tangan yg dikenalnya.

Secercah senyum mendahului mentari. Seorang anak berjalan menyusuri gang kecil. Sarung motif kotak2 menutupi sekujur lehernya. Angin dingin di pagi hari terlalu kejam untuknya. Masih nampak lelah, namun pancaran sinar matanya sungguh bersemangat. Tak ingin kehilangan kesempatan berdialog dengan-Nya di hari pertama.

Suara lemah di pengeras suara telah memperdengarkan adzan. Percikan air dr keran yang menyala semakin ramai. Alas kaki mulai menumpuk di luar. Barisan rapi terbentuk. Si anak berdiri di antara para dewasa. Matanya tertutup rapat. Kaki telanjangnya basah. Terburu-buru tampaknya. Mereka menunduk. Khusyuk. Mereka sedang berdialog. "Aku cinta pada-Mu seperti Engkau cinta padaku. Kerahiman-Mu adalah mata airku."

Tersujud. Si anak kecil matanya masih terutup. Bibirnya bergerak pelan. Sebuah percakapan intim antara pencipta dan ciptaan. Pagi ini Indah.


~ 11 Juli, 2011. 4 a.m - 5 a.m. ~

Paradigma Sebuah Status

Di pojok Seven Eleven Taman Puring, hampir jam sebelas malam, gue dan tiga orang teman duduk sambil mengobrol. Sebotol bir untuk masing-masing berdiri tegak di meja bundar putih. Perbincangan dengan topik yang dimulai sejak pertemuan kami menyambut tahun baru 2011 kemarin di Pantai Sawarna kembali naik daun. Sebuah perdebatan kecil mengenai arti cinta yang tulus, cinta yang tak kenal pamrih, cinta yang hanya memberi namun tidak mengharapkan imbalan apa pun. Cinta yang sempurna ungkap teman gue kemarin. Dia mengandaikannya dengan sebuah persamaan cinta Tuhan terhadap umat-Nya. "Ketika Tuhan mencintai kita, Dia tidak mengharapkan balasan dari kita. Itulah cinta yang sempurna," katanya. Sedetik tampak sangat masuk akal, namun sedetik kemudian hati dan pikiran gue sedikit bergejolak. Teman gue yang lain sedikit menyanggah, "Jangan samain cinta sesama manusia dengan cinta Tuhan terhadap manusia. Ketinggian." Gue pun gak bisa menolak sanggahan tersebut. Di satu sisi manusia memang "diwajibkan" untuk mencinta, tapi apakah mereka tidak berhak meminta sedikit balasan dari rasa cinta yang telah ia berikan? Memang cinta itu adalah cuma-cuma alias gratis a.k.a gretong. Gak diminta bayaran. Memang manusia diciptakan serupa (secara fisik) dengan Tuhan dan kita juga sebagai umat-Nya diharuskan untuk sama secara sifat dengan-Nya. Tapi, sanggupkah kita memberikan cinta tanpa pamrih?

Belajar dari segala pengalaman gue dalam mencinta dan bercinta, udah cukup sering gue memberikan cinta (atau perasaan sejenisnya) kepada lawan jenis gue. Sayang, cuma lima orang yang matanya sedikit terbutakan oleh jahanam yang bernama cinta. Sisanya? Mereka masih sadar dan masih yakin kalau cinta tidak bisa menutup kekurangan fisik, walaupun (katanya) secara fisik kita udah mirip Tuhan. Well, bukan itu yang mau gue bahas. Okay, fokus pada titik permasalahan. Back to topic. Gue pribadi mengalami tahap dimana gue mengawalinya dengan sekedar perasaan suka. Lama-lama perasaan itu semakin tumbuh dan semakin membesar, sampai akhirnya membuncah keluar dan menyumbat semua nadi-nadi di dalam tubuh. Aliran darah yang berisi oksigen dari paru-paru menuju otak seolah tertahan. Ya... Gue (hampir) selalu pengen pingsan kalo ngeliat perempuan yang gue suka ada di seberang mata gue. Dan ketika berpapasan, jantung gue langsung bekerja keras berusaha mengirimkan darah menuju kepala. Tapi, nadi gue bener-bener tersumbat. Alhasil, gue cuman bisa cengar-cengir gak jelas. Ya, itu semua akibat otak gue yang kekurangan oksigen. Beberapa sel otak gue sepertinya mati dan meninggalkan gue dengan ekspresi aneh ketika bertemu sang lawan jenis. Eh... Ini kok malah curhat, sih? Shit.. Ganti paragraf.

Intinya adalah, ketika gue suka sama perempuan dan perasaan itu semakin bertumbuh, pasti ada sesuatu yang berubah dari sikap gue. Segala perhatian pastinya gue fokuskan cuma buat dia. Tapi, apa yang terjadi ketika dia gak membalas perasaan gue yang udah tumbuh sedemikian besar? Gue pasti kecewa. Gue pasti marah dan gak terima. Dalam hati, gue pasti akan mencak-mencak, "Dengan segalanya yang udah gue korbankan dan lo masih gak melirik gue sedikit pun? Dan lo malah milih cowok-cowok berotot bertampang gay? WHAT THE FUCK, GIRL..!!" Ya. Itu adalah gue yang sedang kecewa dan gue bilang itu sangat manusiawi. Mencintai tanpa dicintai? Seriously, are you joking?

Gue adalah penganut mencintai harus dicintai, cinta harus memiliki. Gue beranggapan bullshit kalo cinta itu tak harus memiliki. Well, seiring perjalanan gue, akhirnya gue harus berani merubah paradigma gue. Perubahan pandangan gue berawal ketika gue sadar gue sangat menyukai dan menyayangi seorang perempuan. Seorang yang spesial di hati gue. Dia ada di tempat khusus di dalam hati dan pikiran gue. Gue sempat berpikir, gue harus "jadian" sama dia. Tapi, waktu tidak menyetujuinya. Perasaan gue berkembang terlalu besar. Perasaan sayang dan cinta gue untuknya tiba-tiba merubah gue secara total. Ketika seharusnya jantung gue bekerja keras memompa darah menuju otak, kali ini dia berdegup dengan santai. Saat gue berada di dekatnya, gue merasa sangat nyaman. Perasaan cinta yang gue berikan untuknya memang tidak berbalas, namun gue gak menuntuk untuk dibalas. Aneh.. Emosi gue teredam.

Sampai sekarang, perasaan itu masih ada dan masih terpendam jauh di pojok otak kecil gue di sebelah kanan gang sampe mentok portal, baru belok kiri. Gue gak memendam, tapi teredam seperti yang gue bilang di paragraf sebelumnya. Di kasus ini, jujur gue setuju dengan pendapat teman gue yang mengatakan bahwa perasaan itu tidak bisa dikungkung status "pacaran" atau "jadian". Perasaan sayang dan cinta itu universal, jangan dikotak-kotakkan dengan sebuah ikatan. Karena terkadang status cuma dijadikan legalisasi gandengan, ciuman, dan grepe-grepe. Shit..!! I definitely don't agree with that. Mencintai tanpa menuntut balik. Ya, gue sudah sampai di posisi itu.

Dari yang udah gue rekam dari pembicaraan kemarin, sebenarnya gue pribadi cuma menuntut kepastian. Ketika gue menyatakan sebuah perasaan, gue cuma meminta sebuah respon. Persetan dengan respon tersebut. Kalau dia sayang sama gue, puji Tuhan. Kalau nggak, ya setidaknya gue udah menyatakan. Intinya kan cuma itu, bukan? KEPASTIAN. Terikat status atau tidak, itu masalah belakangan. Selama keterikatan lo terhadap status cuma buat cipok-cipokan, ya itu urusan lo. Tapi, ketika lo gak terikat status apapun tapi lo bisa saling mencinta tanpa ada maksud melucuti baju pasangan lo, kenapa nggak? So, kesimpulan gue adalah status itu memang gak perlu. Tapi ungkapan perasaan disertai dengan sedikit kepastian dari perempuan/laki-laki yang lo berikan perasaan lah yang menurut gue sebuah keharusan. Jujur, lo kira gue jemuran bisa lo gantung seenaknya? Makanya, nyatain perasaan lo keburu telat. Perkara jadian atau nggak, itu urusan belakangan. :)

Tanpa Emosi Di 19:29

18:52. Reski duduk sendiri di meja bundar. Di sampingnya berdiri sebuah tempat sampah yang baru dikosongkan oleh seorang petugas kebersihan berseragam biru kotak-kotak. Reski meminta sebuah asbak untuk menaruh batang rokok yang telah terbakar. Punggung tangannya memperlihatkan sebuah luka bakar dan sayatan pisau. Luka yang yang ingin ia hapuskan. Luka yang terus menerus mengingatkannya pada sebuah memori buruk beberapa tahun sebelumnya. Sebuah botol bir dingin berdiri di sebelah buku jurnalnya, basah akibat pertemuan fisik sebuah kesepian dalam ruang dingin dengan kehangatan udara di luar, namun muram. Keringat gugup yang seolah menyambut keramaian. Sebuah paksaan untuk menelan keberaturan.

Reski dua kali menghisap rokoknya dan kembali menaruhnya di lengkungan asbak kuning, membiarkannya menyala dan berasap. Nyalanya tak mampu menerangi kesendirian dan asapnya malah semakin menyesaki pikirinannya yang kalut. Jurnal itu dibuka dan lembaran kertas putih bergaris sekonyong-konyong menatap penuh tanya, apakah ia siap dibelai halus oleh cinta dan kelembutan atau diperkosa dengan kasar, penuh nafsu keji. Reski hanya bisa membalas tatapannya. Ia sendiri pun masih bimbang. Kegalauan terkuak dari ranah imajinasinya. Tangannya tidak lagi menggenggam botol hijau. Kali ini sebatang ballpoint biru menggantikan singgasana sang botol di tangannya. Ia mengarahkannya pada kertas kosong tersebut, bagai busur yang siap meluncurkan si anak panah. Namun Reski tak mampu juga menemukan sasaran. Ia pun bersandar pada bangku plastik putih. Membagi bebannya, berdua bersama benda mati tersebut. Kumandang adzan sedikit menenangkan hatinya. Matanya terpejam. Khayalnya melayang.

Rokok pertamanya telah terbakar habis meninggalkan abu di dalam asbak kuning. Membiarkan Reski dalam keramaian yang semakin membuatnya merasa terkucilkan. Ballpoint itu masih di dalam genggamannya. Tangannya menunggu perintah dari otak. Hatinya menahan instruksi tersebut. Tempat sampah itu masih setia berdiri di sampingnya walau telah terisi bungkusan makanan ringan kosong dan kardus hotdog. Namun ia masih setia menunggu Reski dalam ketidaksinambungan hati dan pikiran. Kemanusiawian dan akal sehat mutlak dipegang Reski, tapi sikap dan keteguhan tetap terjaga oleh para benda mati. Andai budi dan kengototan mampu ia satukan. Andai saja.

Mercusuar telah tertuju pada satu objek. Terangnya lampu sorot terus menerus mengarahkan

perahu yang akan menepi. Lampu itu sesekali bergerak, menerangi perairan gela tersebut. Entah mengapa kapal itu tetap tidak bergerak. Sauhnya terus terantuk pada dasar laut hitam. Ombak yang semakin meninggi terus mengombang-ambingkannya. Namun kapal itu tetap tidak bergerak. Sang nakhoda memberikan sebuah sinyal pada mercusuar. Ia telah melihat jalan menuju dermaga terdekat. Tetap…. Ia tidak bergerak. Sang mercusuar terus setia meneranginya di dalam gelap. Terus menunjukkan jalan menuju tempat tambatan.

Hati Reski akhirnya berubah. Dengan segenap kekuatan, ia menggerakkan alat tulis berwarna biru itu. Kertas jurnal tersebut berlaku pasrah, siap menerima perlakuan apa pun. Mata alat tulis segera menghujam sang lembaran kosong. Dan…. Kertas itu kecewa. Hujaman itu menari tanpa emosi. Tanpa perasaan. Namun, kental kebimbangan juga penuh ketulusan.

“AKU RINDU…”

Jurnal pun tertutup rapat. Reski menyudahi semuanya. Tanpa emosi di 19:29…

Insidious is a total heart-attack

Insidious berhasil memukau gue. Scene pertama film ini berhasil membuat mata gue membelalak dan napas gue tertahan di kerngkongan. Damn..!! Siapa yang bisa tahan dengan gambaran di detik-detik pertama film itu. Dengan tata suara yang sepi dan warna ruangan yang mencekam, gue udah bisa menebak apa yang akan terjadi di scene-scene berikutnya. Tanpa sadar gue, telapak tangan gue mengepal dan meremas gelas popcorn yang (untungnya) dibeli sama temen gue. Wanjeng..!!

Scene berikutnya, gue berusaha untuk mengatur napas gue supaya teratur dan mencoba mengikuti alur cerita. Gambaran umumnya sangatlah klise: sebuah keluarga bahagia baru saja menempati tempat tinggal baru, rumah baru. Dan pada akhirnya mengalami gangguan-gangguan supranatural setelah sang anak, Dalton, mengalami koma akibat terjatuh dari tangga. Fooohhh…!!! Sinting. Film ini bener-bener bikin gue harus menutup mata berulang kali ketika kamera mengambil gambar close-up atau ketika sayatan biola mulai mendenging. Dan akhirnya, temen gue gak lagi-lagi ngoper popcorn ke gue. Karena dia tahu kalau popcorn itu bakal terbuang percuma sama gue.

Kalo lo perhatikan di poster film Insidious, lo akan menemukan tulisan “from the makers of Paranormal Activity and SAW”. The makers named James Wan, the one who responsible for making us feel sick when we’re watching SAW. Di film ini, Wan tidak menumpahkan segalon darah, bahkan setetes pun. Tapi berhasil membuat gue sedikit (okay, agak sering) menutup mata dan berteriak (walau gak kayak anak perempuan). Penampilan para hantu sangat mengerikan. Mereka datang dengan timing yang tepat tanpa memberikan kita waktu untuk bersiap. Para hantu di sini bukan tipikal hantu yang ngagetin macam hantu-hantu Indonesia. Mereka tampil dengan konsisten, muncul di saat yang tepat di saat lo lagi menyeruput minuman atau ketika tangan lo sedang menyuapkan segenggam popcorn ke dalam mulut. Dan, JRENG..!!! Hantu itu muncul sambil menampilkan wajah old-school. Siapa yang tahan dengan hantu old-school? Berpakaian layaknya noni Belanda, memberikan senyuman lebar. Damn..!! I got goose-bump right now.

Paranormal Activity memang mengejutkan. Tapi, Insidious berhasil menghipnotis gue untuk rutin meremas sandaran lengan di bioskop. Beberapa wajah hantu yang diambil close-up dan gambaran makhluk aneh yang…. gila..!! Gambaran hantu ini mirip dengan film Drag Me To Hell karya Sam Raimi. Tapi lebih mencekam. Warna-warna di setiap scene hampir mirip dengan franchise SAW. Nuansa kelam dan gelap tersaji. Jalan ceritanya memang sedikit aneh di tengah-tengah ketika istilah “astral-projection” disebutkan. But, hell. Stay tune, folks. You are going to jump your ass of the chair at the last scene. Bagi yang gak kuat jantung, jangan pernah nonton ini sendirian. Bagi yang sudah terbiasa nonton film genre ini, lebih baik tonton rame-rame, karena film ini adalah hiburan paling menyenangkan dibandingkan lo nonton Scream 4 yang teramat dangkal.

My score: 8.5/10