Subuh ini, dibangunkan oleh suara pengajian menjelang adzan. Sungguh sebuah cara bangun yang sangat indah. Suara familiar di masjid seberang terus mengumandangkan ayat-ayat Quran. Sudah sejak SMA suara itu masih setia membangunkan gue dari mimpi. Ia, di seberang sana, seperti mempunyai ketetapan hati. Sebuah komitmen dlm keyakinannya untuk mengingatkan umat-Nya. Ia membayar cinta-Nya.
Suara kumandang adzan yg bersahut-sahutan dari satu masjid ke masjid yg lain berhasil memecah kesunyian pagi. Membuat riak menjelang fajar. Lampu-lampu jalanan masih menyala menerangi setiap jengkal ranah kehidupan. Suara kicau burung belum terdengar. Namun ia telah terduduk. Satu-persatu mereka memasuki ruangan kecil beralaskan karpet yg bergambar Kaabah. Wajah dan rambutnya basah. Siap berdialog dgn Sang Khalik. Kantuk masih menggelantung di lehernya. Mereka terduduk bersila, ber-salam2an dgn tangan-tangan yg dikenalnya.
Secercah senyum mendahului mentari. Seorang anak berjalan menyusuri gang kecil. Sarung motif kotak2 menutupi sekujur lehernya. Angin dingin di pagi hari terlalu kejam untuknya. Masih nampak lelah, namun pancaran sinar matanya sungguh bersemangat. Tak ingin kehilangan kesempatan berdialog dengan-Nya di hari pertama.
No comments:
Post a Comment