Negara Semenjana Bernama Kosta Rika
Football is Coming Home
Kesetiaan dan Pengabdian Jason Statham Terhadap Genre Action
Lambang Privilise Lewat Sirine
- Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas, termasuk kendaraan yang diperbantukan pemadam kebakaran. Ambulans yang sedang mengangkut orang sakit.
- Kendaraan jenazah yang sedang mengangkut jenazah.
- Kendaraan petugas penegak hokum tertentu yang sedang melaksanakan tugas.
- Kendaraan petugas pengawal kendaraan KEPALA NEGARA atau Pemerintah Asing yang menjadi tamu negara.
- Petugas penegak hukum tertentu.
- Dinas Pemadam Kebakaran.
- Penanggulangan Bencana.
- Ambulans.
- Unit Palang Merah.
- Mobil Jenazah.
- Untuk membangun, merawat, atau membersihkan fasilitas umum.
- Untuk menderek kendaraan.
- Untuk pengangkut bahan berbahaya dan beracun, limbah bahan berbahaya dan beracun, peti kemas dan alat berat.
- Yang mempunyai ukuran lebih dari ukuran maksimum yang diperbolehkan untuk dioperasikan di jalan.
- Milik instasi pemerintah yang dipergunakan dalam rangka keamanan BARANG yang diangkut.
| Salah satu mobil polisi dengan lampu sirinenya |
Sekali Lagi
Keabadian Kepatuhan
Aku hadir di saat pertama kali engkau memasuki tahun pertama sekolahmu.
Aku hadir di saat kelulusan kuliahmu.
Aku hadir di saat pernikahanmu.
Aku hadir di saat engkau harus memakamkan orang tuamu.
Kini, aku hadir di sampingmu, menemanimu dengan setia di samping tempat tidur.
Aku tetap hadir di sini, walau terkadang engkau melupakan keberadaanku.
Wajahmu terlihat tua, keriput yang semakin terlihat.
Namun aku masih mengenalmu, tidak hanya sekedar wajah.
Terlihat semangat mulai meredup seiring tahun yang berlalu.
Seolah tak adil, roda waktu terasa terlalu cepat berputar.
Menggilas semua bara api kehidupanmu, namun gagal menghilangkan gairahmu.
Sayang... Badanmu sudah tak mampu menampung luapan gairah.
Engkau terlalu renta.
Janganlah takut, Kasih.
Aku tetap di sini.
Garis waktu takkan mampu menghilangkanku dari sisimu.
Aku ditakdirkan untuk selalu ada demi engkau, wahai makhluk termulia.
Engkau patut bahagia, penuh impian.
Aku patut terdiam, patuh.
Engkau patut mendapatkannya, alam semesta.
Aku patut terdiam....
Patuh...
Masih Rapuh
Di bawah hamparan cahaya kuning temaram, gue terduduk merapatkan punggung ke tembok putih yang tertutup lembaran-lembaran poster. Gue masuk, terjebak mungkin lebih tepat, dengan situasi aneh yang belum pernah gue alami sebelumnya. Pengalaman gue yang terdahulu sudah mengajarkan untuk tidak terlalu berharap banyak dan terlalu mempercayai perasaan yang kerap menutup logika. Dulu harapan-harapan itu gue bentuk sendiri. Gue membuatnya dari awal, yang perlahan-lahan akan menjadi bangunan kokoh. Namun kerap kali pula bangunan itu masih setengah terbangun dan gue harus menghancurkannya. Rata dengan tanah. Terkadang gue harus hentikan kala dia masih rapuh, hanya supaya mudah gue rubuhkan sampai tak tersisa bahkan puing-puingnya yang terkecil. Gue selalu mempersiapkan hati dan diri untuk menerima segala keadaan.
Sekarang gue menghadapai sebuah masalah (bukan masalah mungkin, tapi lebih kepada dilematika yang terus kebawa mimpi) yang sedikit mempengaruhi segala persepsi gue sedari awal. Pertama-tama gue udah memutuskan untuk tidak membangun sebuah fondasi di tempat tersebut. Gue sedikit, bisa dibilang, terobsesi untuk menempatkan sebuah tiang pancang besar di tempat lain. Namun setelah tiang pancang tersebut berdiri dan payung harapan mulai berkembang, tanpa gue sadari seseorang telah masuk ke salah satu ruang kosong tanpa izin. Di sana, sosok tersebut mulai membangun sebuah harapan maya. Gue masih ragu untuk bisa menyebutnya nyata. Keraguan ini muncul karena tidak adanya fondasi yang mengikat dasar harapan tersebut. Ibarat seperti tenda yang Cuma menancapkan pancang-pancangnya yang pendek ke dalam pasir. Tapi, gue memutuskan untuk meneruskan sebangun harapan tak berfondasi ini.
Ikatan-ikatan kecil yang terjalin mulai merapatkan gue. Sebuah perasaan yang gak tau darimana datangnya semakin menyesakkan dada, namun terasa sedikit menusuk jantung. Luka-luka kecil seolah menjadi penanda, tapi gue menganggap itu adalah pertanda. Gue lagi-lagi harus menyiapkan segala kemungkinan. Ekspektasi baik dan buruk udah ada di kepala dibarengi dengan akibat-akibatnya di depan mata.