Keep It Going
Siapa Masuk Surga…?
Seorang muda yang duduk di barisan tengah berdiri sambil memegang microphone dan bertanya kepada Romo. Saya masih ingat dengan jelas apa yang ia tanyakan dan nyatakan saat itu, “Romo. Menurut Konsili Vatikan, dikatakan bahwa ada keselamatan di luar gereja. Apakah itu benar? Kalau itu benar, maka saya adalah orang pertama yang menolaknya. Terima kasih.”
Wow. Saya terkesima dengan pernyataan tersebut. Orang muda tersebut, yang secara kebetulan ternyata adalah teman saya di lingkungan gereja, berani membuat sebuah pernyataan yang menentang Vatikan. Umat peserta sedikit geger. Mereka berbisik-bisik menanggapi perkataan barusan, sedangkan bapak di sebelah saya hanya bisa terkekeh. Namun, yang menjadi masalah adalah, benarkah tidak ada keselamatan di luar gereja? Atau kalau mau lebih disederhanakan lagi, benarkah tidak ada keselamatan di luar agama Katolik? Kemanakah perginya roh/jiwa para penganut agama lain di luar Katolik ketika mereka mati? Ke neraka, ke surga, atau malahan tidak diterima di kedua tempat tersebut? Wah, jadi arwah gentayangan, dong? Serem juga…
Saya akhirnya penasaran dengan permasalahan tersebut. Di rumah, saya langsung googling mengenai Konsili Vatikan II mengenai pernyataan tersebut dan saya mendapati bahwa memang Konsili tersebut mengatakan bahwa “Ada keselamatan di luar gereja”. Tapi… “Tidak ada keselamatan di luar Kristus”. Pertama-tama, Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan UMAT MANUSIA. Tujuan Yesus yang rela lahir di kandang hewan, diletakkan di palungan, yang pada akhirnya disiksa dan mati di kayu salib adalah untuk menghapuskan dosa SELURUH UMAT MANUSIA. Di Alkitab tidak pernah tertulis mengenai misi penyelamatan Yesus hanya untuk umat Kristen saja.
Kedua-dua. Saya sempat berkonsultasi dengan teman saya melalui twitter untuk menanggapi isu ini. Dan teman saya dengan berapi-api langsung menjawab bahwa ia sebagai umat Kristen percaya, yakin, dan mengimani bahwa Yesus bukan penganut fasisme ala Adolf Hitler. Hitler membantai orang Yahudi untuk membuktikan keunggulan ras Aria, ras asli Jerman. Sedangkan Yesus, Dia pernah berjanji untuk menyelamatkan orang Yahudi dan bukan Yahudi, bersunat ataupun tidak bersunat. Janji tersebut tetap kita pegang dan kita hayati dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau kita mau teliti lebih jauh lagi, agama kita, yaitu Katolik, mempunyai definisi yang luar biasa. Definisi dari Katolik adalah UNIVERSAL. Tidak berbatas, tidak terbatas, tidak terkotak-kotakkan, dan tidak membeda-bedakan. “Datanglah kepada-Ku, kamu yang haus dan lapar,” kata Yesus dalam suatu kesempatan. Teman saya sekali lagi menandaskan dan menegaskan dengan keras, “Yesus bukan penganut fasisme.”
Dari penjelasan Konsili Vatikan II ditambah komentar teman saya nan berapi-api, akhirnya saya semakin percaya bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, tanpa pengecualian. Tapi, jangan senang sambil senyam-senyum dulu. Yesus hanya menyelamatkan mereka yang BERKENAN kepada-Nya dan bagi mereka yang tidak berkenan kepada-Nya maka akan dilempar ke dalam api abadi. Sekarang, tergantung Anda, mau masuk Surga atau Neraka jahanam.
Sudahkah?
Belum lama ini saya menonton sebuah film yang berjudul “Crossing Over”. Film yang dibintangi Harisson Ford, ini mengisahkan perjuangan para pengungsi dari negara Meksiko yang sedang, akan, dan telah melintasi perbatasan untuk mencari penghidupan dan kehidupan yang lebih baik di negara adidaya Amerika Serikat. Setelah selesai menonton film ini, ingatan saya langsung beralih kepada nasib para pengungsi di negara kita tercinta, Indonesia.
Terakhir yang masih sedikit terngiang di ingatan kita adalah sebuah bencana alam massif yang menimpa kita, yaitu meletusnya Gunung Merapi di Jawa Tengah. Begitu besarnya letusan gunung tersebut, sehingga banyak sekali warga yang pada akhirnya memutuskan untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Mereka yang tinggal di sekitar kaki gunung, berbondong-bondong turun mencari tempat perlindungan yang mereka rasa aman dari tiupan awan panas dan lahar dingin. Di tanggal 8 November 2010, menurut data dari sebuah situs berita online, hampir 280.000 jiwa mencari tempat perlindungan dan jumlah tersebut akan terus bertambah setelah pemerintah memperluas zona bahaya. Sayangnya, mereka yang mencoba untuk bertahan hidup dari bencana ini pun seolah terlupakan. Di tempat pengungsian, nasib mereka pun terkatung-katung. Tempat pengungsian yang seharusnya menjadi tempat yang mampu membuat perasaan aman malah menjadi kebalikannya. Kurangnya perhatian dari pihak berwenang meningkatkan garis depresi. Sikap acuh tak acuh pemerintah akhirnya membuat mereka memutuskan untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing, walaupun jelas-jelas Gunung Merapi masih berbahaya. Kucuran dana bermilyar-milyar dari pemerintah tidak sampai ke tangan para korban bencana alam. Hak-hak mereka terlupakan.
Kalau Anda lebih jeli melihat, seringkali kita juga membaca di media massa dan juga menonton di televise mengenai aksi-aksi penggusuran oleh sang pemegang wewenang. Rumah-rumah dihancurkan. Tembok-tembok dirobohkan. Dengan berbagai alasan mengenai “penempatan lahan milik pemerintah”, mereka dengan bambu dan traktor menghajar setiap bangunan yang masih berdiri tegak. Walhasil, para “pemilik” tempat tinggal pun harus kembali mengungsi, mencari tempat tinggal yang dirasa lebih layak. Memang jika dilihat dari satu sudut pandang, para penduduk liar tersebut secara jelas mendirikan rumah tanpa ijin, membuat rumah di bantaran-bantaran kali yang pada akhirnya dijadikan alasan sebagai penyebab banjir. Para pengungsi yang sedianya ingin mencari penghidupan yang lebih baik di ibukota pada akhirnya menjadi korban dari arogansi satu pihak.
Dalam rangka memperingati Hari Pengungsi Sedunia yang jatuh pada tanggal 20 Juni 2011, sedianya kita dingatkan kembali mengenai hak-hak para pengungsi. Tidak usahlah kita memperhatikan para pengungsi akibat perang di Irak, Palestina, atau di negara-negara Afrika yang sedang dirundung perang. Alihkanlah pandangan kita kepada para pengungsi di negara Indonesia sendiri. Nasib para pengungsi korban bencana alam Gunung Merapi, para pengungsi di Sidoarjo akibat lumpur Lapindo yang tidak berkesudahan, para petani di Kebumen yang sedang mengalami konflik dengan pihak otoritas TNI, para pengungsi di Irian Barat yang juga sedang bentrok dengan pemerintah, dan secara khusus, para pengungsi di daerah sekitar Jakarta yang mengalami penggusuran dan pada akhirnya ditelantarkan pemerintah. Tertulis jelas di Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Pasal 27 ayat 2: Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Juga di Pasal 34: Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
Sudahkah?
Legalize Ganja..!!
Letter To Them
To my beloved Brother and Sister,
Hi. How are you guys doing? I bet you’re heavenly doing good in there. Me? I’m beautifully better out here. You know what, I’ve never seen you guys for 25 years. I’ve no idea what you guys look like right now. First time I look at your picture, you’re still a baby born. Cute and simply innocent. But I’ve only saw Nic’s picture. I’ve asked our parents about Maria’s picture, but they didn’t have a chance to take it. Swear to God, I want to see your face, Sis. Well, in anyway I might could describe you from our parents story. They told me that you are as beautiful as angel. Blooming like fresh flowers in a green field. Just an unfortunate event that you were being touched by the death inside the womb. But now, I kinda grateful that you haven’t breath the air of the earth which full of filth and artificiality.
And Nic. I’ve seen your picture like I said before. A little baby, closing his eyes in concordance, seems like you enjoy the harmony. Our parents told me that you live this life for only ten minutes. Your cry was so delicate and it was fainting away. Faded inside the babies room in the hospital. Mom told me that you take your last long breath heavily and release it peacefully. When you dissolved our parents just started to cry without mourning your disappearance. They know it rather be like that. They also said that your eyes are blinking once and seeing our father who was holding you in his arms. That’s the best experience since my birth in his life, he said, to see you staring into his eyes for two seconds away. Then you close your eyes… forever. “He is a handsome boy if he lives now,” our dad said once.
Nicholas and Maria. If I may, I would call you guys by Nic and Mary. Shorter and more intimate for me. And probably will waste some spaces if I write your real name in this letter. Hahaha.. Kidding. But, really. Your nick name was made when I was in junior high. By me of course, you shouldn’t have asked that though. J
Nic. Mary. Honestly, I miss you both. Never understand why I can miss two persons which I never met before, but I really feel that something is missing when I sleep alone in my room. When I want to tell some story about my life in the afternoon. When I want to share about the girl that I like. About the first time I smoke cigarettes. About the first time I smoke ganja (in this case, both of you could have punch me in the face). About any rebellions that I did in my life. I don’t exactly know how does it feels to be hugged by you two in my sleep. For your information, guys. I think I have dreamt about you. Suddenly in my dream, there’s a stranger come by and holding a board written “Nicholas” and “Maria”. Under that, it said “What’s up lil’ brother”. And I didn’t even recognize you or translate that vision. But I guess I remember your face. Nic has the face of mom and the eyes of dad. But Mary was as beautiful as mom. God, if only I can meet you again sometimes. I will hold you and kiss you. Either way, I could just start wishing that we can talk and having a long conversation about anything or everything. About the girls that I love or another. If only.
Of all that. I miss you. We’re bound in blood. Only faith that cannot make us living together under the same roof.
Your lil’ brother,
Andre
Tertuju Untukmu
Dear Perempuan yang sedang duduk di pojok ruangan,
Apa kabar? Gimana kerjaan, Lin? Sekarang udah dapat kerjaan baru, ya? Eh, lo tau gak seeehhh. Gue tuh banget pengen ngobrol sama lo. Tapi, dikarenakan muka lo tuh sering banget jutek dan sok serius. Gue jadi agak-agak takut kalo ngajak ngobrol lo. Takut dimarahin. Sadar gak sih, kalo gue sering banget jadi bahan pelampiasan “amarah” lo. Hehehe… Setiap kali ketemu, walaupun dengan senyum tersirat di muke lo, ujung-ujungnya pasti lo marah-marah. Gue gak tau sebabnya. Atau mungkin karena gue memang sering nyela lo? Jadi, lo ngerasa kalo gue adalah orang yang pas buat di omelin. Gue sih terima-terima aja kalo dijadikan bahan pelampiasan stress lo yang udah menumpuk, tapi jangan sering-sering, lah. Capek, tau. Hahaha.. Tapi, gak kenapa. Gue malah jadi ngerasa makin deket sama lo. Seperti ada chemistry di antara kita (ciaelah…).
Ngomong-ngomong soal chemistry, gue mau jujur sama lo. Pertama kali kita ketemu, yang gue gak ingat kapan, di saat itulah juga gue suka sama lo. Gue gak tau kenapa. Kalo boleh jujur, sebenarnya gue pertama kali gak tertarik dengan muka lo, karena muka lo itu biasa aja (dan gue siap-siap digaplok seandainya surat ini beneran sampai ke lo J). Eits, jangan marah dulu. Gue tuh bisa tertarik sama lo karena kepribadian lo yang sedkit nyeleneh. Sedikit campuran antara sikap kekanak-kanakan dan pemikiran yang dewasa. Ada di saat lo bener-bener tertekan gara-gara kerjaan lo atau baru dimarahin sama seseorang, sifat kekanak-kanakan lo itu mendadak muncul. Sambil marah-marah dan sedikit lompat-lompat (persis kutu loncat) lo meluapkan semua kekesalan lo. Rambut pendek lo yang tergerai ikut-ikutan beraksi mengikuti gerak kepala lo dan muka lo, serius gak ada cakep-cakepnya. Semua orang yang ada di deket lo pasti dilabrak. Apalagi buat mereka yang gak sengaja nyenggol lo, andai kata-kata lo itu adalah pisau, tuh orang bisa mati termutilasi. Tapi, gue suka sama tingkah lo ketika marah. Sedikit lucu dan sepertinya lo mampu mengeluarkan segala uneg-uneg di kepala lo. Lo tampil apa adanya saat itu.
Berbeda ketika ada seseorang yang meminta saran dari lo. Lo langsung tampil anggun penuh kedewasaan dan mengatakan kalimat-kalimat yang penuh wibawa. Gue gak tau lo memang anggun dan wibawa atau cuma supaya terlihat lebih mengerti soal percintaan, yang pasti lo memang bukan Anggun C. Sasmi (barusan lawakan garing). Di luar itu semua, gue memang kagum sama pemikiran lo. Lo mampu tampil tenang di saat orang lain sedang mengalami masa-masa krisis, khususnya percintaan. Lo hadir bak seorang psikolog ternama dengan memasang kacamata frame hitam. Lo bener-bener membuat mereka percaya dengan semua buaian dari lo sehingga mereka bisa kembali menjadi tenang. Nice work.
Ngomong-ngomong soal kedewasaan, gue sebenarnya sering kali pengen ngomong langsung sama lo. Seperti di awal paragraph dari surat gue ini, gue pribadi merasa aneh kalo dekat lo. Bukan aneh karena memang lo aneh, tapi karena gue ternyata punya perasaan suka sama lo. Perasaan itu ada sejak gue ngeliat lo. Kalau gak salah, kira-kira kita ketemu baru dua tahun yang lalu. Akhirnya perasaan gue itu terus bertambah. Gue gak tau apa yang gue sedang rasakan sama lo sekarang. Yang jelas, perasaan itu lebih besar dibanding dua tahun yang lalu. Dalam jangka waktu dua tahun itu kita udah sering banget pergi bareng. Dan kebanyakan malah nonton konser musik. Gue suka selera musik lo. Gak menye-menye a la musisi Indonesia yang sok melayu. Lo malah suka dengan musik-musik yang non-mainstream. Satu lagi kecocokan yang gue temuin dari lo. Mulai dari nonton konser gratisan sampai nonton konser rock terbesar di Ancol waktu itu. Mungkin perjalanan-perjalanan itu yang membuat gue semakin yakin dengan perasaan gue sendiri. Gue selalu pengen dekat dengan lo. Seandainya gue melewati ruangan lo, gue pengen banget mampir masuk, walaupun cuma sekedar menyapa. Tapi yang terjadi adalah, gue memang masuk ruangan dan gak berani nyapa karena lo sedang menatap layar komputer dengan penuh konsentrasi. Lo seperti sedang dihipnotis sama Romy Rafael. Gak bergerak sedikit pun. Gue sering banget mengurungkan niat buat nyapa, takut kerjaan lo terganggu sama sapaan gue.
Gue gak pernah takut untuk langsung menyatakan perasaan gue ke lo. Di setiap kesempatan apa pun, gue selalu siap bilang perasaan itu ke lo. Temen-temen kita aja sampai menanyakan ke gue kapan hari H gue nembak lo. Tapi, gue selalu men-tidak-kan semua pertanyaan itu. Bukan karena gue gak berani dan gak siap. Jawaban dari segala pertanyaan itu adalah karena gue gak mau kehilangan lo. Klise memang. Namun, itulah yang sebenarnya. Gue gak mau kehilangan lo dengan tidak memiliki lo. Lo udah masuk dalam tempat paling spesial di dalam hati gue. Tempat khusus yang gak mungkin lagi ditempati oleh wanita-wanita lain.
Mungkin dengan surat ini gue bisa menumpahkan segala pikiran tentang lo, perasaan gue ke lo. Gue cuma bisa menunjukkan segala perasaan gue dengan segala tindakan gue dan gak sekedar kata-kata. Gue gak berani mengobral kata “sayang” di hadapan lo. Gue takut gak bisa memenuhi ekspektasi lo terhadap gue. Tapi, setidaknya melalui perbuatan, mudah-mudahan lo bisa menyadari itu. Setidaknya melalui surat ini juga lo bisa tahu betapa besar tumbuhnya perasaan gue terhadap lo. Betapa gue sayang sama lo. Cuma surat ini (yang seandainya bisa sampai ke tangan lo) yang mampu mengatakan apa yang telah gue alami sejak dua tahun yang lalu.