Tertuju Untukmu

Dear Perempuan yang sedang duduk di pojok ruangan,

Apa kabar? Gimana kerjaan, Lin? Sekarang udah dapat kerjaan baru, ya? Eh, lo tau gak seeehhh. Gue tuh banget pengen ngobrol sama lo. Tapi, dikarenakan muka lo tuh sering banget jutek dan sok serius. Gue jadi agak-agak takut kalo ngajak ngobrol lo. Takut dimarahin. Sadar gak sih, kalo gue sering banget jadi bahan pelampiasan “amarah” lo. Hehehe… Setiap kali ketemu, walaupun dengan senyum tersirat di muke lo, ujung-ujungnya pasti lo marah-marah. Gue gak tau sebabnya. Atau mungkin karena gue memang sering nyela lo? Jadi, lo ngerasa kalo gue adalah orang yang pas buat di omelin. Gue sih terima-terima aja kalo dijadikan bahan pelampiasan stress lo yang udah menumpuk, tapi jangan sering-sering, lah. Capek, tau. Hahaha.. Tapi, gak kenapa. Gue malah jadi ngerasa makin deket sama lo. Seperti ada chemistry di antara kita (ciaelah…).

Ngomong-ngomong soal chemistry, gue mau jujur sama lo. Pertama kali kita ketemu, yang gue gak ingat kapan, di saat itulah juga gue suka sama lo. Gue gak tau kenapa. Kalo boleh jujur, sebenarnya gue pertama kali gak tertarik dengan muka lo, karena muka lo itu biasa aja (dan gue siap-siap digaplok seandainya surat ini beneran sampai ke lo J). Eits, jangan marah dulu. Gue tuh bisa tertarik sama lo karena kepribadian lo yang sedkit nyeleneh. Sedikit campuran antara sikap kekanak-kanakan dan pemikiran yang dewasa. Ada di saat lo bener-bener tertekan gara-gara kerjaan lo atau baru dimarahin sama seseorang, sifat kekanak-kanakan lo itu mendadak muncul. Sambil marah-marah dan sedikit lompat-lompat (persis kutu loncat) lo meluapkan semua kekesalan lo. Rambut pendek lo yang tergerai ikut-ikutan beraksi mengikuti gerak kepala lo dan muka lo, serius gak ada cakep-cakepnya. Semua orang yang ada di deket lo pasti dilabrak. Apalagi buat mereka yang gak sengaja nyenggol lo, andai kata-kata lo itu adalah pisau, tuh orang bisa mati termutilasi. Tapi, gue suka sama tingkah lo ketika marah. Sedikit lucu dan sepertinya lo mampu mengeluarkan segala uneg-uneg di kepala lo. Lo tampil apa adanya saat itu.

Berbeda ketika ada seseorang yang meminta saran dari lo. Lo langsung tampil anggun penuh kedewasaan dan mengatakan kalimat-kalimat yang penuh wibawa. Gue gak tau lo memang anggun dan wibawa atau cuma supaya terlihat lebih mengerti soal percintaan, yang pasti lo memang bukan Anggun C. Sasmi (barusan lawakan garing). Di luar itu semua, gue memang kagum sama pemikiran lo. Lo mampu tampil tenang di saat orang lain sedang mengalami masa-masa krisis, khususnya percintaan. Lo hadir bak seorang psikolog ternama dengan memasang kacamata frame hitam. Lo bener-bener membuat mereka percaya dengan semua buaian dari lo sehingga mereka bisa kembali menjadi tenang. Nice work.

Ngomong-ngomong soal kedewasaan, gue sebenarnya sering kali pengen ngomong langsung sama lo. Seperti di awal paragraph dari surat gue ini, gue pribadi merasa aneh kalo dekat lo. Bukan aneh karena memang lo aneh, tapi karena gue ternyata punya perasaan suka sama lo. Perasaan itu ada sejak gue ngeliat lo. Kalau gak salah, kira-kira kita ketemu baru dua tahun yang lalu. Akhirnya perasaan gue itu terus bertambah. Gue gak tau apa yang gue sedang rasakan sama lo sekarang. Yang jelas, perasaan itu lebih besar dibanding dua tahun yang lalu. Dalam jangka waktu dua tahun itu kita udah sering banget pergi bareng. Dan kebanyakan malah nonton konser musik. Gue suka selera musik lo. Gak menye-menye a la musisi Indonesia yang sok melayu. Lo malah suka dengan musik-musik yang non-mainstream. Satu lagi kecocokan yang gue temuin dari lo. Mulai dari nonton konser gratisan sampai nonton konser rock terbesar di Ancol waktu itu. Mungkin perjalanan-perjalanan itu yang membuat gue semakin yakin dengan perasaan gue sendiri. Gue selalu pengen dekat dengan lo. Seandainya gue melewati ruangan lo, gue pengen banget mampir masuk, walaupun cuma sekedar menyapa. Tapi yang terjadi adalah, gue memang masuk ruangan dan gak berani nyapa karena lo sedang menatap layar komputer dengan penuh konsentrasi. Lo seperti sedang dihipnotis sama Romy Rafael. Gak bergerak sedikit pun. Gue sering banget mengurungkan niat buat nyapa, takut kerjaan lo terganggu sama sapaan gue.

Gue gak pernah takut untuk langsung menyatakan perasaan gue ke lo. Di setiap kesempatan apa pun, gue selalu siap bilang perasaan itu ke lo. Temen-temen kita aja sampai menanyakan ke gue kapan hari H gue nembak lo. Tapi, gue selalu men-tidak-kan semua pertanyaan itu. Bukan karena gue gak berani dan gak siap. Jawaban dari segala pertanyaan itu adalah karena gue gak mau kehilangan lo. Klise memang. Namun, itulah yang sebenarnya. Gue gak mau kehilangan lo dengan tidak memiliki lo. Lo udah masuk dalam tempat paling spesial di dalam hati gue. Tempat khusus yang gak mungkin lagi ditempati oleh wanita-wanita lain.

Mungkin dengan surat ini gue bisa menumpahkan segala pikiran tentang lo, perasaan gue ke lo. Gue cuma bisa menunjukkan segala perasaan gue dengan segala tindakan gue dan gak sekedar kata-kata. Gue gak berani mengobral kata “sayang” di hadapan lo. Gue takut gak bisa memenuhi ekspektasi lo terhadap gue. Tapi, setidaknya melalui perbuatan, mudah-mudahan lo bisa menyadari itu. Setidaknya melalui surat ini juga lo bisa tahu betapa besar tumbuhnya perasaan gue terhadap lo. Betapa gue sayang sama lo. Cuma surat ini (yang seandainya bisa sampai ke tangan lo) yang mampu mengatakan apa yang telah gue alami sejak dua tahun yang lalu.

Sang Penerjemah

Semburat senyum melengkung berhasil menghilangkan garis kerut di wajahnya

Tutur kata sopan menutup segala persepsi keangkuhan di depan mata.

Genggaman tangan nan lugas melepaskan gambaran dingin di jiwa

Gerak tubuh dan sikapnya melunturkan semua paradigma yang tercetak di kepala

Sorot mata tajam dan sayu mereflesikan segala asam dan garam yang telah berlalu


Aku…

Terkesima dengan segala pandangan yang terucap lewat bibirnya

Dengan lidah yang tegas ia berkata dan bercerita seolah tiada beban yang harus dianut.

Badannya yang kurus seolah tak mampu mempertahankan kekokohannya.

Tulang belakangnya terlalu rapuh untuk menopang segala mimpi dan khayalan yang terlalu mustahil

Kepalanya terlalu kecil untuk menampung segala dimensi yang ia bawa dalam perjalanannya


Alam semesta seolah berada dalam genggaman tangannya yang ringkih

Telapak tangan bercorak tinta

Bulu kuas yang seolah menari dengan indah dalam genggaman tangannya

Bersatu bersama sinaran kosmik.

Tak terbendung bergerak menyerang kanvas yang berdiri tegak namun pasrah, tak mampu melawan

Bukanlah upaya menguasai dunia, sebutnya

Tapi usaha menterjemahkan semesta yang tak berbatas


Namun tak mengapa

Ia terus menghujam dan menghujam dan MENGHUJAM

Ia terus menumpahkan segala emosi

Segala kekelaman

Segala kecerian

Segala semesta

Segala kesucian yang mampu ia siratkan dalam pengejawantahan


Ia seolah sedang bercinta dalam alam bawah sadar

Bergerak hendak memuaskan segala nafsunya

Bukan dalam keegoistisan

Bergerak berkeringat… Ia tumpahkan birahi


Dan ia pun selesai

Orgasme pun ia dapatkan

Sebuah karya signifikan ia persembahkan

Karya yang membuat mata dunia terbuka

Tak ada yang disembunyikan

Tak ada garis rahasia

Semua ia persembahkan untuk kita

Dengan kesederhanaan

Dalam kekhidmatan

Ialah Sang Penerjemah

Untuk Si Tukang Ejek

Setiap kali gue berpikir soal jodoh, senyuman nakal lo pasti langsung hadir di pikiran. Dengan wajah polos dan disertai dengan sikap yang sedikit kekanak-kanakan, namun diimbangi dengan pemikiran yang dewasa, lo selalu berhasil membuat gue semakin mengagumi sosok lo setiap harinya. Sering banget kita duduk berdampingan. Bertukar cerita ringan, kadang sambil bercanda saling mengejek, toyor-toyoran pun seolah menjadi pelengkap. Senyuman manis seringkali lo lemparkan sambil menggerakkan poni pendek kebanggaan lo itu. Kita juga pernah (kalo gak mau dibilang sering) berpergian berdua ke beberapa konser grup-grup musik. Dengan cueknya lo nggak pernah protes kalo dijemput atau diantar dengan motor bebek butut. Dan lo ingat gak, sih? Kita tuh pernah berhujan ria cuma demi nonton konser di daerah Palmerah? Waktu itu, gue cuma bersenjatakan jas hujan ponco biru dan lo bersembunyi dibalik ponco dan kepala lo bener-bener mepet ke punggung gue gara-gara takut kena air hujan. Demi Zeus dan dewa-dewa Atlantis, lo terlihat seperti kambing yang gak mau dimandiin. Sampai di tujuan, celana jins lo basah total. Sedangkan gue aman tentram, sama sekali gak kena air hujan. Dan muka lo sedikit kesal melihat keadaan yang kering. Cuma sepatu gue doang yang jadi korban comberan. Waktu itu senang banget bisa ngegodain lo. Tapi, akhirnya kita bisa menikmati konser musiknya. Kalo lo inget, itu pertama kalinya kita nonton konser berdua. Dengan udara yang cukup lembab karena banyaknya orang yang berkumpul di lokasi, lo terlihat sangat menikmati pertunjukan itu. Yang bikin gue bingung dan kagum, lo sama sekali nggak protes gara-gara kehujanan dan (pastinya) kebasahan gara-gara hujan. Gue sempet ketar-ketir. Takut kalo tiba-tiba mood lo berubah dan minta pulang, seperti kebanyakan perempuan yang pernah gue deketin. Tapi, lo adalah pengecualian buat gue. Lo bukan perempuan pada umumnya.

Hari-hari yang biasa seolah menjadi luar biasa. Lo selalu hadir di tengah kehidupan gue, walaupun nggak secara fisik. Melalui timeline twitter pun, lo berhasil menghibur gue dengan hebatnya. Saling bertukar ejekan yang paling sering kita lakukan. Siapapun yang memulai, pasti bakalan berbuntut panjang. Asal lo tau, gue pernah lupa makan siang dan akhirnya jam istirahat pun selesai. Gue pun mendobelkan porsi makan malam gue demi membayar hutang makan siang tadi. It’s all because of you, Nyet. Lima jam gue habiskan tanpa ada asupan gizi di siang hari. Pulang ke rumah pun dengan perut keroncongan. Teganya diri lo.. J

Dan di tengah-tengah hubungan “mesra” kita (kalau nggak mau dibilang absurd), kita ternyata juga sempat marahan. Gue lupa tanggal berapa, yang pasti itu hari Sabtu. Kita sepakat untuk nonton bareng konser Java Rockin’ Land di Pantai Carnaval, Ancol. Gue berangkat duluan karena waktu itu lo akan menjalani sidang kelulusan S1. Setelah gue menunggu bareng teman yang lain, akhirnya lo datang dengan pakaian khas para mahasiswa yang baru selesai sidang. Sambil ngobrol-ngobrol sambil mengangguk-anggukan kepala mengikuti beat musik rock, kita bener-bener gak bisa ngobrol sama sekali. Cuma sesekali saja mengomentari penampilan para performer di atas panggung. Tiba-tiba terjadilah bencana itu. Ketika lo dan gue sepakat untuk menonton di panggung yang berbeda. Lo berempat sepakat nonton Arkarna, sedangkan gue yang kurang sreg beranjak menonton Burgerkill. Di situlah gue baru sadar bahwa ternyata handphone gue mati total, lupa men-charge. DAMN..!! Demi Athena dan Apollo, gue kesel banget. Karena seharusnya kita udah janjian untuk bertemu di satu tempat yang strategis ketika seluruh performer di Java Rockin’ Land rampung. Pendek cerita, akhirnya lo gak bisa menemukan gue di tengah-tengah lautan manusia yang bubar jalan dengan kompaknya menuju pintu keluar. Begitu juga sebaliknya, gue pun gak bisa menemukan lo. Di saat itu, gue membuat salah satu keputusan terbodoh di hidup gue, yaitu meninggalkan lo untuk pulang. Emosi kemarahan lo memuncak dan meledak sampai memutuskan untuk memutuskan komunikasi dengan gue.

Sejak kejadian itu, gue merasa ada jarak yang sedikit melebar. Kita sempet diem-dieman, kurang lebih satu bulan. Gak tau kenapa, sedikit banyak itu berpengaruh. Setiap bertemu, pasti lo langsung membuang muka atau bahkan pura-pura nggak tahu kalau gue ada di dekat lo. Hmm.. Agak mengganggu pikiran gue, walaupun pada akhirnya sampai sekarang kita udah mulai ngobrol dan bercanda lagi. Tapi, itu sedikit berubah. Mungkin kejadian itu masih lo pendam di pikiran.

Sejujurnya, apapun yang udah kita lewatin, semuanya berkesan buat gue. Baik atau buruk, semuanya terpampang jelas di kepala gue. Masih ingat juga ketika dengan kerasnya lo memegang tangan gue gara-gara takut berenang di Green Canyon.Padahal itu udah pake pelampung, loh.. Udah pasti ngambang dan nggak usah takut tenggelam. Harus gue akui, gue menikmati genggaman tangan lo *big grin. Dan harus gue akui, lo wanita yang kuat dan gak gampang mengeluh. Apapun yang terjadi, lo sama sekali gak pernah melontarkan kalimat-kalimat negative soal situasi yang sedang dihadapi saat itu.

Memang kadang lo terlalu cepet ngambek, but still you’re (should be) the one for me. Dan sejujurnya, walaupun pada akhirnya di masa depan lo tidak menjadi wanita yang berdiri di samping gue saat berhadapan dengan Pastor untuk mengucap janji pernikahan, setidaknya gue punya pengalaman manis bersama lo. Walaupun sekarang lo sedang aktif-aktifnya bermesraan dengan seorang lelaki dan kerap muncul di timeline gue, setidaknya gue masih bisa menikmati senyum kekanak-kanakan dan poni kebanggaan lo itu. Walaupun pada akhirnya lo gak memilih gue untuk menjadi ayah dari anak-anak lo, setidaknya… Setidaknya gue masih bisa berdoa supaya lo mau merubah pikiran lo. Mudah-mudahan..

Ttd,

Me

NB: Gue masih belum percaya bahwa lo adik kelas gue waktu SMP di ST.

Need Help. Immediately..!!

Ada yang tahu cara mencapai daerah ini?
Gue agak bingung kalo udah masuk Jakarta Selatan..
Silakan kasih petunjuk via comment di postingan..


Jatuh Cinta Itu Biasa Saja

Cinta memang agung. Tapi, kita terlalu mengagung-agungkan jatuh cinta.
Cinta memang abadi. Tapi, kita terlalu mengabadikan jatuh cinta.
Cinta memang indah. Tapi, kita terlalu memperindah jatuh cinta.
Cinta memang buta. Tapi, kita tak perlu tersesat ketika jatuh cinta.

Find more artists like Efek Rumah Kaca at Myspace Music

Dimensi


Gelap. Kelam. Lembap.
Suasana ceria dan keadaan yang cukup membosankan bercampur menjadi satu. Tekanan situasi membuat Dimas hanya mampu menampilkan segurat garis wajah yang menyatakan senyum palsu. Terduduk di sofa panjang, di depannya tersaji sebuah pemandangan yang sudah berulangkali ia lihat. Bahkan telah diingatnya dalam palung memori terdalamnya. Seorang anak kecil yang memainkan pesawat terbang kecilnya yang baru saja ia susun, terus-menerus berlari mengelilingi ruang keluarga. Melompati sofa dan menghindari mereka yang berdiri di jalur larinya. Dimas kembali menyesap kopi. Seorang pria sambil tertawa menawarinya sekaleng minuman soda. Dimas menggeleng, menolak tawaran itu dengan menunjukkan cangkir kopinya. Lalu seorang wanita paruh baya menghampirinya sambil membawakan sepiring kecil kue tart yang ditutupi oleh lapisan coklat tebal. Dimas kali ini tak kuasa menolaknya. Sembari menaruh cangkir kopi yang hampir kosong, ia menerima piring kecil itu. Ruangan itu sangatlah ramai. Semua orang tampak menikmati suasana yang penuh keakraban. Wajah-wajah familiar terus menerus berdatangan memenuhi ruang tamu. Dimas beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang makan. Sebuah poster bertuliskan "HAPPY BIRTHDAY BOBBY" terbentang melebar dari sudut ruangan yang satu ke sudut ruangan yang lain. Sebuah kue tart putih tertutup krim putih terdiam di atas meja makan. Seorang anak terlihat menikmati suasana riuh dan ceria yang ada di sekelilingnya. Nyanyian "Selamat Ulang Tahun" pun akhirnya dimulai. Dimas ikut menyanyikan lagu itu sambil terus tersenyum ke arah si anak. Menjelang akhir dari lagu ulang tahun tersebut, Bobby, sang anak, menghirup udara dan memenuhi seluruh paru-parunya dengan udara dan menyemburkan seluruhnya ke arah lilin yang sudah dinyalakan setelah lagu dimulai. Dan berhasil. Lilin berbentuk angka tujuh itu padam dan ucapan selamat datang dari berbagai penjuru. Ayah dan ibunya, Mario dan Gisella, langsung menghujamkan ciuman ke masing-masing pipinya. Mario di pipi kanan, Gisella di pipi kiri. Dimas ikut bertepuk tangan dan berteriak girang.

Sambil berusaha menembus kerumunan orang yang mengelilingi sang anak, ia mengembangkan tangannya hendak memeluk dan mengucapkan selamat ulang tahun pada Bobby. Telah terpikirkan semua harapan dan doa yang ia tujukan dan akan ucapkan padanya. Dengan tawa yang ceria Bobby seolah menyambut pelukan hangat Dimas. Tangannya juga sudah ia bentangkan lebar-lebar. Dan semua tiba-tiba menjadi gelap. Dimas hanya mampu mendengar suara nafasnya sendiri. Tangannya masih terbentang lebar. Pikirannya bercampur dengan pertanyaan. Tersadar dengan segala kegelapan yang ada di sekitarnya, nafasnya semakin memburu. Kesunyian semakin membuatnya tidak nyaman. Para manusia di sekelilingnya menghilang tanpa jejak. Gelap. Kelam. Lembap.

Ia tak dapat melihat apa pun. Berteriak putus asa, ia menggerakkan tubuhnya mencoba menggapai apa pun, apa pun yang ada di sekelilingnya. Sia-sia. Tak ada apa pun atau siapa pun dalam ruang luas kosong, dalam dimensi lain. Dilingkupi kepanikan, ia bergerak semakin membabi-buta. Bergerak dan berharap ia tersandung sesuatu, menyentuh sesuatu, hanya untuk mengetahui bahwa ia tidak sendiri. Dan tidak ia temukan. Ia menyerah. Terjatuh bersimpuh dan menangis setelah sadar bahwa ia sendirian. Teriakan penuh kesakitan terasa tak berguna karena tak ada yg mendengarnya. Putus asa. Sendiri. Dirasuki ruang penuh kegelapan. Dibasahi air mata kekelaman. Ditutupi udara penuh kelembapan. Dimas sendiri.

The Futurist Manifesto

For your information, I didn't write this poem. I put it here because I strongly amazed by the imagination of the writer. So, please enjoy it.

F. T. Marinetti, 1909

We have been up all night, my friends and I, beneath mosque lamps whose brass cupolas are bright as our souls, because like them they were illuminated by the internal glow of electric hearts. And trampling underfoot our native sloth on opulent Persian carpets, we have been discussing right up to the limits of logic and scrawling the paper with demented writing.

Our hearts were filled with an immense pride at feeling ourselves standing quite alone, like lighthouses or like the sentinels in an outpost, facing the army of enemy stars encamped in their celestial bivouacs. Alone with the engineers in the infernal stokeholes of great ships, alone with the black spirits which rage in the belly of rogue locomotives, alone with the drunkards beating their wings against the walls.

Then we were suddenly distracted by the rumbling of huge double decker trams that went leaping by, streaked with light like the villages celebrating their festivals, which the Po in flood suddenly knocks down and uproots, and, in the rapids and eddies of a deluge, drags down to the sea.

Then the silence increased. As we listened to the last faint prayer of the old canal and the crumbling of the bones of the moribund palaces with their green growth of beard, suddenly the hungry automobiles roared beneath our windows.

"Come, my friends!" I said. "Let us go! At last Mythology and the mystic cult of the ideal have been left behind. We are going to be present at the birth of the centaur and we shall soon see the first angels fly! We must break down the gates of life to test the bolts and the padlocks! Let us go! Here is they very first sunrise on earth! Nothing equals the splendor of its red sword which strikes for the first time in our millennial darkness."

We went up to the three snorting machines to caress their breasts. I lay along mine like a corpse on its bier, but I suddenly revived again beneath the steering wheel — a guillotine knife — which threatened my stomach. A great sweep of madness brought us sharply back to ourselves and drove us through the streets, steep and deep, like dried up torrents. Here and there unhappy lamps in the windows taught us to despise our mathematical eyes. "Smell," I exclaimed, "smell is good enough for wild beasts!"

And we hunted, like young lions, death with its black fur dappled with pale crosses, who ran before us in the vast violet sky, palpable and living.

And yet we had no ideal Mistress stretching her form up to the clouds, nor yet a cruel Queen to whom to offer our corpses twisted into the shape of Byzantine rings! No reason to die unless it is the desire to be rid of the too great weight of our courage!

We drove on, crushing beneath our burning wheels, like shirt-collars under the iron, the watch dogs on the steps of the houses.

Death, tamed, went in front of me at each corner offering me his hand nicely, and sometimes lay on the ground with a noise of creaking jaws giving me velvet glances from the bottom of puddles.

"Let us leave good sense behind like a hideous husk and let us hurl ourselves, like fruit spiced with pride, into the immense mouth and breast of the world! Let us feed the unknown, not from despair, but simply to enrich the unfathomable reservoirs of the Absurd!"

As soon as I had said these words, I turned sharply back on my tracks with the mad intoxication of puppies biting their tails, and suddenly there were two cyclists disapproving of me and tottering in front of me like two persuasive but contradictory reasons. Their stupid swaying got in my way. What a bore! Pouah! I stopped short, and in disgust hurled myself — vlan! — head over heels in a ditch.

Oh, maternal ditch, half full of muddy water! A factory gutter! I savored a mouthful of strengthening muck which recalled the black teat of my Sudanese nurse!

As I raised my body, mud-spattered and smelly, I felt the red hot poker of joy deliciously pierce my heart. A crowd of fishermen and gouty naturalists crowded terrified around this marvel. With patient and tentative care they raised high enormous grappling irons to fish up my car, like a vast shark that had run aground. It rose slowly leaving in the ditch, like scales, its heavy coachwork of good sense and its upholstery of comfort.

We thought it was dead, my good shark, but I woke it with a single caress of its powerful back, and it was revived running as fast as it could on its fins.

Then with my face covered in good factory mud, covered with metal scratches, useless sweat and celestial grime, amidst the complaint of staid fishermen and angry naturalists, we dictated our first will and testament to all the living men on earth.

MANIFESTO OF FUTURISM

  1. We want to sing the love of danger, the habit of energy and rashness.
  2. The essential elements of our poetry will be courage, audacity and revolt.
  3. Literature has up to now magnified pensive immobility, ecstasy and slumber. We want to exalt movements of aggression, feverish sleeplessness, the double march, the perilous leap, the slap and the blow with the fist.
  4. We declare that the splendor of the world has been enriched by a new beauty: the beauty of speed. A racing automobile with its bonnet adorned with great tubes like serpents with explosive breath ... a roaring motor car which seems to run on machine-gun fire, is more beautiful than the Victory of Samothrace.
  5. We want to sing the man at the wheel, the ideal axis of which crosses the earth, itself hurled along its orbit.
  6. The poet must spend himself with warmth, glamour and prodigality to increase the enthusiastic fervor of the primordial elements.
  7. Beauty exists only in struggle. There is no masterpiece that has not an aggressive character. Poetry must be a violent assault on the forces of the unknown, to force them to bow before man.
  8. We are on the extreme promontory of the centuries! What is the use of looking behind at the moment when we must open the mysterious shutters of the impossible? Time and Space died yesterday. We are already living in the absolute, since we have already created eternal, omnipresent speed.
  9. We want to glorify war — the only cure for the world — militarism, patriotism, the destructive gesture of the anarchists, the beautiful ideas which kill, and contempt for woman.
  10. We want to demolish museums and libraries, fight morality, feminism and all opportunist and utilitarian cowardice.
  11. We will sing of the great crowds agitated by work, pleasure and revolt; the multi-colored and polyphonic surf of revolutions in modern capitals: the nocturnal vibration of the arsenals and the workshops beneath their violent electric moons: the gluttonous railway stations devouring smoking serpents; factories suspended from the clouds by the thread of their smoke; bridges with the leap of gymnasts flung across the diabolic cutlery of sunny rivers: adventurous steamers sniffing the horizon; great-breasted locomotives, puffing on the rails like enormous steel horses with long tubes for bridle, and the gliding flight of aeroplanes whose propeller sounds like the flapping of a flag and the applause of enthusiastic crowds.

It is in Italy that we are issuing this manifesto of ruinous and incendiary violence, by which we today are founding Futurism, because we want to deliver Italy from its gangrene of professors, archaeologists, tourist guides and antiquaries.

Italy has been too long the great second-hand market. We want to get rid of the innumerable museums which cover it with innumerable cemeteries.

Museums, cemeteries! Truly identical in their sinister juxtaposition of bodies that do not know each other. Public dormitories where you sleep side by side for ever with beings you hate or do not know. Reciprocal ferocity of the painters and sculptors who murder each other in the same museum with blows of line and color. To make a visit once a year, as one goes to see the graves of our dead once a year, that we could allow! We can even imagine placing flowers once a year at the feet of the Gioconda! But to take our sadness, our fragile courage and our anxiety to the museum every day, that we cannot admit! Do you want to poison yourselves? Do you want to rot?

What can you find in an old picture except the painful contortions of the artist trying to break uncrossable barriers which obstruct the full expression of his dream?

To admire an old picture is to pour our sensibility into a funeral urn instead of casting it forward with violent spurts of creation and action. Do you want to waste the best part of your strength in a useless admiration of the past, from which you will emerge exhausted, diminished, trampled on?

Indeed daily visits to museums, libraries and academies (those cemeteries of wasted effort, calvaries of crucified dreams, registers of false starts!) is for artists what prolonged supervision by the parents is for intelligent young men, drunk with their own talent and ambition.

For the dying, for invalids and for prisoners it may be all right. It is, perhaps, some sort of balm for their wounds, the admirable past, at a moment when the future is denied them. But we will have none of it, we, the young, strong and living Futurists!

Let the good incendiaries with charred fingers come! Here they are! Heap up the fire to the shelves of the libraries! Divert the canals to flood the cellars of the museums! Let the glorious canvases swim ashore! Take the picks and hammers! Undermine the foundation of venerable towns!

The oldest among us are not yet thirty years old: we have therefore at least ten years to accomplish our task. When we are forty let younger and stronger men than we throw us in the waste paper basket like useless manuscripts! They will come against us from afar, leaping on the light cadence of their first poems, clutching the air with their predatory fingers and sniffing at the gates of the academies the good scent of our decaying spirits, already promised to the catacombs of the libraries.

But we shall not be there. They will find us at last one winter's night in the depths of the country in a sad hangar echoing with the notes of the monotonous rain, crouched near our trembling aeroplanes, warming our hands at the wretched fire which our books of today will make when they flame gaily beneath the glittering flight of their pictures.

They will crowd around us, panting with anguish and disappointment, and exasperated by our proud indefatigable courage, will hurl themselves forward to kill us, with all the more hatred as their hearts will be drunk with love and admiration for us. And strong healthy Injustice will shine radiantly from their eyes. For art can only be violence, cruelty, injustice.

The oldest among us are not yet thirty, and yet we have already wasted treasures, treasures of strength, love, courage and keen will, hastily, deliriously, without thinking, with all our might, till we are out of breath.

Look at us! We are not out of breath, our hearts are not in the least tired. For they are nourished by fire, hatred and speed! Does this surprise you? it is because you do not even remember being alive! Standing on the world's summit, we launch once more our challenge to the stars!

Your objections? All right! I know them! Of course! We know just what our beautiful false intelligence affirms: "We are only the sum and the prolongation of our ancestors," it says. Perhaps! All right! What does it matter? But we will not listen! Take care not to repeat those infamous words! Instead, lift up your head!

Standing on the world's summit we launch once again our insolent challenge to the stars!

----------------------------------

(Text of translation taken from James Joll, Three Intellectuals in Politics)