Untuk Si Tukang Ejek

Setiap kali gue berpikir soal jodoh, senyuman nakal lo pasti langsung hadir di pikiran. Dengan wajah polos dan disertai dengan sikap yang sedikit kekanak-kanakan, namun diimbangi dengan pemikiran yang dewasa, lo selalu berhasil membuat gue semakin mengagumi sosok lo setiap harinya. Sering banget kita duduk berdampingan. Bertukar cerita ringan, kadang sambil bercanda saling mengejek, toyor-toyoran pun seolah menjadi pelengkap. Senyuman manis seringkali lo lemparkan sambil menggerakkan poni pendek kebanggaan lo itu. Kita juga pernah (kalo gak mau dibilang sering) berpergian berdua ke beberapa konser grup-grup musik. Dengan cueknya lo nggak pernah protes kalo dijemput atau diantar dengan motor bebek butut. Dan lo ingat gak, sih? Kita tuh pernah berhujan ria cuma demi nonton konser di daerah Palmerah? Waktu itu, gue cuma bersenjatakan jas hujan ponco biru dan lo bersembunyi dibalik ponco dan kepala lo bener-bener mepet ke punggung gue gara-gara takut kena air hujan. Demi Zeus dan dewa-dewa Atlantis, lo terlihat seperti kambing yang gak mau dimandiin. Sampai di tujuan, celana jins lo basah total. Sedangkan gue aman tentram, sama sekali gak kena air hujan. Dan muka lo sedikit kesal melihat keadaan yang kering. Cuma sepatu gue doang yang jadi korban comberan. Waktu itu senang banget bisa ngegodain lo. Tapi, akhirnya kita bisa menikmati konser musiknya. Kalo lo inget, itu pertama kalinya kita nonton konser berdua. Dengan udara yang cukup lembab karena banyaknya orang yang berkumpul di lokasi, lo terlihat sangat menikmati pertunjukan itu. Yang bikin gue bingung dan kagum, lo sama sekali nggak protes gara-gara kehujanan dan (pastinya) kebasahan gara-gara hujan. Gue sempet ketar-ketir. Takut kalo tiba-tiba mood lo berubah dan minta pulang, seperti kebanyakan perempuan yang pernah gue deketin. Tapi, lo adalah pengecualian buat gue. Lo bukan perempuan pada umumnya.

Hari-hari yang biasa seolah menjadi luar biasa. Lo selalu hadir di tengah kehidupan gue, walaupun nggak secara fisik. Melalui timeline twitter pun, lo berhasil menghibur gue dengan hebatnya. Saling bertukar ejekan yang paling sering kita lakukan. Siapapun yang memulai, pasti bakalan berbuntut panjang. Asal lo tau, gue pernah lupa makan siang dan akhirnya jam istirahat pun selesai. Gue pun mendobelkan porsi makan malam gue demi membayar hutang makan siang tadi. It’s all because of you, Nyet. Lima jam gue habiskan tanpa ada asupan gizi di siang hari. Pulang ke rumah pun dengan perut keroncongan. Teganya diri lo.. J

Dan di tengah-tengah hubungan “mesra” kita (kalau nggak mau dibilang absurd), kita ternyata juga sempat marahan. Gue lupa tanggal berapa, yang pasti itu hari Sabtu. Kita sepakat untuk nonton bareng konser Java Rockin’ Land di Pantai Carnaval, Ancol. Gue berangkat duluan karena waktu itu lo akan menjalani sidang kelulusan S1. Setelah gue menunggu bareng teman yang lain, akhirnya lo datang dengan pakaian khas para mahasiswa yang baru selesai sidang. Sambil ngobrol-ngobrol sambil mengangguk-anggukan kepala mengikuti beat musik rock, kita bener-bener gak bisa ngobrol sama sekali. Cuma sesekali saja mengomentari penampilan para performer di atas panggung. Tiba-tiba terjadilah bencana itu. Ketika lo dan gue sepakat untuk menonton di panggung yang berbeda. Lo berempat sepakat nonton Arkarna, sedangkan gue yang kurang sreg beranjak menonton Burgerkill. Di situlah gue baru sadar bahwa ternyata handphone gue mati total, lupa men-charge. DAMN..!! Demi Athena dan Apollo, gue kesel banget. Karena seharusnya kita udah janjian untuk bertemu di satu tempat yang strategis ketika seluruh performer di Java Rockin’ Land rampung. Pendek cerita, akhirnya lo gak bisa menemukan gue di tengah-tengah lautan manusia yang bubar jalan dengan kompaknya menuju pintu keluar. Begitu juga sebaliknya, gue pun gak bisa menemukan lo. Di saat itu, gue membuat salah satu keputusan terbodoh di hidup gue, yaitu meninggalkan lo untuk pulang. Emosi kemarahan lo memuncak dan meledak sampai memutuskan untuk memutuskan komunikasi dengan gue.

Sejak kejadian itu, gue merasa ada jarak yang sedikit melebar. Kita sempet diem-dieman, kurang lebih satu bulan. Gak tau kenapa, sedikit banyak itu berpengaruh. Setiap bertemu, pasti lo langsung membuang muka atau bahkan pura-pura nggak tahu kalau gue ada di dekat lo. Hmm.. Agak mengganggu pikiran gue, walaupun pada akhirnya sampai sekarang kita udah mulai ngobrol dan bercanda lagi. Tapi, itu sedikit berubah. Mungkin kejadian itu masih lo pendam di pikiran.

Sejujurnya, apapun yang udah kita lewatin, semuanya berkesan buat gue. Baik atau buruk, semuanya terpampang jelas di kepala gue. Masih ingat juga ketika dengan kerasnya lo memegang tangan gue gara-gara takut berenang di Green Canyon.Padahal itu udah pake pelampung, loh.. Udah pasti ngambang dan nggak usah takut tenggelam. Harus gue akui, gue menikmati genggaman tangan lo *big grin. Dan harus gue akui, lo wanita yang kuat dan gak gampang mengeluh. Apapun yang terjadi, lo sama sekali gak pernah melontarkan kalimat-kalimat negative soal situasi yang sedang dihadapi saat itu.

Memang kadang lo terlalu cepet ngambek, but still you’re (should be) the one for me. Dan sejujurnya, walaupun pada akhirnya di masa depan lo tidak menjadi wanita yang berdiri di samping gue saat berhadapan dengan Pastor untuk mengucap janji pernikahan, setidaknya gue punya pengalaman manis bersama lo. Walaupun sekarang lo sedang aktif-aktifnya bermesraan dengan seorang lelaki dan kerap muncul di timeline gue, setidaknya gue masih bisa menikmati senyum kekanak-kanakan dan poni kebanggaan lo itu. Walaupun pada akhirnya lo gak memilih gue untuk menjadi ayah dari anak-anak lo, setidaknya… Setidaknya gue masih bisa berdoa supaya lo mau merubah pikiran lo. Mudah-mudahan..

Ttd,

Me

NB: Gue masih belum percaya bahwa lo adik kelas gue waktu SMP di ST.

Need Help. Immediately..!!

Ada yang tahu cara mencapai daerah ini?
Gue agak bingung kalo udah masuk Jakarta Selatan..
Silakan kasih petunjuk via comment di postingan..


Jatuh Cinta Itu Biasa Saja

Cinta memang agung. Tapi, kita terlalu mengagung-agungkan jatuh cinta.
Cinta memang abadi. Tapi, kita terlalu mengabadikan jatuh cinta.
Cinta memang indah. Tapi, kita terlalu memperindah jatuh cinta.
Cinta memang buta. Tapi, kita tak perlu tersesat ketika jatuh cinta.

Find more artists like Efek Rumah Kaca at Myspace Music

Dimensi


Gelap. Kelam. Lembap.
Suasana ceria dan keadaan yang cukup membosankan bercampur menjadi satu. Tekanan situasi membuat Dimas hanya mampu menampilkan segurat garis wajah yang menyatakan senyum palsu. Terduduk di sofa panjang, di depannya tersaji sebuah pemandangan yang sudah berulangkali ia lihat. Bahkan telah diingatnya dalam palung memori terdalamnya. Seorang anak kecil yang memainkan pesawat terbang kecilnya yang baru saja ia susun, terus-menerus berlari mengelilingi ruang keluarga. Melompati sofa dan menghindari mereka yang berdiri di jalur larinya. Dimas kembali menyesap kopi. Seorang pria sambil tertawa menawarinya sekaleng minuman soda. Dimas menggeleng, menolak tawaran itu dengan menunjukkan cangkir kopinya. Lalu seorang wanita paruh baya menghampirinya sambil membawakan sepiring kecil kue tart yang ditutupi oleh lapisan coklat tebal. Dimas kali ini tak kuasa menolaknya. Sembari menaruh cangkir kopi yang hampir kosong, ia menerima piring kecil itu. Ruangan itu sangatlah ramai. Semua orang tampak menikmati suasana yang penuh keakraban. Wajah-wajah familiar terus menerus berdatangan memenuhi ruang tamu. Dimas beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang makan. Sebuah poster bertuliskan "HAPPY BIRTHDAY BOBBY" terbentang melebar dari sudut ruangan yang satu ke sudut ruangan yang lain. Sebuah kue tart putih tertutup krim putih terdiam di atas meja makan. Seorang anak terlihat menikmati suasana riuh dan ceria yang ada di sekelilingnya. Nyanyian "Selamat Ulang Tahun" pun akhirnya dimulai. Dimas ikut menyanyikan lagu itu sambil terus tersenyum ke arah si anak. Menjelang akhir dari lagu ulang tahun tersebut, Bobby, sang anak, menghirup udara dan memenuhi seluruh paru-parunya dengan udara dan menyemburkan seluruhnya ke arah lilin yang sudah dinyalakan setelah lagu dimulai. Dan berhasil. Lilin berbentuk angka tujuh itu padam dan ucapan selamat datang dari berbagai penjuru. Ayah dan ibunya, Mario dan Gisella, langsung menghujamkan ciuman ke masing-masing pipinya. Mario di pipi kanan, Gisella di pipi kiri. Dimas ikut bertepuk tangan dan berteriak girang.

Sambil berusaha menembus kerumunan orang yang mengelilingi sang anak, ia mengembangkan tangannya hendak memeluk dan mengucapkan selamat ulang tahun pada Bobby. Telah terpikirkan semua harapan dan doa yang ia tujukan dan akan ucapkan padanya. Dengan tawa yang ceria Bobby seolah menyambut pelukan hangat Dimas. Tangannya juga sudah ia bentangkan lebar-lebar. Dan semua tiba-tiba menjadi gelap. Dimas hanya mampu mendengar suara nafasnya sendiri. Tangannya masih terbentang lebar. Pikirannya bercampur dengan pertanyaan. Tersadar dengan segala kegelapan yang ada di sekitarnya, nafasnya semakin memburu. Kesunyian semakin membuatnya tidak nyaman. Para manusia di sekelilingnya menghilang tanpa jejak. Gelap. Kelam. Lembap.

Ia tak dapat melihat apa pun. Berteriak putus asa, ia menggerakkan tubuhnya mencoba menggapai apa pun, apa pun yang ada di sekelilingnya. Sia-sia. Tak ada apa pun atau siapa pun dalam ruang luas kosong, dalam dimensi lain. Dilingkupi kepanikan, ia bergerak semakin membabi-buta. Bergerak dan berharap ia tersandung sesuatu, menyentuh sesuatu, hanya untuk mengetahui bahwa ia tidak sendiri. Dan tidak ia temukan. Ia menyerah. Terjatuh bersimpuh dan menangis setelah sadar bahwa ia sendirian. Teriakan penuh kesakitan terasa tak berguna karena tak ada yg mendengarnya. Putus asa. Sendiri. Dirasuki ruang penuh kegelapan. Dibasahi air mata kekelaman. Ditutupi udara penuh kelembapan. Dimas sendiri.

The Futurist Manifesto

For your information, I didn't write this poem. I put it here because I strongly amazed by the imagination of the writer. So, please enjoy it.

F. T. Marinetti, 1909

We have been up all night, my friends and I, beneath mosque lamps whose brass cupolas are bright as our souls, because like them they were illuminated by the internal glow of electric hearts. And trampling underfoot our native sloth on opulent Persian carpets, we have been discussing right up to the limits of logic and scrawling the paper with demented writing.

Our hearts were filled with an immense pride at feeling ourselves standing quite alone, like lighthouses or like the sentinels in an outpost, facing the army of enemy stars encamped in their celestial bivouacs. Alone with the engineers in the infernal stokeholes of great ships, alone with the black spirits which rage in the belly of rogue locomotives, alone with the drunkards beating their wings against the walls.

Then we were suddenly distracted by the rumbling of huge double decker trams that went leaping by, streaked with light like the villages celebrating their festivals, which the Po in flood suddenly knocks down and uproots, and, in the rapids and eddies of a deluge, drags down to the sea.

Then the silence increased. As we listened to the last faint prayer of the old canal and the crumbling of the bones of the moribund palaces with their green growth of beard, suddenly the hungry automobiles roared beneath our windows.

"Come, my friends!" I said. "Let us go! At last Mythology and the mystic cult of the ideal have been left behind. We are going to be present at the birth of the centaur and we shall soon see the first angels fly! We must break down the gates of life to test the bolts and the padlocks! Let us go! Here is they very first sunrise on earth! Nothing equals the splendor of its red sword which strikes for the first time in our millennial darkness."

We went up to the three snorting machines to caress their breasts. I lay along mine like a corpse on its bier, but I suddenly revived again beneath the steering wheel — a guillotine knife — which threatened my stomach. A great sweep of madness brought us sharply back to ourselves and drove us through the streets, steep and deep, like dried up torrents. Here and there unhappy lamps in the windows taught us to despise our mathematical eyes. "Smell," I exclaimed, "smell is good enough for wild beasts!"

And we hunted, like young lions, death with its black fur dappled with pale crosses, who ran before us in the vast violet sky, palpable and living.

And yet we had no ideal Mistress stretching her form up to the clouds, nor yet a cruel Queen to whom to offer our corpses twisted into the shape of Byzantine rings! No reason to die unless it is the desire to be rid of the too great weight of our courage!

We drove on, crushing beneath our burning wheels, like shirt-collars under the iron, the watch dogs on the steps of the houses.

Death, tamed, went in front of me at each corner offering me his hand nicely, and sometimes lay on the ground with a noise of creaking jaws giving me velvet glances from the bottom of puddles.

"Let us leave good sense behind like a hideous husk and let us hurl ourselves, like fruit spiced with pride, into the immense mouth and breast of the world! Let us feed the unknown, not from despair, but simply to enrich the unfathomable reservoirs of the Absurd!"

As soon as I had said these words, I turned sharply back on my tracks with the mad intoxication of puppies biting their tails, and suddenly there were two cyclists disapproving of me and tottering in front of me like two persuasive but contradictory reasons. Their stupid swaying got in my way. What a bore! Pouah! I stopped short, and in disgust hurled myself — vlan! — head over heels in a ditch.

Oh, maternal ditch, half full of muddy water! A factory gutter! I savored a mouthful of strengthening muck which recalled the black teat of my Sudanese nurse!

As I raised my body, mud-spattered and smelly, I felt the red hot poker of joy deliciously pierce my heart. A crowd of fishermen and gouty naturalists crowded terrified around this marvel. With patient and tentative care they raised high enormous grappling irons to fish up my car, like a vast shark that had run aground. It rose slowly leaving in the ditch, like scales, its heavy coachwork of good sense and its upholstery of comfort.

We thought it was dead, my good shark, but I woke it with a single caress of its powerful back, and it was revived running as fast as it could on its fins.

Then with my face covered in good factory mud, covered with metal scratches, useless sweat and celestial grime, amidst the complaint of staid fishermen and angry naturalists, we dictated our first will and testament to all the living men on earth.

MANIFESTO OF FUTURISM

  1. We want to sing the love of danger, the habit of energy and rashness.
  2. The essential elements of our poetry will be courage, audacity and revolt.
  3. Literature has up to now magnified pensive immobility, ecstasy and slumber. We want to exalt movements of aggression, feverish sleeplessness, the double march, the perilous leap, the slap and the blow with the fist.
  4. We declare that the splendor of the world has been enriched by a new beauty: the beauty of speed. A racing automobile with its bonnet adorned with great tubes like serpents with explosive breath ... a roaring motor car which seems to run on machine-gun fire, is more beautiful than the Victory of Samothrace.
  5. We want to sing the man at the wheel, the ideal axis of which crosses the earth, itself hurled along its orbit.
  6. The poet must spend himself with warmth, glamour and prodigality to increase the enthusiastic fervor of the primordial elements.
  7. Beauty exists only in struggle. There is no masterpiece that has not an aggressive character. Poetry must be a violent assault on the forces of the unknown, to force them to bow before man.
  8. We are on the extreme promontory of the centuries! What is the use of looking behind at the moment when we must open the mysterious shutters of the impossible? Time and Space died yesterday. We are already living in the absolute, since we have already created eternal, omnipresent speed.
  9. We want to glorify war — the only cure for the world — militarism, patriotism, the destructive gesture of the anarchists, the beautiful ideas which kill, and contempt for woman.
  10. We want to demolish museums and libraries, fight morality, feminism and all opportunist and utilitarian cowardice.
  11. We will sing of the great crowds agitated by work, pleasure and revolt; the multi-colored and polyphonic surf of revolutions in modern capitals: the nocturnal vibration of the arsenals and the workshops beneath their violent electric moons: the gluttonous railway stations devouring smoking serpents; factories suspended from the clouds by the thread of their smoke; bridges with the leap of gymnasts flung across the diabolic cutlery of sunny rivers: adventurous steamers sniffing the horizon; great-breasted locomotives, puffing on the rails like enormous steel horses with long tubes for bridle, and the gliding flight of aeroplanes whose propeller sounds like the flapping of a flag and the applause of enthusiastic crowds.

It is in Italy that we are issuing this manifesto of ruinous and incendiary violence, by which we today are founding Futurism, because we want to deliver Italy from its gangrene of professors, archaeologists, tourist guides and antiquaries.

Italy has been too long the great second-hand market. We want to get rid of the innumerable museums which cover it with innumerable cemeteries.

Museums, cemeteries! Truly identical in their sinister juxtaposition of bodies that do not know each other. Public dormitories where you sleep side by side for ever with beings you hate or do not know. Reciprocal ferocity of the painters and sculptors who murder each other in the same museum with blows of line and color. To make a visit once a year, as one goes to see the graves of our dead once a year, that we could allow! We can even imagine placing flowers once a year at the feet of the Gioconda! But to take our sadness, our fragile courage and our anxiety to the museum every day, that we cannot admit! Do you want to poison yourselves? Do you want to rot?

What can you find in an old picture except the painful contortions of the artist trying to break uncrossable barriers which obstruct the full expression of his dream?

To admire an old picture is to pour our sensibility into a funeral urn instead of casting it forward with violent spurts of creation and action. Do you want to waste the best part of your strength in a useless admiration of the past, from which you will emerge exhausted, diminished, trampled on?

Indeed daily visits to museums, libraries and academies (those cemeteries of wasted effort, calvaries of crucified dreams, registers of false starts!) is for artists what prolonged supervision by the parents is for intelligent young men, drunk with their own talent and ambition.

For the dying, for invalids and for prisoners it may be all right. It is, perhaps, some sort of balm for their wounds, the admirable past, at a moment when the future is denied them. But we will have none of it, we, the young, strong and living Futurists!

Let the good incendiaries with charred fingers come! Here they are! Heap up the fire to the shelves of the libraries! Divert the canals to flood the cellars of the museums! Let the glorious canvases swim ashore! Take the picks and hammers! Undermine the foundation of venerable towns!

The oldest among us are not yet thirty years old: we have therefore at least ten years to accomplish our task. When we are forty let younger and stronger men than we throw us in the waste paper basket like useless manuscripts! They will come against us from afar, leaping on the light cadence of their first poems, clutching the air with their predatory fingers and sniffing at the gates of the academies the good scent of our decaying spirits, already promised to the catacombs of the libraries.

But we shall not be there. They will find us at last one winter's night in the depths of the country in a sad hangar echoing with the notes of the monotonous rain, crouched near our trembling aeroplanes, warming our hands at the wretched fire which our books of today will make when they flame gaily beneath the glittering flight of their pictures.

They will crowd around us, panting with anguish and disappointment, and exasperated by our proud indefatigable courage, will hurl themselves forward to kill us, with all the more hatred as their hearts will be drunk with love and admiration for us. And strong healthy Injustice will shine radiantly from their eyes. For art can only be violence, cruelty, injustice.

The oldest among us are not yet thirty, and yet we have already wasted treasures, treasures of strength, love, courage and keen will, hastily, deliriously, without thinking, with all our might, till we are out of breath.

Look at us! We are not out of breath, our hearts are not in the least tired. For they are nourished by fire, hatred and speed! Does this surprise you? it is because you do not even remember being alive! Standing on the world's summit, we launch once more our challenge to the stars!

Your objections? All right! I know them! Of course! We know just what our beautiful false intelligence affirms: "We are only the sum and the prolongation of our ancestors," it says. Perhaps! All right! What does it matter? But we will not listen! Take care not to repeat those infamous words! Instead, lift up your head!

Standing on the world's summit we launch once again our insolent challenge to the stars!

----------------------------------

(Text of translation taken from James Joll, Three Intellectuals in Politics)

Ketika Kami Di Merapi

(Sebelum lo baca blog gue ini, gue cuman pengen menjelaskan bahwa gue menulis cerita berikut tanpa berdasarkan runutan waktu. Gue menulis sesuai dengan pengalaman dan memori yang paling nyantol di kepala gue.)

Sekilas gue melihat kehancuran di setiap daerah yang sempat gue kunjungi di sekitar merapi. Pohon-pohon yang patah akibat panasnya abu vulkanik dan rumah-rumah yang rubuh akibat hantaman dahsyatnya kekuatan erupsi. Beberapa petani juga terlihat membersihkan sisa-sisa tanaman pertanian yang hancur hampir tak tersisa. Pohon-pohon salak berwarna kelabu akibat tertutup abu vulkanik, rata dengan tanah. Pohon kelapa yang biasanya gagah berdiri walau ditiup angin kencang, kali ini menyerah, menguncup akibat terpaan awan panas. Lahan pertanian yang seharusnya telah berhiaskan padi yang merunduk kali ini terbaring mati. Dusun yang biasanya ramai dengan warganya menjadi terkesan sepi dan mencekam. Sebagian dari rumah para warga yang selalu menawarkan kehangatan dan keramahan tertutup rapat. Beberapa malah hancur dan banyak lainnya yang rata tak berbekas. Efek kehancuran yang begitu massive.

Perjalanan pertama gue mengantarkan bantuan sumbangan yang dikumpulkan sementara di kediaman Rm. Eko adalah menuju Posko di salah satu dusun. Tapi, jangan ditanya itu di daerah mana karena nama-nama dusun, desa, atau kecamatannya belum familiar di telinga kota gue.

Dengan Isuzu Elf, gue menjadi saksi mata “kekejaman” abu vulkanik dari puncak Gunung Merapi. Jalan-jalan besar yang gue lalui hampir seluruhnya tertutup debu putih yang memerahkan mata dan menyesakkan dada. Mobil-mobil dan motor-motor yang terparkir di sisi jalan tertutup dengan debu putih. Beberapa toko, restoran, dan warung makan memilih untuk menggantungkan tanda bertuliskan “tutup”. Traffic light di beberapa lokasi tidak dapat beroperasi, terselubungkan debu putih. Beberapa warga sengaja mengalirkan air demi mengurangi intensitas debu yang berterbangan di jalan. Sesampainya gue di dalam sebuah kota, kalau tidak salah Muntilan, warga setempat membersihkan lumpur yang menutupi jalan dengan bekerja sama bersama tentara-tentara TNI. Dengan hanya bermodalkan sekop kecil dan cangkul, mereka mencoba mengeruk lumpur-lumpur tebal yang telah mengeras seperti semen di sisi jalan. Dan akhirnya gue menemui seorang cowok berbaju koko dilengkapi sarung bermotif kotak-kotak dan berkopiah hitam. Sebuah tas tergeletak begitu saja di sampingnya. Ia bergerak seolah sedang mengatur lalu lintas sambil menunjuk-nunjuk ke seberang jalan. Namun, kedua kalinya gue melintasi jalan yang sama untuk pulang ke Temanggung, gue menyaksikan dia sedang mengganti pakaiannya di pinggir jalan dengan kepala yang dihiasi karet gelang, melingkar dari dahi sampai ke belakang kepalanya. Kali ini, hati gue tidak bisa tertawa bahkan tersenyum ketika melihatnya. “Dia kena gangguan mental, kemungkinan harta bendanya habis tersapu erupsi Merapi,” ujar mas Janto, adik dari Romo Eko. Kali itu, gue gak bisa berkomentar apa-apa.

Jalan-jalan menanjak licin akibat pasir vulkanik (harap dibedakan antara abu vulkanik dan pasir vulkanik) menyambut kedatangan gue dan teman-teman di daerah Babadan. Gue sedikit menikmati udara pegunungan yang masih sejuk. Angin sepoi-sepoi yang berhembus meniup muka terasa sangat menyegarkan. Sawah-sawah yang tertanam padi-padi pendek berwarna hijau bagaikan permadani yang mampu membuat mata gue nggak bisa lepas untuk terus menerus memandanginya dengan pikiran kosong. Empat meter dari sawah-sawah hijau tersebut, kembali terlihat pemandangan yang sungguh menyesakkan. Buah-buah cabe tergeletak menyebar di atas tanah hitam. Beberapa masih tergantung di pohonnya, namun mengering dan berabu. Pohon-pohon bambu patah dan berserak, jatuh terendam di sungai berbatu. Bahkan sekumpulan bambu liar pun tidak dapat bertahan. Sambil meneruskan perjalanan menyusuri jalanan pedesaan sempit, warga-warga desa terlihat sudah mulai bisa bangkit dari keterpurukan. Wajah murung bercampur senyum ketika melihat kami datang seolah menyambut kami. Kendaraan kami terus-menerus berusaha mengatasi jalanan menanjak nan berpasir. Beberapa kelokan dan jembatan kami terabas. Ranting-ranting pohon tumbang yang menghalangi jalan, terlihat telah dikumpulkan rapi di sisi jalan. Pemandangan dari dalam jendela selalu berubah-ubah. Kadang hijau, kadang abu-abu. Kadang memancarkan keriangan, kadang mengundang kemurungan.

Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Turun dari mobil, gue dan teman-teman langsung dihampiri oleh penduduk sekitar. Dengan senyum tulus, mereka menyalami kami satu persatu. Tidak ada yang terlewati. Pria dan wanita, semuanya berkumpul menyambut kedatangan kami dengan hangat. Teh manis hangat pun disediakan bagi kami. Dalam obrolan, gue mendapatkan informasi bahwa tempat di mana saat ini gue duduk dan menyesap teh manis berlokasi di tiga belas (13) kilometer dari puncak Merapi. Dan lo tau bahwa zona aman yang ditetapkan pemerintah adalah sejauh lima belas (15) kilometer dari puncak Merapi? Jujur saat itu gue kaget dengan penjelasan tersebut. Ya, gue dan teman-teman masih berada di zona berbahaya. Kepala dusun dan si empunya rumah, yang untuk sementara dijadikan Posko untuk para warga, menjelaskan bahwa beberapa rumah di sekitar lingkungan mereka jebol di bagian atap akibat tidak kuat menahan massa dari pasir dan abu yang bercampur dengan air. Dua rumah tetangga mereka bahkan rubuh dan hancur. Bila kami berani naik ke tempat yang lebih tinggi lagi, seluruh rumah dan tanaman luluh lantak. Dan di kilometer lima (lima kilometer dari puncak Merapi), mereka menggambarkan bahwa lokasi itu seperti jalan tol. Lurus dan rata menuju ke bawah. Tak ada lagi yang tersisa. Beberapa rumah terisi dan tertimbun dengan pasir setinggi satu setengah meter. Banyak pula ditemukan tulang-belulang manusia dan juga hewan ternak. Gue bener-bener ngeri setelah mendengar penjelasan ini. Bisakah lo pada bayangkan bagaimana kalau rumah lo terisi dengan pasir setinggi satu setengah meter lebih? Gue yakin lo gak bakal bisa ngebayanginnya sebelum lo liat langsung.

Di lain tempat, di sebuah dusun yang terkena hembusan awan panas, gue juga ikut mengantarkan beberapa sumbangan dan bahan-bahan pokok untuk persediaan selama di pengungsian. Sesampainya di rumah salah satu warga yang ikut serta mengurusi distribusi bantuan, ia bercerita mengenai keadaan di lapangan. Menurutnya, apa pun yang diberitakan di dalam berita TV manapun dengan segala yang terjadi di pengungsian sangatlah berbeda jauh. “TV hanya memberikan berita-berita baiknya saja, seolah hanya ingin menjilat pemerintah. Sedangkan yang buruk pada akhirnya disembunyikan,” begitu kira-kira pemikiran bapak tersebut. Yah, gue gak bisa komentar banyak soal ini. Lagian, gue juga gak mau komentar juga. Soalnya emang gue gak ngerti hal-hal macam begini. Gak usah dipikirin, lah. Tapi, si bapak tersebut juga bercerita mengenai hal-hal yang positif. “Saya ini adalah salah satu pengurus Partai Merah. Tetangga saya di sebelah sana adalah pengurus Partai Biru. Dan kami untuk sementara mengkesampingkan perbedaan politik dan agama untuk bekerja sama menolong

sesama,” ujarnya sambil menghisap Gudang Garam-nya perlahan. Gue sengaja gak ngasih nama partai-partai yang disebutkan beliau. Bukannya alergi, tapi tulisan gue bebas dari urusan politik walaupun itu cuma nama partai doang. Setelah menaruh barang-barang di rumah bapak tersebut untuk disalurkan kepada yang membutuhkan, gue dan teman-teman berjalan menuju Kepala Dusun terdekat untuk menanyakan data-data mengenai pengungsi, korban, dan hal-hal terkait lainnya dengan bencana tersebut. Dalam perjalanan menuju ke sana gue kerap kali melihat seluruh atap rumah di dusun tersebut tertutup dengan abu tebal. Dedaunan di semua pohon terselimutkan debu. Tidak sedikit juga pepohonan yang tumbang. Dan di setiap langkah kaki, gue sama sekali tidak menginjak tanah merah, melainkan abu dan pasir tebal yang telah bercampur dengan air. Bisa dibilang, seluruhnya terselubung dengan abu dan pasir. Sesampainya di rumah Kepala Dusun, kami disambut dengan segala kesederhanaan. Tampak tiga orang anak sedang menikmati sore hari dengan menonton kartun di TV. Yah, lebih baik dibandingkan menonton berita-berita hiperbola yang menyesatkan. Sang Kepala Dusun pun selalu menjawab apa pun yang ditanyakan kepadanya. Mulai dari data pengungsi, kebutuhan mereka, dan seterusnya. Setelah puas dengan jawaban-jawaban yang kami dapat, akhirnya kami undur diri. Perjalanan lalu kami lanjutkan menuju Posko pengungsi, tidak jauh dari dusun. Sekitar lima belas menit kami menyusuri jalan dengan menggunakan mobil pick-up. Tiba di lokasi, gue melihat sebuah rumah yang cukup besar, tapi tidak cukup besar untuk menampung para pengungsi. Seingat gue, awalnya ada seratusan pengungsi yang menginap di rumah itu dan sekarang berkurang menjadi sekitar tujuh puluhan karena mereka memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing untuk melihat keadaannya atau membersihkannya bila dimungkinkan.

Gue juga ingat dengan pengalaman gue ke (lagi-lagi gue gak yakin dengan nama desa atau dusun tersebut, sebut saja…) Jarakan. Jarakan inilah yang terletak di tiga belas kilometer dari puncak Merapi. Gue sudah cukup bercerita banyak soal ini. Tapi, ada sebuah cerita yang lucu sekaligus mengenaskan ketika kami mengobrol sambil menyeruput teh panas dan menghisap rokok. Ketika Sang Wedhus Gembel turun dengan kecepatan sedemikian rupa, seorang warga dari dusun setempat mengalami kepanikan yang luar biasa. Di tengah kepanikan tersebut ia teringat kepada anaknya yang masih tertidur di kamar. Dia langsung menghambur ke dalam kamar anaknya dan bermaksud menggendong anaknya yang tergolong masih balita kemungkinan. Ia pun masih sempat memasukan bantal yang digunakan anaknya untuk tidur ke dalam lemari pakaian. Setelah memastikan si anak tertata rapi di punggungnya dengan diikat selendang, ia pun langsung berlari ke dataran rendah menuju tempat pengungsian. Sesampainya di tempat pengungsian, setiap orang memandangnya dengan heran. Akhirnya ia tersadar setelah mencoba menurunkan si anak dari gendongan di punggungnya. Ternyata, ia membawa bantal untuk tidur si anak dan malah memasukkan si anak ke dalam lemari pakaian. Si warga pun langsung berlari kembali naik ke atas menuju rumahnya untuk mengambil anak balitanya. Cerita selanjutnya, tidak ada lagi yang mengetahui nasib keduanya. Cerita “lucu” lainnya adalah, adanya sebuah saran petunjuk dari seorang petuah. Bahwa binatang lebih mengetahui dan mempunyai insting untuk “meramalkan” bencana yang akan terjadi dan memiliki cara untuk mengantisipasinya. Caranya adalah dengan mengikuti macan-macan Merapi yang turun dari lereng gunung. Kemana mereka pergi, ikuti perlahan-lahan dari belakang. Niscaya itulah tempat yang paling aman yang

bisa ditinggali. “Tapi, ada seorang tua yang tinggal di dekat dusun ini. Begitu melihat si macan yang keluar dari hutan di kaki Merapi, langsung “pek”! Pingsan seketika,” ujar si bapak pemilik rumah yang langsung disambung dengan derai tawa.

Lain lagi dengan Posko di daerah Suketi. Di posko inilah pertama kalinya gue menyaksikan dengan mata kepala sendiri kehancuran yang diakibatkan oleh kekuatan alam. Pertama kalinya juga gue menyaksikan tumbangnya pepohonan dan atap-atap yang tertutup debu tebal. Seluruhnya berwarna kelabu. Ketika kami diterima oleh salah satu pemilik rumah di dusun tersebut (dan seperti biasa, gue dan teman-teman disuguhi teh manis. Obrolan-obrolan mengenai bencana dan penanggulangannya mengalir begitu saja. Ada juga sebuah cerita menarik di posko tersebut. Setelah meletusnya Gunung Merapi, setiap orang seolah berlomba-lomba untuk mencari tempat untuk mengungsi. Namun, sekelompok warga yang berasal dari Boyolali berdatangan ke desa Suketi tersebut. Tentu mereka diterima dengan tangan terbuka. Dan setelah waktu terus berlalu, ada sebuah kejadian dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan masyarakat dusun tersebut. Bukan bermaksud untuk menyamaratakan seluruh warga di tempat tertentu. Ternyata sekelompok warga Boyolali belum terbiasa untuk buang hajat di MCK atau toilet bersih. Akhirnya mereka membuang baik air besar maupun air kecil di sembarang tempat dan menimbulkan aroma tak sedap yang hebat di sekitar Posko.

Beberapa warga Jawa masih meyakini bahwa bencana meletusnya Merapi bukanlah bencana. Mereka meyakini sebuah pandangan yang secara turun temurun diceritakan, bahwa Merapi menagih janji. Cerita yang gue dapet sekilas adalah adanya perjanjian antara pihak Keraton Yogyakarta dengan “pihak” Gunung Merapi dan “pihak” Pantai Selatan. Entah apa perjanjian

apa yang mereka buat, gue kurang mengerti dengan mereka yang bercerita dengan Bahasa Jawa. Lalu ada pula yang mengatakan bahwa ia mendengar suara ‘Jatilan’ melewati sebuah sungai besar (yang lagi-lagi gue lupa namanya). Bagi lo pada yang gak tau apa itu ‘Jatilan’, lo pada bisa cari di Google. Bagi lo yang males buka-buka Google, Jatilan itu adalah sebuah kesenian Kuda Lumping. Tau Kuda Lumping, ‘kan? Yang suka makan beling gara-gara si pengendaranya mengalami trans akibat kerasukan. Well, balik lagi ke topik. Seorang warga pada pukul dua pagi mendengar suara Jatilan melintasi sungai besar tersebut. Bagi mereka yang bisa “melihat”, konon ‘Jatilan’ tersebut beriringan berjalan bersama sekelompok pasukan menuju Gunung Merapi dari arah Pantai Selatan. Dan bagi mereka yang tidak bisa melihat, mereka akan hanya melihat lahar merah mengaliri sungai menggantikan air. Katanya, pasukan tersebut dikirim oleh Ratu Pantai Selatan menuju Gunung Merapi untuk merundingkan sesuatu bersama pihak dari Keraton. Sounds spooky, huh?

Cerita terbaru yang gue dapet adalah, sebelum dan pada tanggal 15 atau 16, menurut penanggalan Jawa, Gunung Merapi akan meletus hebat dan efeknya akan mencapai radius lima ratus (500..!!!) kilometer. Namun, bila melewati tanggal tersebut, Gunung Merapi akan kembali diam dan tidak akan meletus hebat lagi. Yah, gue sih cuma membeberkan cerita-cerita yang gue dapet. Buat hal-hal yang berbau mistik, gue gak bisa bilang gak percaya atau percaya. Inti dari cerita-cerita mistik yang gue dengar adalah, alam membutuhkan sebuah keseimbangan. Manusia yang mengambil sebaiknya tidak lupa pada, siapapun Dia. Berikanlah apa yang menjadi hak-Nya. Bila tidak, maka alam akan mengambil seluruhnya dari kita. Bukan sebagai hukuman, namun sebagai konsekuensi dari apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Ketika kita lupa pada-Nya, kita akan diberikan peringatan untuk kembali mengingat kebesaran-Nya. Dialah pemilik segalanya. Dan ketika keseimbangan telah terjadi, maka akan tercipta sebuah harmoni yang

indah. Lagipula, Gunung Merapi toh pada akhirnya akan memberikan sebuah hadiah hebat. Tanah-tanah di sekitaran Merapi diyakini akan menjadi semakin subur akibat tersiram materi-materi vulkanik. Kehidupan petani pun akan menjadi semakin makmur. Seperti yang sering dikatakan oleh banyak orang. Di setiap bencana, pasti kita dapat mengambil hikmahnya.

Dan dari seluruh pengalaman gue yang berbekas di kepala, sebuah pemandangan hebat terjadi di hari di mana gue berkunjung ke desa/dusun/kecamatan Babadan. Pertama kali adalah ketika si bapak yang menerima kami di rumahnya, yang menyatakan “perbedaan politis yang dikesampingkan” demi menolong sesama. Lalu kedua kali, gue melihat salib tergantung di rumah yang digunakan untuk posko pengungsi. Namun, di dalam rumah itu tidak sedikit para wanita berkerudung, mulai dari anak kecil hingga dewasa. Mereka terlihat nyaman di dalam rumah. Tidak mempersoalkan salib yang tergantung di salah satu sisi tembok putih itu. Kesimpulan yang gue dapat adalah, bencana mempersatukan kita. Bencana menghilangkan perbedaan. Namun haruskah kita menunggu datangnya bencana hebat untuk sekedar melupakan segala perbedaan ras, agama, bahasa, dan pandangan politik. Kalau tidak bisa, jangan heran ketika bencana terus-menerus datang. Bukan karena kita tidak ingin bersatu, tapi justru karena alam ingin kita bersatu.

Dialog Imajiner Mbah Surip - Mbah Maridjan

Oleh: Rudi Setiawan

Mbah Surip, sedang asyik memainkan gitarnya di bawah rindang pohon Zaitun, ditepi sebuah danau yang jernih berkilauan airnya. Wajahnya kelihatan tampan dan jauh lebih muda, senyumnya masih seperti sediakala, bahkan nampak lebih cerah dan indah.

Tiba-tiba datanglah mbah Marijan diantarkan malaikat-malaikat rahmat lewat di depannya. Dengan segera mbah Surip berdiri lalu dengan takzim menyapa mbah Marijan. Lalu terjadilah dialog antara keduanya.

Mbah Surip: “Mbah Marijan, sugeng rawuh wonten panggenan punika, I Love You Full Mbah!" ( Selamat datang di tempat ini, I Love You Full mbah)

Mbah Marijan: “ Lho, sampean ugo manggen teng mriki to mbah Rip ?” (Lho, anda juga berada ditempat ini mbah Rip)

(Sambil tertawa lepas, lalu keduanya berpelukan untuk beberapa saat kemudian mereka berdua duduk berdua di bawah rindangnya pohon Zaitun itu)

Mbah Surip: "Pripun mbah, kabaripun sae-sae kemawon to?” (Bagaimana kabarnya mbah, baik-baik saja kan )

Mbah Marijan: "Alhamdulillah, apik-apik wae cuman rodok ribet titik wektu interogasi neng treteg Shirathal Mustaqim." (Alhamdulillah baik-baik saja, cuma agak sedikit ribut sewaktu proses interogasi di jembatan Shirathal Mustaqim).

(Untuk menyingkat kata dan kalimat dialog selanjutnya langsung diterjemahkan dalam bahasa Indonesia)

Mbah Surip: "Kenapa kok ribut mbah?”
Mbah Marijan: "Lha nggak tau itu para malaikat, saya dianggap tidak berhak masuk ke sini, karena dituduh syirik."
Mbah Surip: "Memangnya malaikat sudah ketularan sama manusia ya, dikit-dikit bilang sesat, dikit-dikit bilang bid’ah, dikit-dikit bilang syirik, mencaci laknatullah dan sebagainya!"
Mbah Marijan: "Lha iya malaikat kan juga hanya menilai sisi-sisi prilaku dan ibadah luar kita, sedangkan masalah hati dan jiwa kita kan yang tahu cuman Gusti Allah.” (sambil tersenyum ringan)

Mbah Surip: "Bagaimana critanya panjenengan akhirnya bisa lolos, mbah?”
Mbah Marijan: "Ya akhirnya Gusti Allah yang berfirman memerintahkan malaikat supaya memasukan saya ke sini."
Mbah Surip: "Ooo, begitu ya mbah ceritanya, I Love You Full mbah, Ha ha ha!” (mbah Surip tertawa lepas).
Mbah Marijan: "Ketika di duniapun sama, orang-orang pandai menuduh saya ini tahayul, klenik dan mistik, demikian juga orang-orang (yang merasa) ahli agama menuduh saya ini musyrik, bid’ah, sesat, saya diam saja, wong mereka kan nggak tahu apa yang tersembunyi dalam hati saya, he he he.” (mbah Marijan tersenyum lagi)

Mbah Marijan: "Mereka nggak bisa membedakan antara menghormat sebagai rasa sayang dan menghargai alam sabagai bagian dari karya agung Gusti Allah, dengan menyembah atau memberhalakan benda-benda sebagai sekutu Gusti Allah."

Mbah Surip: "Kok bisa gitu mbah?”
Mbah Marijan: "Padahal semua yang saya lakukan itu kan sebagai rasa hormat saya dan penghargaan saya terhadap alam Gunung Merapi, sebagai bagian karya agung Gusti Allah yang wajib kita rawat dan kita jaga, karena fungsi manusia itu selain menjaga khablun minallah dan khablun minannas kan juga khablun min ‘alamiin. (hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesama manusia dan hubungan dengan alam semesta) kalo dalam falsafah jawa dikenal prinsip Memayu Hayuning Bawana atau menjaga keseimbangan alam dunia ini atau dalam bahasa modernnya bersinergi dengan alam."

Mbah Surip (manggut-manggut sambil menyeruput kopi hitam yang harumnya dan lezatnya melebihi kopi hitam kesukannya sewaktu di dunia)

Mbah Marijan: "Ya itulah mbah Surip, manusia kan selalu menilai sesuatu dari sisi luarnya saja sedangkan perkara hati kan urusan kita dengan Sang Maha Tahu yakni Gusti Allah.”

Mbah Surip: “Betul itu mbah, manusia yang sok pinter dan sok suci itu sering kali lupa bahwa mereka lah yang sesungguhnya terjebak dalam kemusyrikan."
Mbah Marijan: "Iya mereka nggak sadar bahwa dengan merasa diri paling benar, paling suci, paling hebat itu sama halnya dengan memberhalakan diri sendiri atau menyekutukan Gusti Allah dengan diri mereka sendiri."
Mbah Surip : "Ha ha ha aneh memang para manusia itu mbah, wong maling kok teriak maling, wong diri mereka sendiri yang syirik kok menuduh orang lain yang syirik."

(lalu merekapun tertawa lepas)

Mbah Marijan: "Lha sampean juga kok bisa masuk kesini mbah Rip, sebab kalo nggak salah saya juga pernah dengar dari manusia-manusia yang sok suci itu, kata mereka penyanyi itu tempatnya di neraka."
Mbah Surip: "Ha ha ha, kita berdua ini sama-sama korban tuduhan para manusia yang nggak faham fungsi kemanusiaanya mbah, mereka kira ibadah itu cuman, sholat, zakat, puasa, haji, sedekah atau ibadah-ibadah ritual lainnya. Mereka memahami agama secara kaku, tekstual dan dogmatis, padahal lagu itu juga bisa kita gunakan untuk media berdakwah, berdzikir kepada Gusti Allah, kita bisa menebar virus cinta kepada sesama manusia lewat lagu dan nyanyian."

Mbah Marijan: "Ooo, berarti sampean bisa masuk kesini karena menebarkan virus cinta kepada sesama manusia lewat lagu-lagu sampean ya mbah Surip?”
Mbah Surip: "Ya kira-kira begitu menurut penilaian Gusti Allah, mbah."
Mbah Marijan: "Alhamdulillah, berarti kita berdua termasuk golongan manusia yang mampu menebarkan virus cinta tidak hanya kepada sesama manusia tetapi juga terhadap alam semesta."
Mbah Surip: “Betul mbah, I Love You Full, Gusti Allah!” (Mbah Surip kembali tertawa lepas)

Mbah Marijan: "I Love You Full juga, Gusti Allah!” (Mbah Marijan juga tertawa lepas mengiringi tawa mbah Surip).

Kemudian mereka melanjutkan perbincangannya sembari menikmati kopi-kopi hitam yang keharuman dan kenikmatannya tiada tara. Diiringi kicau-kicau merdu burung-burung yang hinggap di dahan-dahan pohon Zaitun. Dan desiran angin pagi sejuk semilir menambah indahnya pemandangan di tepi danau itu.

Doha, 28 Oktober 2010

Rudi Setiawan, Lahir, Kertosono- Jawa Timur, 02 Juni 1976 aktif menulis artikel di www.kompasiana.com, serta cerpen dan puisi yang di share lewat facebook maupun media online lainnya, saat ini sedang bekerja sebagai TKI di Doha, Qatar.
Alamat email: rudiseti@yahoo.com dan rudisetiawan1976@gmail.com